Kapan Waktu untuk Gawai?


Siapa yang tidak kenal gawai saat ini? Gawai adalah Bahasa Indonesia, terjemahan dari gadget. Gawai sangatlah dekat dengan keseharian hidup di zaman milenial ini. Apakah ada yang tidak merasakan manfaat dari gawai? Tentu hampir semua orang yang memiliki gadget, merasakan suatu kesan positif dari penggunaan gawai. Bermanfaat untuk memangkas jarak dalam aktivitas keseharian, bisnis, hiburan bahkan jaringan pertemanan.

Namun, terkadang manfaat gawai, sungguh melenakan. Kemudahan yang dirasakan malah menjadi boomerang yang justru berdampak kurang baik pada seorang individu. Dari situs dosenpsikologi.com, ada sebuah artikel tentang 10 dampak psikologis penggunaan gadget, antara lain
  1. ‌Mengurangi interaksi dengan orang lain‌
  2. Berpotensi menjauhkan hal-hal yang dekat
  3. Malas melakukan aktivitas lainnya
  4. Menumbuhkan sikap egosentris
  5. Penyebab waktu tidur berkurang
  6. Memicu berkembangnya konsumerisme
  7. Menurunnya konsentrasi
  8. Memicu penyakit mental
  9. Terganggunya perkembangan anak
  10. Kurangnya sosialisme dengan sekitar

Itu hanya sebagian kecil dari dampak penggunaan gawai secara berlebihan. Karena segala yang berlebihan memang tidak baik, sehingga butuh suatu pengaturan yang bijak dalam menggunakannya atau istilah biasanya adalah manajemen. Ya, seseorang yang kesehariannya sudah akrab dengan teknologi butuh suatu manajemen teknologi terutama gawai.

Mengapa butuh manajemen gawai? Agar merasakan maksimal dampak positif dengan meminimalkan dampak negatif. Merasa baik-baik saja menggunakan gawai padahal tidak sadar ada banyak hal (mungkin secara psikologis) yang menjadi akibatnya. Dalam manajemen gawai butuh komitmen, aturan, sikap, dukungan dan doa yang kuat agar lebih bijak menggunakan.

Contoh saja, manajemen gawai ala saya. Gawai menjadi salah satu godaan berat sebagai sarana hiburan disela menemani anak, LDM dengan suami dan belajar berjualan online. Bisa dibayangkan, tentu setiap hari saya tidak bisa lepas dari gawai. Pernah mencoba off seharian. Rasanya benar-benar fokus dengan pekerjaan rumah tapi di satu sisi, kurang bijak dalam komunikasi berjarak bersama suami. Dilema tapi memang harus bijak agar tidak ada yang dirugikan dan saya juga tidak menyesali keadaan. Sehingga butuh jadwal yang pasti dalam bergawai ria.

Kurang lebih begini jadwalnya:
  • ‌Jam 3, sebelum subuh. Biasanya setelah shalat malam, mengecek pesan di gawai yang penting dan juga laptop (jika ada tanggungan menulis). Waktu yang pas karena masih sunyi.
  • Jam 9, saat anak bobok. Terkadang membuka gawai untuk upload gambar berjualan di akun instagram: fathiin.books. Bisa sekitar 1 jam lebih. Namun jika masih ada pekerjaan untuk memasak, mungkin hanya 15-30 menit.‌
  • Jam 1, usai anak makan siang. Ini insyaAllah menjadi rutinitas saya dan anak untuk video call agar bisa melihat wajah Ayahnya. Hanya untuk video call, setelahnya bermain tanpa gawai. Di jam ini, Hizbi mau tak mau terbiasa memegang gawai untuk menelepon atau mengangkat.‌
  • Jam 8, saat anak sudah tidur malam. Ini jam malam bebas biasanya sampai jam 10, kemudian gawai saya matikan sampai pagi.
Sisanya terkadang curi-curi membuka gawai saat melihat pesan yang butuh balasan segera. Khawatir Hizbi terkena paparan sinar layar di gawai terlalu banyak dan membuatnya candu meski hanya melihat layar gawai menyala.


Bijak dalam menggunakan gawai bukan sekedar membatasi tapi secara sadar mengetahui batasan penggunaan gawai untuk kebaikan diri dan keluarga. Manajemen gawai tersebut termasuk salah satu doa yang saya perjuangkan di tahun ini. Mohon doanya, semoga berbuah manis.

Comments