Jarak antara Kami

Wonderful family menjadi harapan bagi setiap keluarga yang menjalani rumah tangga. Merangkai setiap bagian demi bagian rasa dari kehidupan untuk mempertahankan kekokohan keluarga baik secara fisik atau batin. Berawal dari menjalin interaksi bersama yang sehat antara suami dan istri, hingga sang anak dapat merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan orang tua. Tapi bagaimana dengan pasangan suami istri yang tidak tinggal bersama dalam berumahtangga? Ada jarak pemisah fisik di antara keduanya selama beberapa waktu, bukan karena suatu konflik. Hal itu sering disebut dengan Long Distance Marriage (LDM).

Istilah lain LDM yang digunakan Rhodes (2002) yaitu dual career dual residence (DCDR), didefinisikan sebagai individu-individu yang menikah, dengan atau tanpa anak, yang suka rela mempertahankan kelangsungan hidup pada dua tempat yang berjauhan, dengan maksud untuk mempertahankan pernikahan dan keduanya berkomitmen terhadap karir mereka.

Jarak


Dari awal menikah, sudah merasakan LDM ketika kami berada di dua kota yang berbeda. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan karena belum memasuki akhir tahun ajaran siswa, sehingga kami harus menjalani pernikahan jarak jauh. Melalui pertemuan setiap sepekan sekali selama dua hari, kami harus menahan rindu pengantin baru pada umumnya. Namun Alhamdulillah, kisah itu berakhir di bulan keempat, saya diajak ke kota tempat mengembangkan dirinya untuk melanjutkan jalan cerita yang lebih baik. 

Tapi siapa yang menyangka, ketika Allah menakdirkan pada kami yang baru menyambut buah hati belum genap satu tahun untuk sekali lagi merasakan LDM. Ada tugas dari kantor suami yang menganjurkannya untuk menjalankan amanah belajar di negeri orang. Dengan turunnya surat tugas yang mendadak, persiapan yang cepat dan diskusi yang saling ridho, kami memutuskan untuk menjalani LDM ini dengan saling memegang komitmen.

Sedih? Iya, wanita normal yang mempunyai perasaan pada umumnya ketika berjauhan dengan suami. Berat? Terasa ketika mendampingi anak, mengharapkan dukungan suami dari dekat. Khawatir? Jelas, terutama terkait komunikasi kami berdua, bahwa kami akan nyaman dengan keadaan saling “sendiri” ini. Takut? Ya, ketakutan akan suami yang semakin menjauh memasuki goa kehidupannya hingga lupa dengan anak dan istri. Tapi, sedang berpikir apa saya? Hingga segala kekhawatiran dan pikiran yang absurb menjadikan tidak kontrol diri. Apa ini wajar?

Hingga akhirnya ketika saya membaca-baca artikel, mengikuti kuliah Whatsapp tentang keharmonisan keluarga, mendapat nasihat dari orang tua, saya sadar bahwa kekhawatiran berlebihan saat menjalani LDM sangat tidak baik.  Sehingga butuh penanganan yang tepat agar kekhawatiran tidak berlarut.

Saya harus memperbaiki cara pandang kepada suami. Suatu hal yang mustahil ketika kami harus selalu berdampingan, bersama-sama dengan suami setiap saat setiap waktu. Lalu siapa yang selalu bisa bersama suami? Ada Allah, sehingga saya harus yakin, mengadukan dan berharap penjagaan keharmonisan keluarga hanya pada-Nya. Berpikir postif, memasrahkan diri bahwa semua ketetapan ini datangnya dari Allah. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Adanya keterbukaan dalam komunikasi ternyata sangatlah penting. Dengan kondisi seperti ini, membuat capek hati dan pikiran jika mengandalkan kiriman kode yang bisa terpecahkan olehnya dari radius entahlah berapa. Mengatakan atau menuliskan harapan, keinginan, permintaan, penjelasan secara gamblang ternyata bisa mendekatkan hubungan jarak jauh ini.

Selain itu, ketepatan dan kejelasan suami dalam berkomitmen harus saya ketahui dengan jelas. Seperti kapan kami bisa saling menghubungi, kapan suami akan pulang dan lain sebagainya. 

Dari sini, saya juga belajar untuk semakin memahami suami. Ketika menganggap jarak adalah ujian berarti inilah yang harus dihadapi, insya Allah sebentar lagi kami akan bersama. Sehingga saya harus menikmati ini dengan melakukan kegiatan yang mengharuskan berpikir positif. Karena jarak yang sesungguhnya adalah ketika saya dan suami memiliki perasaan yang jauh dari Allah hingga mengaburkan makna komunikasi itu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Tafsir An Naba' Ayat 1-10

Jatuh Cinta atau Bangun Cinta