Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2018

Mengasah Tujuh Indra di Alam

Sebagai orang tua, apakah ada yang memberi alternatif alam pedesaan sebagai salah satu inspirasi belajar dan bermain? Dengan mencoba memberi kesempatan anak untuk bermain air, pasir, tanah atau lumpur. Sejenak menjadi orang tua yang mengabaikan kebersihan agar anak mendapat pelajaran berharga dari bersahabat dengan alam.


Apa yang bisa dilakukan anak di alam pedesaan? Anak akan diasah kepekaan tujuh indra yang dimiliki. Dari segi fisik, mereka bebas berlarian di bukit atau tanah lapang, menanam bibit tanaman atau bercocok tanam, mencabut rumput dan banyak kegiatan lain yang mengasah ototnya. Anak juga bisa berlatih menjaga keseimbangan dengan menyusuri sawah atau meniti jembatan. Selain itu, dapat  mengamati pemandangan yang belum tentu ada di kota.

Melalui indra peraba, anak bermain bermacam tekstur dari pasir, lumpur, tanah, batu, kerikil, daun dan lainnya. Anak juga belajar mendengar lebih peka tentang suara alam dari hewan, gesekan daun, angin dan masih banyak lagi.

Anak bisa diajak me…

Tantangan Menulis 30 Hari

Pada awalnya berpikir menumbuhkan keingintahuan,
Keingintahuan melahirkan perbuatan, Dan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang Membentuk kebiasaan - Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah -
Tulisan tagar 30dwc yang terlihat sekilas mata memandang akun seorang teman, mampu menimbulkan rasa penasaran. Saya coba mencari dan mengintip infonya dengan malu-malu, apa sih 30dwc itu? Pertama mengintip akun instagram pejuang30dwc, apakah langsung tertarik? Ternyata belum. Sekali lagi coba mencari tahu karena melihat teman-teman yang sudah jauh melangkah setelah mengenal 30dwc. Akhirnya membulatkan tekad untuk coba menikmati pesona 30dwc.
30 day writing challenge (30dwc) adalah tantangan menulis selama 30 hari. Ya, di sini saya merasa tertantang untuk menulis 30 hari tanpa henti dimulai dengan mendeklarasikan semangat saya itu. Ternyata semangat deklarasi itu berpengaruh sekali hingga di hari 30, saat ini.
Apa iya, menulis 30 hari itu tantangan? Kalau menurut saya, iya ... karena belum terbiasa menulis. …

Menanggapi Permasalahan Anak

Hidup dalam berumahtangga ibarat kapal mengarungi lautan. Setiap saat harus siap akan diterpa ujian berupa angin dan badai sehingga nahkoda dan awak kapal harus cerdas mengarungi dan mengendalikan kapal. Sehingga setiap hari harus berpikir, menambah ilmu sesuai dengan cobaan yang datang bergiliran sejalan berkembangnya kehidupan menjadi istri atau suami hingga berubah status sebagai ibu atau ayah.

Cara mendidik anak saat ini, secara tidak langsung ada bayang-bayang didikan dari orang tua sebelumnya. Padahal, lain zaman dulu dengan sekarang. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zaman.”
Dari nasihat tersebut yang dianggap berbeda adalahcara mengomunikasikan dalam mendidik tapi koridor islam tetaplah tidak berubah. Contoh mendidik zaman dulu adalah memberi tanggapan ketika anak terjatuh, “Aduh, lantainya nakal ya sampai kakak terjatuh ... Sini biar eyangti pukul.”
Atau memberi tambahan mendiamkan seperti ini, “Eh su…

Dunia Pemikiran Anak

Terkadang, pembicaraan antara orang tua dan anak akan berakhir menjadi ajang adu argumentasi. Di satu sisi, orang tua melontarkan petuah dan aturan. Sedangkan anak, mengotot dengan pendapatnya dan ingin membantah karena mempunyai pemikiran sendiri. Contohnya begini.
“Kak Raffi, makan dulu ya,” kata Ibu sambil menyiapkan makan malam.
“Apa lauknya? Ayam lagi? Bosen ... aku mau lainnya,” rengek Raffi.
“Jangan pilih-pilih makanan. Ibu sudah capek kerja, nggak sempat masak lainnya,” sahut Ibu.
“Nggak mau makan,” rengek Raffi sekali lagi.
“Ya kalau nggak mau makan, kelaparan, nanti sakit. Mau? Sudah makan sini,” kata Ibu menutup pembicaraan dengan jengkel.

