Ujian untuk Anak atau Orang Tua

Hampir semua sekolah mengadakan ujian sebagai salah satu indikator nilai yang akan ditulis di raport. Begitu juga dengan sekolah tempat saya mengajar saat itu di Surabaya. Ujian akhir semester anak didik kelas satu yang dilakukan selama satu minggu, dipersiapkan dengan diberi soal-soal pengayaan dan pre test yang sesungguhnya memiliki kesamaan dengan soal ujian akhir. Dalam persiapannya, para guru juga senantiasa mengingatkan, melakukan briefing dan role playing pelaksanaan ujian. Selain itu, meminta kerja sama orang tua untuk memberi dukungan dan memastikan fisik putra putri mereka agar siap melaksanakan ujian.

Memasuki hari ketiga ujian yaitu matematika. Mata pelajaran yang katanya sulit dan dianggap sebagai momok bagi setiap anak. Sehingga menjelang ujian yang dilakukan setelah istirahat, anak-anak ada yang membuka buku, menulis atau sekedar bermain di dalam kelas saja. 

Begitu jam istirahat berakhir, anak-anak melakuan persiapan untuk mengerjakaan soal berhitung. Lima menit berlalu hingga setengah jam, tiba-tiba ada salah seorang siswa yang teriak. 

“Ustadzah, Aisya curang, nyontek. Di tangannya ada tulisan-tulisan,” teriak Naila, anak yang duduk dekat dengan Aisya. 

Seketika itu juga, kelas menjadi riuh dengan gumaman dan celoteh spontannya anak-anak. Kelas yang tadinya tenang, mendadak ramai dan heboh ditambah tingkah anak-anak aktif  yang lainnya. Wali kelas, Ustadzah Pipit memainkan perannya di sini.

“Iya, apa semuanya sudah selesai?”

“Belum Ustadzaah.”

“Kalau belum, silakan diselesaikan dan tidak ada lagi suara berbicara keras yan saya dengar. Saya tunggu yang sudah selesai. Dan Aisya ke meja Ustadzah dulu ya.”

Aisya menghampiri meja Ustadzah Pipit dan anak-anak lain mencoba kembali fokus dan mengerjakan.  Supaya ceritanya tidak berlarut-larut dan memecah konsentrasi anak-anak yang lain, kami memanggil Aisya untuk menjelaskan dan menyelesaikan permasalahannya sendiri. 
“Aisya, apa betul di tangannya ada tulisan?” tanya Ustadzah Pipit.

Aisya gelagapan memegang tangannya dan mengalihkan pembicaraan, “Itu tadi Jihan juga menoleh-noleh.”

“Tapi kan Ustadzah tanya tentang Aisya, apa boleh nyontek dengan menuliskan jawaban di tangan?” tanya Ustadzah yang sangat sabar menghadapi anak-anak.

“Nggak boleh,” jawabnya malu-malu.

“Dosa nggak ya kalo nyontek itu?” tanya Ustadzah sekali lagi.

“Ya dosa tapi sulit mengerjakan matematika,” sahut bocah polos itu.

“Apa kalau sulit harus menyontek? Baiknya bagaimana?”

“Nggak sih, harusnya ya belajar tapi sulit,” jawabnya masih merajuk dengan ekspresi cemberut maksimal.

“Aisya bisa kok,teman-teman yang lain juga bisa. Nah skarang biar bersih dan seperti teman yang lain, Aisya harus apa?"

“Mencuci tangan, membersihkan tulisannya,”tukasnya sambil menunduk memainkan tangan.

“Aisya pintar. Silakan ke kamar mandi supaya bisa bergabung mengerjakan dengan teman-teman lainnya ya,” Ustadzah Pipit mengakhiri percakapan dengan Aiysa.

Kejadian seperti itu, harus diketahui orang tua. Meskipun guru tanpa perlu repot memberitahu, karena pasti pemberitaan itu ramai dibicarakan anak-anak sendiri dengan orang tuanya. Atau  jika ada anak yang pemberani mengutarakan pendapat, ia akan langsung bercerita pada orang tua Aisya tanpa diminta.

Malam harinya, terjadi percakapan seru di grup Whatsapp wali murid. Dikabarkan bahwa Mama Aisya sudah melakukan pendekatan untuk berbicara menyelesaikan masalah sang anak. Karena menyangkut moral, ini termasuk masalah yang serius dan butuh pendekatan dari hati. Siapa yang bisa mengambil hati anak? Tentu orang terdekatnya yaitu orang tua terlebih Mamanya.

Singkatnya ketika Mama Aisya bertanya alasan Aisya mencontek adalah karena matematika sulit. "Tapi kenapa harus nyontek, Nak?" tanya Mamanya memastikan lagi.

"Soalnya aku takut dimarahi Mama kalau dapat nilai jelek," jawabnya cemberut.

Orang tua yang berhati lembut tentu akan merasa sadar bahwa ada sikap yang kurang tepat dalam menanamkan nilai. Sang anak pun salah menangkap tingginya harapan orang tua hingga berusaha menghalalkan segala cara untuk meraih harapan itu.

Sekolah mengadakan ujian untuk anak tapi orangtualah yang merasa diuji. Mendukung tapi berlebihan, berharap tapi terlalu tinggi, hingga ada sebagian anak yang merasa terbebani. Hingga orang tua hanya ingin melihat hasilnya tapi lupa dengan proses usaha belajarnya. 

Comments