Baby Blues, Haruskah Ibu Menyerah?

Saat mengandung, masa yang paling dinanti adalah mendekap sang buah hati. Tapi adakah yang menyangka, pertemuan dengan sang anak berujung pada perubahan hormon hingga mempengaruhi perasaan ibu? Perasaan senang melihat wajahnya tapi terkadang panik mendengar tangisannya. Atau  merasa seperti orang paling beruntung yang mendapat amanah keturunan dari Allah tapi di satu sisi dihinggapi ketakutan tidak bisa merawat dan menyusui dengan baik.

Perubahan perasaan naik turun itu kondisi yang wajar dialami pasca persalinan. Namun, perlu menjadi perhatian jika emosi perasaan berlangsung lama dan berkelanjutan. Dari kuliah whatsapp grup Shalihah Motherhood dengan pemateri Mbak Ajeng Ciki seorang psikolog, menjelaskan beberapa tahapan gangguan umum yang terjadi pasca persalinan. Urutan tahapan gangguannya dari yang paling ringan, antara lain: baby blues (postpartum blues), postpartum depression dan postpartum psychosis

Angka kejadian baby blues di Indonesia yang dialami wanita pasca persalinan antara 50%-70% (Mirza, 2008). Kasus postpartum depression (PPD) mencapai 15% per tahun dari angka kelahiran, menurut dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ. Menurut webmd (situs departemen kesehatan Amerika), perasaan baby blues muncul 2-3 hari pasca persalinan dan berangsur menghilang pada 1-2 minggu kemudian. Jika lebih dari 3 minggu, kemungkinan ada di tahap PPD.

Naik turunnya emosi, tidak hanya dari diri sendiri tapi faktor eksternal juga bisa menjadi pencetus timbulnya baby blues. Rasa kesedihan, ketakutan, khawatiran, kekurangan dukungan dan kelelahan senantiasa terbayang saat beradaptasi membersamai bayi mungil. Hingga menjadikan ibu tidak percaya diri, sering menangis, susah tidur, kehilangan kesabaran, ikatan dan momen penting tumbuh kembang anak. Hari demi hari sungguh menyiksa batin dan fisik ibu. Haruskah seorang ibu menyerah merasakan kekalahan batin yang akan berdampak pada psikologis anak juga?

Dibutuhkan kemauan dalam diri sendiri untuk bisa bangkit melawan kecemasan batin yang berlebih. Diawali dengan berpikiran positif, ikhlas, berdo'a meminta petunjuk dan penjagaan dari Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati. Meyakinkan diri, mampu menghadapi ujian dari Allah. 

Persiapan fisik, mental, ilmu, tidaklah cukup tanpa adanya dukungan lingkungan yang baik, terutama sang ayah. Bersosialisai ternyata berperan penting juga supaya dapat saling berbagi cerita dan pengalaman untuk meminimalkan kepasrahan pada baby blues. Itu semua juga tidak akan terwujud tanpa kesehatan fisik yang menunjang, sehingga seorang ibu sangat butuh istirahat cukup dan makan bergizi. Namun jika sudah sampai pada perasaan harus menyerah pada baby blues, PPD atau sampai tahap postpartum psychosis, butuh tenaga ahli untuk membantu menyelesaikannya.

Seorang ibu yang merupakan madrasah agung, tidak akan terwujud, jika masih ada yang menjadikan ibu kalah mentalnya menghadapi komentar pedas hingga semakin tenggelam dalam gejolak batinnya. Tidak ada ibu yang gagal, tidak ada ibu yang sempurna, ibu berproses yang terbaik adanya. Ibu, marilah kita bangkit untuk tidak larut pada perasaan tidak menentu karena perjalanan membersamai anak masih panjang. Jadikan baby blues sebagai cerita dan pelajaran hidup yang berharga.

Comments