Lalu kira-kira apa yang terjadi setelah itu? Bisa saja, berakhir baik, jika sang anak menurut dan memendam rasa kesalnya. Tapi emosinya bisa menjadi bom waktu. Atau mungkin, akan berlanjut adegan selanjutnya, saling menampakan kekuatan otot suara dengan maksimal.

Menurut Irawati Istadi, seorang praktisi homeschooling, salah satu seni berbicara d…

Anak Perempuan Masa Depan

"Qila kalau besar nanti mau jadi apa?" tanyaku iseng pada salah satu anak dari rekan kerjaku dulu.
“Mau jadi Umik,” jawabnya singkat. “Jadi Umi? Kenapa nggak jadi guru aja, Umi kan guru?” godaku sekali lagi. “Nggak. Pokoknya maunya jadi Umi, kayak Umi,” jawabnya sambil setengah teriak meyakinkanku.
Begitulah kira-kira percakapanku dengan seorang anak gadis berusia empat tahun yang membuat saya terharu dengan jawabannya. Karena fitrahnya anak perempuan adalah mencontoh dan meneladani sikap keseharian ibu yang akrab dengannya, tanpa mempedulikan apakah sang ibu adalah working mom atau stay at home mom.
Dan seorang wanita yang sudah menikah, kemudian mengandung dan melahirkan, tentu akan terlahir sebagai ibu. Itulah fitrahnya wanita dengan apa pun label keahlian yang melekat pada dirinya.
Lalu bagaimana mendidik anak perempuan supaya tidak meninggalkan fitrahnya di masa depan?

Mengutip tulisan Teh Kiki Barkiah di bukunya yang berjudul Lima Guru Kecilku, bekal penting yang dibutuhkan ad…

Persiapan Bersahabat dengan Alam

Hamparan sawah berhektar-hektar, tanah hijau berbukit, hewan-hewan ternak berkeliaran,  udara sejuk sebelum matahari terbit,  gemericik air dengan pesona kesegarannya dan banyak gambaran menyenangkan yang terlintas tentang pedesaan.

Dengan segala kelebihan alam pedesaan yang disajikan Allah, sebagai orang tua, adakah yang menjadikannya inspirasi belajar dan bermain anak? 

Tapi bagaimana jika anak belum pernah ke pedesaan dan akan pertama kali ke sana? Apa yang disiapkan selain fisiknya? Persiapan psikis perlu kah?

Ya, ternyata dijelaskan oleh Okina Fitriani dalam bukunya The Secret of Enlightening Parenting, perlu dilakukan briefing dan role playing di rumah, sebelum mengajak anak ke tempat atau acara yang belum pernah dialami untuk kebaikan psikisnya.
Orang dewasa saja butuh latihan, gladi bersih untuk acara yang dirasa penting, terlebih anak kecil di dalam memorinya belum ada ruang untuk kata pedesaan. Perlu melakukan pengenalan dan latihan supaya dapat membayangkan hal yang akan diala…

Menjadi Orang Tua Cerdas

"Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu, " nasehat Ali bin Abi Thalib.
Zaman kita saat ini adalah abad 21 atau yang disebut era milenium. Zaman dengan perkembangan teknologi sangat cepat yang seakan manusia dituntut untuk bisa menguasainya. Jika tidak, bersiaplah untuk menerima ketertinggalan dalam banyak hal. Siapkah orang tua menerima tantangan untuk mengikuti zaman ini?
Insya Allah sebagai orang tua, harus siap menerima setiap tantangan dalam mendidik anak, karena di situlah letak ujian kenaikan level orang tua.
Tantangan seperti apa yang akan dihadapi?
Zaman yang katanya dari genggam tangan saja sudah bisa mendapatkan banyak hal, zaman yang menawarkan banyak alternatif menyenangkan di luar rumah, zaman yang menjadikan generasi saat ini merasa ingin mendapat sesuatu secara instan dan masih banyak lagi tantangan lain. Sehingga menjadikan orang tua harus menguasai cara mendidik anak yang sesuai dengan sekarang ini da…

