Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2018

Antara Ayah dan Ibu

Ayah. Ibu. Panggilan yang menguatkan status kemanusiaan dan kehormatan. Kedua kata yang menggemuruhkan hati sepasang insan dalam menyambut kehadiran cinta mungilnya atas seizin Allah. Masing-masing mempunyai makna dan fungsinya sendiri. Sampai kapan pun, tidak akan pernah sama, namun dapat bekerja sama menyeimbangkan peran.
Ayah, bukan sekedar kata tanpa makna yang muncul dari teriakan sosok-sosok mungil nantinya. Pribadi yang menjadi panutan anak lelaki dan kebanggaan anak gadisnya. Lelaki yang akan dirindukan anak karena raga sering tidak bersua. Tokoh yang sering disebut Al-qur'an hingga tujuh belas kali dalam dialog pengasuhan. Bahwa ayah adalah pemilik dan pemimpin sekolah pertama bagi anak. Seseorang yang memastikan sekolah berjalan sesuai tujuan dengan nyaman dan tentram. Itu juga mengajarkan anak tentang pertangungjawaban.
Ibu. Tiga kata bermakna penuh kemuliaan yang memiliki kedudukan surga di telapak kaki. Dalam kemuliaannya, mengandung do'a di setiap ucapan. Itu me…

Arahkan Larangan Anak

Saat anak bayi bertambah umurnya menjadi belasan atau puluhan bulan nanti, semakin aktif dan ingin tahu banyak hal, terkadang menjadikan orang tua khawatir dan kelabakan. Tak jarang orang tua terlebih ibu, memasang rambu peringatan untuk anak.
"Kakak, no, no. Lantainya kotor," tegasku suatu hari, menghalangi anak bermain debu. Di hari lain, saat agenda makan bersama keluarga, kakak tertarik dengan nasi panas yang terhidang di tengah kami, langsung saja eyangnya setengah teriak memperingatkan, "Eh, awas nasinya panas. Hati-hati, singkirkan aja." Apalagi kakak yang sedang ketagihan belajar naik turun tangga akan sering dapat peringatan, "No, no, sudah ya, jangan naik-naik tangga lagi."
Peringatan yang sudah diberikan tadi apakah dipahami anak? Sekalipun melarangnya dengan sepenuh cinta, apakah anak langsung berhenti tidak mengulangi?
Menurut Mbak Okina Fitriani dalam bukunya The Secret of Enlightening Parenting, penting memberikan perintah arahan larangan …

Pembuktian Kasih Ibu (2)

Kasih ibu kepada beta Tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi  Tak harap kembali Bagai sang surya menyinari dunia
Senandung yang sudah tidak asing lagi kita dengar tentang kasih ibu yang luar biasa seperti matahari menyinari bumi. Tidak perlu diragukan kasihnya ibu, buktinya sudah tampak jelas dalam keseharian, menurut kita sebagai ibu. Tapi menurut anak-anak apakah bukti kasih itu sudah cukup? Nah bagaimana membuktikan kasih ibu selanjutnya?
Memahami alasan anak Anak mempunyai tipe khas semaunya sendiri, menyenangkan diri sesuai keinginananya. Belum tahu apakah itu benar atau salah, disesuaikan dengan tingkat perkembangan kejiwaannya. Menurut orang tua, sikap bermain-main air itu salah, tapi bagi anak-anak, itu bukanlah kesalahan. Mereka mempunyai alasan atas perbuatannya, meskipun bagi kita itu adalah hal yang konyol. Bisa jadi, anak-anak bermain air karena ingin menyiram tanaman dengan kedua tangannya. Sayangnya, niat baik itu dinilai salah oleh ibu karena belum paham dunia anaknya hin…

Pembuktian Kasih Ibu

"Kakak, jangan main air terus," kata ibu setengah berteriak karena melihat si kakak bermain air kran dengan temannya.
"Sebentar saja Bu!" jawab Adit santai sambil tertawa gembira.
"Duh, kakak susah diberi tahu. Dibilangi berapa kali kok diulang terus!" tegas ibu dengan nada yang lebih tinggi dan mulai beranjak dari tempat duduk.
"Bu, Adit mau main ke lapangan saja ya," tukas Adit dengan cepat menggandeng temannya sambil berlari,saat melihat ibu akan menghampiri.
"Eh, malah lari, air kran belum dimatikan juga. Anak kok ngelawan," sergah ibu, kesal.
Pernah melihat kejadian seperti ini? Atau pernah melakukannya? Anak berani menentang ibunya sendiri dan malah kabur dengan membawa kekesalan karena diomeli ibu di depan temannya.
Tapi apakah sang ibu juga benar-benar membenci hingga mengeluarkan cap negatif pada anak? Sepertinya tidak juga, kemungkinan terbesar adalah kesalahpahaman karena tidak tersampaikan keinginan dan pesan ibu yang ditangkap a…

Cinta Ibu yang Diuji

Kupandang lekat mata bulat yang terpejam, hidung lancip, nafas yang bergerak teratur dengan mulut seakan berucap oh. Cinta mungil yang diharapkan menjadi penyejuk hati penduduk bumi baru tertidur pulas saat jarum jam hampir menunjukkan angka 10 malam. Itu bukan pertama kali cinta mungil mengajakku hampir atau bahkan begadang malam. Tapi karena masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan, rasanya malam ini cintaku padanya diuji.

