Bayang-bayang Inner Child

Seorang anak gadis pernah melihat seorang ibu mencubit anaknya di tempat umum. Lantas, ia berkata kepada temannya, "Sakit sekali dicubit seperti itu, pasti rasanya sama seperti yang pernah aku rasakan di waktu kecil, saat ibu mencubitku dulu. Aku janji tidak akan pernah melakukan hal itu kepada anak-anakku nanti."

Singkat cerita, gadis itu telah menikah dan tidak berapa lama, Allah karuniakan ia dan suami sepasang anak lelaki dan perempuan. Rupanya, perilaku anak-anaknya yang aktif dan punya rasa ingin tahu tinggi, membuat dirinya kewalahan. Sulit mengatur emosi dan kesabaran. Hingga akhirnya tangannya tak kuasa untuk mencubit dan memukul anak-anaknya.

Secara sadar, otak rasionalnya memahami bahwa memukul anak adalah sikap yang tidak dibenarkan, bahkan ia telah berjanji untuk tidak melakukannya. Tapi keadaan telah membuat emosinya menjadi kacau, ditambah rekaman perilaku yang ia alami di masa lalu, membuatnya melupakan janji pada diri sendiri untuk tidak memukul anaknya.  

Sebetulnya apa yang telah pada diri wanita itu? Mungkin tidak hanya di kisah itu saja, tapi sebagai seorang ibu, mengapa terkadang sulit menguasai emosi? Untuk hal-hal sepele pada anak-anak sekali pun.

Bisa jadi, masalahnya bukan pada anak-anak tapi diri sendiri. Mungkinkah inner child masih membayang-bayangi ? Sebetulnya, apa itu inner child?

Dok. Pribadi
Mengacu pada John Bradshaw  (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapat penyelesaian dengan baik. Orang dewasa bisa memiliki beragam kondisi inner child yang dihasilkan pengalaman positif atau negatif yang dialami masa lalu sewaktu kecil.

Seringkali gangguan pada inner child membawa masalah tingkah laku, emosi dan hubungan sosial orang dewasa. Begitu juga sebaliknya, jika dalam kondisi stabil akan memberi dampak positif seperti menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi, emosi stabil dan hubungan sosial yang suportif. (Diamond, 2008)

Masalah trauma masa kecil memang bisa menjadi hambatan bagi stabilnya inner child karena selalu terbayang-bayang. Tapi bukan berarti menjadi penghambat seseorang untuk berkembang menjadi lebih baik. Asalkan trauma tersebut diberi penanganan yang tepat.


Lalu bagaimana penanganannya? Insya Allah akan dibahas di tulisan selanjutnya....

Comments