Mengembangkan Potensi Seorang Ibu

Menjadi ibu adalah impian mulia seorang wanita. Mengapa disebut mulia? Karena ibu mempunyai kedudukan surga di telapak kakinya yang penuh perjuangan. Itu merupakan fitrah paling indah yang tidak dikaruniakan Allah kepada seorang pria. Namun, meski Allah telah menjanjikan kemuliaan itu, terlahirnya menjadi seorang ibu baru terkadang dihadapkan pada pilihan yang dilematis.
Pilihan apakah itu? Memilih untuk tetap bekerja atau tidak. Memilih antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Tapi jika harus memilih apakah artinya seorang ibu harus meniadakan pilihan lain? Mempunyai pilihan sebagai wanita kari hingga melupakan tugas sebagai ibu di rumah. Atau menjadi ibu rumah tangga seutuhnya tanpa memenuhi kebutuhan dirinya untuk berkembang menjadi lebih baik. Benarkah seperti itu?
Ada quote yang menginspirasi dari Ibu Septi Peni Wulandani, founder Institut Ibu Profesional, “Berkarya, menjaga amanah dan menjemput rezeki itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan apalagi dikorbanka…

Bayang-bayang Inner Child (2)

“Pembentukan kepribadian seseorang 20 persen ditentukan oleh sifat yang diturunkan dan 80 persen ditentukan lingkungan atau pola asuh. Nah, pola asuh dapat memengaruhi inner child seseorang,” kata psikolog Elly Risman, Psi.
Pembentukkan sebagian besar sifat orang dewasa berawal dari pola asuh orang tua. Mungkin saja, sifat tempramen saat ini karena dulu dididik dengan sangat keras oleh orang tua. Mungkin kita mempunyai sifat sosial yang bisa mempengaruhi karena orang tua mau memberi ruang kepercayaan pada kita. Mungkin saja, sifat penyendiri saat ini karena orang tua jarang mengajak kita untuk pergi bergaul. Mungkin, kita mempunyai sifat kepedulian tinggi karena orang tua sangat mementingkan kebutuhan batin kita. Sehingga saat menjadi orang tua, semua pembentukkan sifat dan karakter akan mudah muncul di situasi tertentu.
Bahayanya jika sifat yang muncul adalah sifat negatif yang membuat trauma mendalam. Di situasi itu, tiba-tiba ingatan akan membangunkan lagi inner child yang lama terti…

Bayang-bayang Inner Child

Seorang anak gadis pernah melihat seorang ibu mencubit anaknya di tempat umum. Lantas, ia berkata kepada temannya, "Sakit sekali dicubit seperti itu, pasti rasanya sama seperti yang pernah aku rasakan di waktu kecil, saat ibu mencubitku dulu. Aku janji tidak akan pernah melakukan hal itu kepada anak-anakku nanti."
Singkat cerita, gadis itu telah menikah dan tidak berapa lama, Allah karuniakan ia dan suami sepasang anak lelaki dan perempuan. Rupanya, perilaku anak-anaknya yang aktif dan punya rasa ingin tahu tinggi, membuat dirinya kewalahan. Sulit mengatur emosi dan kesabaran. Hingga akhirnya tangannya tak kuasa untuk mencubit dan memukul anak-anaknya.
Secara sadar, otak rasionalnya memahami bahwa memukul anak adalah sikap yang tidak dibenarkan, bahkan ia telah berjanji untuk tidak melakukannya. Tapi keadaan telah membuat emosinya menjadi kacau, ditambah rekaman perilaku yang ia alami di masa lalu, membuatnya melupakan janji pada diri sendiri untuk tidak memukul anaknya.  
Seb…

Yuk Gendong! (2)

