Langkah menjadi Ibu yang Dibanggakan Keluarga

Menjadi ibu tapi yang profesional? Wow, maksudnya gimana ya? Dari materi kelas Matrikulasi  IIP batch#7 Surabaya Raya 1 yang disampaikan fasilitator mbak Anik Dwi Hariyani, bahwa ibu profesional adalah seorang perempuan yang :
a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa indikator dari berhasilnya ibu profesional? So sweet ini dan harus berjuang, yaitu menjadi ibu yang bisa dibanggakan keluarga. Karena anak dan suami adalah customer utama seorang ibu di dalam keluarga. Ada tahapan untuk bisa mencapainya seperti di Komunitas Ibu Profesional (forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu), antara lain: Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Shalihah. Setidaknya itu meluaskan pandangan bahwa menjadi ibu bukanlah sekedar saja. Ada banyak proses yang harus dilalui dan dinikmati (jika kita termasuk orang yang bersyukur dan sabar).

Nah di matrikulasi ini, baru langkah awal membuat indikator profesional untuk diri sendiri, suami dan juga anak. Saatnya fokus dimulai dari diri sendiri, luangkan waktu, beri perhatian lebih pada suami dan anak. Hal apa yang membuat mereka bahagia. Tidak berkaca pada apa yang nampak dan berseliweran di media sosial atau tetangga, gunakan kaca mata kuda untuk kasus NHW#2 ini.

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

1. Indikator diri
Indikator diri ini berusaha menyeimbangkan kebutuhan ruhiyah, fisik dan otak. Untuk ruhiyah, ada poin-poin rincinya tapi di buku mutabaah yaumi supaya lebih fokus. Karena butuh dan membiasakan shalat dhuha, menghafal/murojaah ayat Alqur'an, membaca almatsurat. Tak tahu nanti, ibadah mana yang akan diterima Allah. Tapi insyaAllah list di indikator ini juga yang utama.

2. Indikator dari suami
Ketika saya tanya si dia, jawabnya ngegombal, "No need to make indicators since marrying you is a happiness." šŸ˜‚
Tapi saya tanya lagi tentang harapan atau sebaiknya saya perbaiki, hingga akhirnya muncul indikator berikut.
Meski harapan yang suami inginkan cuma satu tapi dari kemampuan saya membaca gerakan dan ucapannya, kurang lebih seperti itu yang membuatnya bahagia. Nanti dikonfirmasikan lagi sajalah.

3. Indikator dari anak
Ini juga, meraba karena anak masih usia 21 bulan. Jadi membayang dan mengangan, apa yang membuat binar matanya bahagia ataupun redup di dekat saya.

InsyaAllah ini bisa menjadi gambaran aktivitas keseharian selanjutnya. Fokus dengan laju kereta perbaikan diri. Sesekali melihat kereta lain boleh tapi bukan untuk jadi acuan. Karena acuan yang tepat adalah laju kereta diri sendiri di masa lalu, seberapa jauh melesatnya sih. Semoga tulisan ini terus menjadi pengingat diri.

Comments