Menanggapi Permasalahan Anak

Hidup dalam berumahtangga ibarat kapal mengarungi lautan. Setiap saat harus siap akan diterpa ujian berupa angin dan badai sehingga nahkoda dan awak kapal harus cerdas mengarungi dan mengendalikan kapal. Sehingga setiap hari harus berpikir, menambah ilmu sesuai dengan cobaan yang datang bergiliran sejalan berkembangnya kehidupan menjadi istri atau suami hingga berubah status sebagai ibu atau ayah.

Cara mendidik anak saat ini, secara tidak langsung ada bayang-bayang didikan dari orang tua sebelumnya. Padahal, lain zaman dulu dengan sekarang. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zaman.”

Dari nasihat tersebut yang dianggap berbeda adalah  cara mengomunikasikan dalam mendidik tapi koridor islam tetaplah tidak berubah. Contoh mendidik zaman dulu adalah memberi tanggapan ketika anak terjatuh, “Aduh, lantainya nakal ya sampai kakak terjatuh ... Sini biar eyangti pukul.”

Atau memberi tambahan mendiamkan seperti ini, “Eh sudah, diam, nggak apa. Di sana ada apa ya? Mau jajan nggak?”

Saya cuma bisa meringis mendengarnya karena pola pikir orang tua dalam mendidik di zamannya masih seperti itu. Setelah mendapat banyak referensi yang saya pelajari, ternyata cara menunjukkan perhatian yang seperti itu masih keliru. Anak bukannya bertambah dewasa tapi ketika dia mendapatkan masalah, akan langsung meminta bantuan, solusi dan bisa jadi juga akan menyalahkan lainnya. Komunikasi yang baik, tidak sepihak, melibatkan anak, menjadikan anak sebagai pribadi kritis yang berusaha menemukan pemecahan masalahnya sendiri.

Kalau menurut Irawati Istadi dalam bukunya Mendidik dengan Cinta, ketika anak mendapatkan masalah keseharian, anak perlu dilatih berusaha menyelesaikannya hingga nanti akan akan menghasilkan dua pilihan, berhasil atau gagal. Ketika gagal, tetap bukan tugas orang tua yang menyelesaikan tapi orang tua harus aktif berdialog memberi dukungan secara motivasi, arahan atau nasihat. Melalui jalan itu, anak akan mengasah intuisinya lebih tajam.

Comments