Tulisan sebelumnya telah dibahas tentang kebutuhan bayi untuk digendong dan cara menggendong yang aman dan juga nyaman. Lalu, sebetulnya apa manfaat dari menggendong bayi itu? Apakah supaya si penggendong berat badannya turun? Hmm mungkin ya.
Tapi ada kisah menarik tentang menggendong dari salah satu influencer dan blogger yang diceritakan di akun instagram, bernama Misis Devi. Beliau mempunyai kelainan tulang skeliosis sehingga sangat tidak disarankan untuk mengangkat beban berat, termasuk anaknya. Jadi si anak sangat jarang sekali digendong, lebih sering didudukan di car seat saat naik mobil, jalan-jalan memakai stroller, ketika akan tidur juga diletakkan saja di kasur. 
Tapi ternyata dampaknya kurang digendong adalah si anak mempunyai tingkat kewaspadaan yang tinggi. Jika disentuh, ia langsung menampikkan tangan orang yang menyentuh. Sang anak jadi membangun benteng pertahanan dirinya dengan tebal, hingga sulit baginya untuk menerima rangsangan dan ajakan orang lain, termasuk mamanya…

Yuk Gendong!

“Beli stroller saja, kalau nangis atau selesai menyusui, tinggal didorong-dorong di stroller, supaya tidak capek,” kata tetangga yang pagi itu datang melihat bayi mungilku.
“Tidak perlu digendong, letakkan saja di kasur. Nanti gulung-gulung sesukanya, begitu capek pasti tidur sendiri,” tegur salah satu anggota keluarga, saat melihatku menidurkan dalam gendongan. Ada juga yang berkomentar, “Ini sudah bau tangan ya, tidak mau lepas dari gendonganmu.” “Kok digendong terus saja,” sahut nenek-nenek yang sedang lewat di depan rumah. Ya bayi baru lahir kalau sudah bisa langsung jalan, tidak perlu aku gendong Nek. Batinku.
Dan masih banyak komentar lainnya saat melihat bayi saya digendong. Bagaimana tanggapan saya? Mengangguk dan beri senyum termanis.
Di zaman yang serba berkembang saat ini, menggendong kadang terkadang terkalahkan dengan kemudahan beragam peralatan bayi, seperti stroller, baby bouncer, baby box dan lainnya. Atau aktivitas itu menjadi kurang diminati karena belum mendapat inf…

Anakku Tamu Istimewa

Kehadiran anak di rumah merupakan hasil dari undangan kedua orang tua atas persetujuan Allah. Jika tamu pada umumnya hanya menginap beberapa hari, berbeda dengan yang satu ini. Mereka bisa ikut tinggal selama belasan bahkan puluhan tahun. Apakah akan berat membersamainya? Bisa jadi. Lelah? Pasti.

Tapi kabar baiknya, tamu inilah yang kelak menjadi penolong juga di hadapan pengadilan tertinggi Sang Pencipta, mengaliri amal jariyah yang tak terputus untuk orang tuanya. Hingga menghadiahi mahkota surga seperti yang telah dijanjikan oleh Allah. Jangan sampai kehadirannya di rumah, kita sia-siakan.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan.(QS At-Tin ayat 5)
Dari ayat tersebut, orang tua yang menerima anak sebagai tamu istimewa, diminta untuk merenungi. Bagaimana pun kondisi fisik dan psikis anak yang terlahir dari rahim ibu, itu adalah karya agung Allah. Sebab Sang Pencipta tidak pernah membuat produk-produk gagal, tapi diujilah kesabaran orang tua sebagai pe…

Keseimbangan Ayah dan Ibu

Ayah dan ibu mempunyai karakter dan peran yang berbeda tetapi sama-sama saling memerlukan, melengkapi dan menyempurnakan. Namun apakah itu artinya merawat dan mendidik mutlak tanggung jawab ibu karena tugas ayah adalah mencari nafkah? Mari kita cari tahu jawabannya dari Al-Qur’an.

