Yuk Gendong!

“Beli stroller saja, kalau nangis atau selesai menyusui, tinggal didorong-dorong di stroller, supaya tidak capek,” kata tetangga yang pagi itu datang melihat bayi mungilku.
“Tidak perlu digendong, letakkan saja di kasur. Nanti gulung-gulung sesukanya, begitu capek pasti tidur sendiri,” tegur salah satu anggota keluarga, saat melihatku menidurkan dalam gendongan.
Ada juga yang berkomentar, “Ini sudah bau tangan ya, tidak mau lepas dari gendonganmu.”
“Kok digendong terus saja,” sahut nenek-nenek yang sedang lewat di depan rumah.
Ya bayi baru lahir kalau sudah bisa langsung jalan, tidak perlu aku gendong Nek. Batinku.

Dan masih banyak komentar lainnya saat melihat bayi saya digendong. Bagaimana tanggapan saya? Mengangguk dan beri senyum termanis.

Di zaman yang serba berkembang saat ini, menggendong kadang terkadang terkalahkan dengan kemudahan beragam peralatan bayi, seperti stroller, baby bouncer, baby box dan lainnya. Atau aktivitas itu menjadi kurang diminati karena belum mendapat informasi penuh tentang pergendongan.

Mengapa harus menggendong?

Bayi baru lahir memiliki kecenderungan kebutuhan berupa asupan (Air Susu Ibu), kehangatan, rasa aman dan terlindungi. Semua itu bisa didapatkan anak dari seorang ibu. Ketika bayi menunjukkan rasa laparnya, tentu hal yang kita lakukan adalah menggendong, mendekapnya dan langsung menyusui. Anak merasa hangat, aman dan nyaman. Sebagai ibu, kita telah melakukan tugas dengan baik karena berhasil memenuhi kebutuhannya.

Apakah itu sudah cukup? Belum. Ketika selesai menyusui, kita meletakkan anak di tempat tidurnya supaya bisa beralih ke aktivitas lainnya. Tapi baru ditinggal sebentar, tiba-tiba anak menangis meminta ditimang-timang dan gagal rencana yang kita susun.

Solusinya bagaimana?

Kita gendong saja anak sambil tetap melakukan aktivitas lainnya, kecuali ke kamar mandi, olahraga, naik kendaraan berdua dengan bayi. Dengan begitu, anak merasa terlindungi seperti di dalam perut selama sembilan bulan. Kedekatan kita dengan anak pun terasa lebih lekat. Namun, ada ilmu yang perlu kita pahami tentang cara yang aman dan nyaman dalam menggendong, supaya meningkatkan rasa percaya diri dalam mengasuh anak.

Terus bagaimana maksud dari aman dan nyaman menggendong itu?

Ada materi menarik yang saya dapatkan dari grup Relawan Menggendong. Yang dimaksud kondisi aman adalah memastikan bayi bisa bernafas lega. Karena bayi terlahir dengan tulang punggung yang melengkung dan belum dapat menegakkan kepalanya, sehingga cenderung tertekuk ke arah dada yang dikhawatirkan menghambat pernafasan. Menggendong dengan posisi tegak dan menyandarkan kepala bayi ke dada ibu, menjadikan jalur nafasnya dalam satu garis lurus. Itu cara yang optimal. Selain itu, tetap waspada, tidak menggendong dalam kondisi mengantuk. Gunakan gendongan yang kuat dan pelajari cara menggunakan gendongan dengan baik.
Pastikan juga menggendong dengan pedoman T.I.C.K.S
T: Tight. Kencang.
I: In View At All Times. Terlihat setiap saat.
C: Close Enough To Kiss. Mudah dikecup.
K: Keep Chin Off The Chest. Jauhkan dagu bayi dari dada.
S: Supported Back. Punggung yang tertopang dengan baik.

Untuk menjadikan gendongan yang nyaman bagaimana? Menggendong dengan mengikuti bentuk alami tubuhnya adalah posisi nyaman bagi bayi. Bayi tumbuh dan berkembang dengan posisi punggung melengkung dan kaki mengangkang dengan menekuk lutut lebih tinggi dari pantat. Bisa dibayangkan? Dan posisi itu masih tetap dipertahankan hingga lahir.

Perlu waktu bagi bayi untuk menguatkan otot tulang belakangnya supaya dapat menegakkan kepala hingga berdiri tegak.Dan perlu menjaga posisi kaki mengangkang pada setahun pertama. Karena pinggul bayi yang baru lahir masih berupa tulang rawan dan berangsur mengeras hingga usia sembilan bulan. Sehingga menggendong dengan posisi kaki mengangang akan membentuk tulang punggung melengkung dan itulah posisi nyaman bayi.

Selain itu, memilih dan menggunakan alat gendong yang nyaman bagi penggendong maupun bayi. Tentunya dalam memilih gendongan tidak hanya memenuhi kebutuhan menggendong saja tapi juga mengikuti referensi selera penggendong supaya lebih semangat dan percaya diri dalam menggendong. Karena bayi akan merasakan tenang dan nyaman jika sang penggendong juga nyaman.

Comments