Ajak Anak Melek Literasi Yuk!

Literasi menjadi salah satu kata yang mulai booming saat ini, eh atau saya yang kurang gaul saat itu ya? Tapi semoga masyarakat Indonesia semakin membuka mata terhadap literasi. 

Mengapa literasi itu penting bukan hanya untuk masyarakat Indonesia tapi khususnya diri dan keluarga? Sebenarnya literasi itu apa? Apakah hanya untuk orang dewasa saja? Bagaimana dengan literasi pada anak? Kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan literasi pada anak? Saya akan merangkum sedikit intisari kulwap Literasi Anak Usia Dini bersama Nanan Nuraini, SPsi, MSc, difasilitasi oleh Komunitas Ceria @ceritaibudananakid dan @literatcy_

Menurut definisi dari UNESCO, literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi, menciptakan, mengkomunikasikan, menggunakan materi secara tertulis dan lisan yang berhubungan dengan berbagai konteks. Literasi bukan hanya sekedar membaca dan menulis, sudah begitu saja. Tapi ternyata memiliki dampak kemampuan yang besar bagi seseorang. Bisa menjadi pembelajaran sesorang yang ingin meraih cita-cita untuk mengembangkan potensi dan pengetahuan agar bisa bermanfaat.



Terus kalau literasi pada anak usia dini bagaimana? Ternyata akan ada 6 ketrampilan dasar yang didapat dari literasi anak usia dini, apa saja?
  1. Print motivation: tertarik dan menyukai buku. Anak yang menyukai buku, akan tertarik untuk belajar membaca. Bacakan buku 15 menit setiap harinya.
  2. Kosakata: mengetahui berbagai nama benda, binatang dan sebagainya. Menghubungkan dan menggunakan kosakata yang banyak akan lebih mudah, mahir memebaca. Mahir artinya lebih mudah membaca tanpa suara, pengucapan yang jelas jika membaca dengan keras. Cara melatih print motivation dan kosakata →Bayi : membacakan buku sejak bayi, menjadikan membaca sebagai momen istimewa, membacakan buku dengan gambar wajah dan warna kontras (hitam putih), memberikan buku sebagai mainan. → Batita dan Balita : menjadikan membaca sebagai rutinitas yang menyenangkan, menceritakan gambar, membaca dimana saja, menghubungkan buku dan ceritanya dengan kehidupan, membiarkan anak memilih buku yang ingin dibaca, dan memberi contoh.
  3. Ketrampilan bercerita: kemampuan anak memahami dan menceritakan pengalaman. Hal itu membantu anak memahami struktur cerita, melatih berpikir kritis. Untuk bayi, orang tua bisa menceritakan pengalaman/kejadian sehari-hari dan perhatikan responnya. Untuk batita, menceritakan hal-hal yang sedang dilakukan, dari bangun tidur sampai tidur, tetaplah bercerita, seperti :"Rambut adik kotor, ibu cuci ya, setelah cuci rambut kita gosok apa?". Menyimak dan menjawab berbagai pertanyaan anak. Jika anak bertanya, itu apa? "Menurut adik itu apa? Kira-kira apa ya? Itu seperti yang adik lihat di rumah nenek? Iya betul, warnanya apa ya? Dia suka makan apa ya?". Tetaplah jaga komunikasi dan pancinglah anak dengan berbagai pertanyaan. Bacakan buku dengan alur cerita sederhana. Bacakan buku yang sama berulang kali, agar anak memahami alur cerita dan dapat melanjutkan cerita (ikut berpartisipasi. Gunakan buku tanpa cerita atau gambar-gambar untuk menciptakan cerita dengan anak. Untuk balita: berikan banyak waktu untuk mengobrol dengan anak. Meningkatkan pemahaman anak dengan memberikan pertanyaan dengan jawaban Ya atau Tidak. Membacakan buku dengan kalimat yang berulang. Bacakan buku yang sama berulang kali, agar anak memahami alur cerita dan dapat melanjutkan cerita (ikut berpartisipasi). Membuat buku dengan gambar juga tulisan, buatlah bersama anak. Bermain dan berimajinasi dengan anak
  4. Kesadaran akan bunyi/pengucapan: anak mampu mendengar dan bermain dengan berbagai bunyi dan kata, lebih terampil dalam mendengar dan menggunakan rima. Cara melatihnya: Berbicara dengan parentese, yaitu menggunakan intonasi yang berlebihan dan dengan pengulangan Misalnya, "Ah ya besar sekaaaaaaali ya pesawatnya? Warna apa ya pesawatnya? Oh ya merah. Eh tadi warna apa ya pesawatnya? Meeeeraaaah." Ingat berbicara dengan cara seperti ini bukan berarti jadi berbicara seperti bayi, mimi cucu, mau mimi dan sebagainya. Bagi anak yang lebih besar, bacakanlah buku yang berima, berulang dan ajaklah anak bermain 'kata'.
  5. Kesadaran akan tulisan: anak jadi tahu ada suatu tulisan, tahu cara membaca buku dari depan ke belakang, tahu urutan membaca, mengerti bahwa setiap tulisan bermanfaat. Cara Melatihnya: Bayi : Membiarkan bayi mengeksplorasi buku dan membuka halaman. Batita  : Menunjuk tulisan di sekitar, mencontohkan cara membaca buku sambil menunjuk kata demi kata, gunakan buku dengan tulisan sederhana dan bacalah bersama. Balita : Tunjuk nama penulis dan judul buku, bacakan buku sambil menunjuk kata demi kata, bermain dengan tulisan seperti berjualan , mencatat, menulis daftar belanja, saat membaca bacalah resep bersama
  6. Pengetahuan terhadap huruf: anak dapat mengenali setiap huruf memiliki bentuk dan bunyi berbeda. Cara melatihnya : Bayi : membacakan buku-buku yang berwarna, berbicara dan membiarkan bayi menggunkan mulutnya untuk mengeskplorasi buku. Batita : bermain pengelompokan bentuk, puzzle, mengenali berbagai bentuk di lingkungan, mengenalkan huruf awal dari nama anak. Balita : menunjuk berbagai huruf di lingkungan, membacakan buku alfabet, membuat huruf dengan mainan (pasir, play dough, cat, dsb).
Dari materi di atas. ada garis merahnya bahwa literasi bukan sekedar membaca huruf lalu selesai. Tapi berkaitan dengan 6 keterampilan di atas, juga harus ada ketertarikan pada buku, komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Bagaimana anak bisa jatuh cinta pada membaca jika tertarik saja tidak. 
Ada dua kendala utama dalam melaksanakan program2 literasi yaitu Delayed Gratification (D) dan Self Efficacy (SE).