Di dalam surat At-Tahrim ayat 6:Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.Allah memerintahkan orang tua,bukan hanya ibu tapi khususnya ayah untuk menjadi pendidik anak yang berperan sebagai pemimpin dalam memelihara keluarga.
Ada sebuah tesis yang dilakukan oleh Sarah binti Halil bin Dakhilallah Al-Muthiri dengan judul Dialog Orang Tua dengan Anak dalam Al-Quran Karimdan Aplikasinya dalam Pendidikan. Ditemukan dialog antara orang tua dan anak yang tersebar di 1…

Ibu, Sumber Pancaran Emosi

Pagi adalah momen penting untuk mengawali aktivitas harian. Orang tua khususnya ibu, biasanya langsung memulai produktivitas sesaat setelah membuka mata. Menyelesaikan keperluan pribadi, diawali dengan kegiatan bersifat spiritual, disusul mengerjakan urusan rumah tangga. Menyiapkan kebutuhan sang ayah dan anak-anak dengan hati yang lapang. Itu idealnya, tapi bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya?
Ibu bangun kesiangan dengan perasaan tidak karuan, menyiapkan segala kebutuhan secara terburu-buru. Ditambah ada kejadian tidak terduga dari anak yang tiba-tiba rewel, menjadikan emosi ibu naik turun, hingga anak merasakan pancaran perasaan negatif. Atau malah menimpakan pelampiasan emosi padanya. Bisa dibayangkan panasnya suasana rumah pagi itu.
Dalam keseharian, hampir semua urusan teknis keluarga, disiapkan oleh ibu. Perannya memang sangat dibutuhkan seluruh anggota keluarga. Sehingga sangat mungkin, jika emosi ibu jadi mudah mempengaruhi mereka. Seperti mercusuar yang menyinari s…

Menjadi Orangtuanya Manusia

"Eh anakmu, jangan pernah main lagi dengan anakku!" teriak seorang ibu di depan rumah tetangga.
“Jadi suka mukul, ketularan ngomong yang tidak baik!” lanjutnya masih meluapkan amarah tanpa turun dari sepeda motor. "Anakmu duluan yang jemput untuk main,'' tukas orang tua sang pemilik rumah, membela diri. “Banyak alasan, awas kalau besok aku lihat main bareng!” timpal ibu yang masih berteriak itu sambil tancap gas.
Itu adegan nyata yang saya dengar di salah satu kota di Jawa Timur. Bisa jadi, banyak adegan serupa yang terjadi di sekitar kita. Ketika anak bermasalah, orang tua menjadi punya pendapat bahwa itu karena pengaruh temannya. Tapi kenapa bisa seorang anak mudah menjadi ekor teman daripada ayah ibunya? Apakah ada bagian yang hilang dari hubungan dengan orang tua hingga panutannya adalah teman sebaya?
Seperti di tulisan lain yang pernah saya publish, anak terlahir mempunyai potensi baik, bukan kosongan tapi potensi yang buruk pun bisa muncul jika ada pemicunya. L…

Ibarat Melodi yang Harmoni

Seorang pemain biola tampak serius mempersiapkan tampilan dan setting alat musiknya. Ia kencangkan alat penggesek senar biola, yang biasa disebut bow dengan memutar skrup pada bagian ujung hingga tercipta jarak yang tepat. Digosoknya rambut bow dengan damar supaya dapat mencengkram senar biola saat digesekkan. Ia lanjutkan dengan menyetem senarnya agar menghasilkan nada yang benar dan sesuai.
Dengan tangan yang telah terampil, dipeganglah bow dengan sangat santai dan fleksibel. Tangan kiri menggenggam leher biola dan meletakkan di tulang bahu, menempel lehernya. Dan mulai menggesek senar biola dengan memainkan nada pada senar untuk menghasilkan alunan yang nyaman dinikmati.



Setiap pemain biola yang terlatih mengetahui dengan pasti bahwa diperlukan persiapan menggunakan biola yang benar untuk menghadirkan pemorfance yang maksimal. Persiapan sangat menentukan kualitas harmoni melodi yang hendak dihasilkan. ‘Hanya’ untuk menghasilkan nada-nada yang harmoni diperlukan persiapan dan lati…

Periksalah Hatimu, Wahai Ibu

Ibunda Hajar dan Nabi Ibrahim dikaruniakan Allah keturunan yang bernama Ismail setelah ikhtiar dan doa yang tak terputus. Namun, belum lama tangisan sang putra menghidupkan suasana rumah mereka, diturunkan perintah sang Pencipta untuk ayahnya. Allah meminta Nabi Ibrahim meninggalkan istri serta anak tercinta di padang tandus yang tak berpenghuni.