Sebelas bulan yang lalu, aku merasa sedang diuji cinta. Cinta mungil yang hampir setiap jam menangis dan menangis. Lapar dan hausnya sudah terobati hingga membuatnya lelap namun hanya bertahan beberapa menit, pecahlah tangisnya lagi.

Kucoba menimang sambil bersenandung lirih, perlahan matanya mulai terpejam. Kuletakkan di tempat tidurnya dengan perlahan sambil menghela nafas panjang, namun tidak bertahan lama, bergerak-gerak setiap bagian tubuhnya dan mulai keluarlah suara tangisannya. Sebelum nada tangisannya berubah menjadi nada ‘do’ tinggi, segera kudekap…

Eksplorasi Bau

Postingan sebelumnya sudah membahas mengenai buku Keajaiban 7 Indra. Untuk menciptakan keajaiban tujuh indra tersebut diperlukan rangsangan yang tepat juga. Para psikolog tim Rumah Dandelion yang menuliskan buku tersebut memberi inspirasi berupa beragam permainan sensori untuk menghasilkan sensori integrasi tujuh indra kita.
Kali ini saya mencoba ide permainan sensori yang memberikan stimulasi indra penciuman pada Hizbi, judulnya adalah eksplorasi bau.
Bahan yang dibutuhkan: Botol kosong atau gelas plastikKapas atau tisuJeruk nipis, parfum bayi, minyak telon (bisa disesuaikan dengan bahan yang ada di rumah)Langkah membuatnya: - Siapkan kapas dan teteskan masing-masing cairan pada permukaan kapas. - Letakkan kapas yang sudah ditetesi cairan ke dalam gelas plastik.
Cara bermain: Berikan masing-masing gelas plastik yang berisi kapas pada anak untuk dicium baunya secara bergantian.Jelaskan isi bau dari masing-masing gelas plastik.Biarkan anak bermain-main dengan mencium bau dari gelas plast…

Keajaiban Tujuh Indra

Sepengetahuan saya, setiap manusia mempunyai lima indra atau sering disebut panca indra. Jika ada yang mempunyai indra keenam, itu hanya orang-orang tertentu saja. Tapi saya langsung penasaran begitu membaca kata tujuh indra. Terlebih judul bukunya menarik yaitu 'keajaiban tujuh indra'. Judul itu membuat saya tertarik untuk membeli dan membacanya. Setelah saya baca, ternyata saya masih perlu banyak menggali dan memperbarui pengetahuan yang terus berkembang. Nah, saya coba untuk mengulas sedikit isi buku tersebut.
Ada tujuh indra dimiliki setiap orang di dalam dirinya. Apa saja tujuh indra itu? Indra penglihatan yaitu mata. Berkaitan dengan rangsangan secara visual terhadap gambar, warna, cahaya ataupun bentuk.Indra penciuman yaitu hidung. Rangsangannya berupa bau. Begitu ada bau yang tercium maka reseptor di dalam hidung  akan mengirim pesan ke otak untuk mengidentifikasi jenis bau.Indra perasa yaitu lidah. Ada empat macam rasa yang dapat dideteksi lidah antara lain manis, asi…

DIY Pasir Kinetik

Patut bersyukur hidup di zaman sekarang karena diberi kemudahan untuk mengakses segala informasi dengan berbagai kecanggihan teknologi. Jika menuliskan kata DIY (do it yourself) permainan anak di salah satu laman pencarian maka akan muncul beragam ide permainan kreatif. Salah satunya ketika saya mencoba mencari ide permainan yang merangsang indera peraba anak dengan judul DIY pasir kinetik. Hasil pencariannya banyak sekali dengan bermacam bahan yang berbeda. Akhirnya saya tentukan berdasarkan bahan yang tersedia di rumah saja, tidak perlu dibuat terlalu rumit.
Bahan:  - Tepung terigu - Minyak goreng - Pewarna makanan - Miniatur binatang
Cara membuat: - Masukkan terigu ke dalam mangkok - Tuangkan minyak sedikit-sedikit supaya bercampur dengan terigu hingga teksturnya berubah - Beri pewarna makanan - Pasir kinetik siap dimainkan. Tekstur akan berpasir tapi mudah dibentuk jika dipadatkan
Mengapa memillih membuat pasir kinetik sendiri? Karena saya terrmasuk ibu yang perhitungan, beli pasir kinetik t…