D --> Saat orang tua melakukan program literasi, apakah manfaatnya langsung terlihat? TIDAK. 
Apakah orang tua akan langsung merasa senang dan puas saat membacakan buku untuk anakny? BELUM TENTU, Bisa jadi orang tua bosan, atau anak yang bosan, atau bahkan orang tua harus mengejar2 anak untuk mengajaknya membaca.
Apakah membuat anak SUKA membaca dan HOBI membaca terjadi dalam 1 jam, 1 hari, 1 minggu? TIDAK
Butuh WAKTU yang tidak sebentar untuk melaksanakan progran ini dan melihat HASILNYA.
Coba bandingkan, dengan saat orang tua BERMAIN MEDSOS, NONTON, MAKAN BAKSO. Apakah orang tua langsugn senang? langsung puas? langsung merasa SEGAR? YA
Saat orang tua main WA, ngobrol sama sahabat, curhat dengan suami, apakah orang tua langsung senang? puas? YA
Itulah yang disebut delayed gratification, saat kesenangan (gratifikasi) ditunda..
karena program literasi ini bukan hal yang INSTAN, dibutuhkan WAKTU.

Self Efficacy 
SE --> Beberapa orang tua yang tidak berpendidikan tinggi atau tidak merasa cukup mampu untuk melaksanakan program tsb, mundur sebelum mencoba. 
Penelitian menunjukan bahwa orang tua yang MAU, BERGERAK, MENCOBA lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi anak, dibandingkan orang tua yang berpendidikan, tetapi DIAM.
Perasaan merasa mampu, merasa bisa dan YAKIN akan hal tsb sangat penting untuk mensukseskan program literasi ini.
Kalau kata Teh Nunuy yang mengisi materi tersebut, "Biarlah ada orang tua yang diam, ada orang yang diam, tetapi kita semua harus BERGERAK yaa. Ciptakan pemimpin2 masa depan dengan membudayakan literasi, budaya membaca dari sekarang! Kita bantu edukasi mereka, kita bantu yakinkan mereka dengan MEMBUKTIKAN."



Comments