Tanpa berlama-lama, Nabi Ibrahim melakukan risalah Allah mengajak istri dan anaknya berjalan jauh dan berhenti di tengah lembah pasir dan padang tandus yang tak ada air. Sebelum Nabi Ibrahim meninggalkan, bertanyalah ibunda Hajar dengan kebingungan, “Apakah ini perintah Tuhanmu?”
“Ya,” jawab tegas Nabi Ibrahim yang cukup menjadi penguat batin bagi ibu mulia itu. Beratkah itu bagi ibunda Hajar? Pasti. Tapi beranikah ibunda Hajar melakukan dengan tidak ikhlas? Jelas tidak. Karena beliau meyakini bahwa hidupnya akan terjamin dengan mematuhi perintah Allah, apa pun kondisinya.
Dari kisah tersebut, betapa rumit mendefinisikan makna ikhlas. Ikhlas…

Nak, Ibu Rindu

Sambil merebahkan badan, kuawasi lelaki mungil yang bermain di dekatku. Badan terasa lemas dengan suhu tubuh yang berubah seperti roller coaster, beberapa hari. Namun si mungil belum paham jika diriku sedang tidak sehat, berkali-kali badanku tercolek olehnya yang sedang minta perhatian. "Ya Allah, aku ingin rehat sebentar, tidak diganggu keusilannya" batinku saat itu. *** Ibu tidak boleh sakit, harus kuat karena nanti anak juga akan tumbang jika ibunya lemah. Entah kata-kata dari siapa itu, setidaknya membuatku lebih bersemangat melawan kepayahan badan ini. Tapi seakan badan belum mau bekerja sama dengan pikiran, seberapa banyak yang aku makan, langsung tertolak oleh tubuhku, menjadikan semakin lemas dengan perut yang tidak terisi.
“Ayo cek darah lagi, berapa trombositnya... kalau semakin turun, harus opname malam ini,” kata Ayahku dengan khawatir. Berangkatlah kami ke laboratorium klinik dengan badan yang semakin tidak karuan rasanya. Selesai melakukan pengecekan darah, k…

Baby Blues, Haruskah Ibu Menyerah?

Saat mengandung, masa yang paling dinanti adalah mendekap sang buah hati. Tapi adakah yang menyangka, pertemuan dengan sang anak berujung pada perubahan hormon hingga mempengaruhi perasaan ibu? Perasaan senang melihat wajahnya tapi terkadang panik mendengar tangisannya. Atau  merasa seperti orang paling beruntung yang mendapat amanah keturunan dari Allah tapi di satu sisi dihinggapi ketakutan tidak bisa merawat dan menyusui dengan baik.
Perubahan perasaan naik turun itu kondisi yang wajar dialami pasca persalinan. Namun, perlu menjadi perhatian jika emosi perasaan berlangsung lama dan berkelanjutan. Dari kuliah whatsapp grup Shalihah Motherhood dengan pemateri Mbak Ajeng Ciki seorang psikolog, menjelaskan beberapa tahapan gangguan umum yang terjadi pasca persalinan. Urutan tahapan gangguannya dari yang paling ringan, antara lain: baby blues (postpartum blues), postpartum depression dan postpartum psychosis
Angka kejadian baby blues di Indonesia yang dialami wanita pasca persalinan …

Potensi Baik Anak

Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil Bila anak merasa aman, ia belajar percaya Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menghargai dirinya Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta -Dorothy Law Nolte: Children Learn What They Live-
Anak terlahir dengan membawa potensi baik bukan kosong, seperti yang sering diibaratkan kertas putih. Karena Allah yang menjadikan anak manusia sebagai sebaik-baik penciptaan. Peran orang tua yang menjaga potensi anak untuk tetap baik, lebih baik lagi atau malah menjadikan buruk. Dari buku 'Mendidik dengan Cinta' karya Irawati Istadi dikatakan, bahwa kebaikan pada anak akan berkembang jika mendapatkan kepercayaan.
Percaya, …