Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Maksimalkan Perhatian Positif, Minimalkan Perhatian Negatif

Jam pelajaran sudah usai tapi saat itu saya masih belum beranjak dari kelas. Membereskan segala pernak pernik dokumen di meja sambil menemani anak-anak melakukan piket sepulang sekolah. Tiba-tiba seorang siswa yang piket memberitahu bahwa ada seseorang yang mencari saya. Ketika melihat sosoknya membuat saya berpikir antara yakin dan tidak yakin, ini wali murid siapa karena belum pernah bertatap muka sebelumnya. Ternyata itu adalah wali murid dari Inats yang mengadu kesal kalau sang anak belum mau pulang. Wali murid (pengasuh) mengenalkan dirinya bernama Rahma.
Seketika saya berpikir, “Lha kenapa kok nggak dibujuk sendiri kan dekat sama Mbaknya, setiap hari bertemu.”
Sambil mencari si anak, saya pun bertemu guru lain mengadukan hal yang sama bahwa Inats belum mau pulang meskipun sudah dijemput, malah terkesan menghindar. Saya masih bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi dengannya karena tidak biasanya seperti ini.
Melihat Inats di sudut suatu tempat yang masih asyik membuka-buka hal…

Coaching, Komunikasi yang Mencerahkan

Adit menunggu Mama yang sedang berdiskusi tugas dengan temannya, namanya Tante Melati. Ketika dilanda bosan karena lama, dia memilih untuk mengamati jalanan dari balik jendela kamar diskusi. Tante Melati yang melihat kejadian itu mendekat pada Adit dan menawarkannya untuk menggambar. Dengan menyodorkan lembaran kosong, Tante Melati memulai dialog dengan bertanya, “Apa yang mau digambar Adit?” “Gambar sepeda,” jawab Adit. “Tapi boleh minta tolong gambarkan sepeda? Aku nggak bisa gambarnya,” lanjutnya. “Oke, kalau mau gambar sepeda, itu rodanya ada berapa?” tanya Tante Melati menerima tawaran menggambar dari Adit. Adit menjawab dengan menceritakan keinginan yang dibayangkannya yaitu sepeda beroda banyak. Tante Melati yang menuruti keinginan Adit menggambarkan mobil. Dari gambar mobil itu, Adit meminta digambarkan dengan pintu mobil yang bisa dibuka dari atas. Sambil menggambar, Tante Melati masih kembali bertanya, “Kalau pintunya ada di atas, bagaimana cara naiknya?” *** Masih berlanjut perca…

Tegur Sikapnya, Hargai Pribadinya

Setiap anak yang dilahirkan dari rahim ibunya adalah penciptaan terbaik dari Allah, mereka membawa fitrah yang baik. Tugas orang adalah menjaga fitrah dan potensinya agar tetap baik bahkan berkembang dan meningkat supaya anak menjadi pribadi yang juga bermanfat bagi orang lain, selain diri sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan.(QS At-Tin ayat 5)
Allah sudah menyatakan dalam ayat di atas bahwa menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Lalu bagaimana supaya orang tua bisa menjaga amanah Allah? Bagaimana supaya fitrah dan potensi baik anak tetap terjaga?
Banyak sekali tugas orang tua, secara kasat mata terlihat berat. Ya bagaimana tidak berat, karena balasannya adalah surga dan kelak merekalah yang akan mengaliri pahala amal jariyah insya Allah. Rasulullah Nabi Muhammad bersabda –sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim- “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): se…

Teguran Satu Menit

Dalam mendidik anak, ada hal penting yang harus senantiasa dilakukan agar terjadi chemistry dengan orang tua, apa itu? Komunikasi. Menurut sebuah survey yang ditulis di situs dictio.id tentang seberapa penting komunikasi dua arah dalam komunikasi bisnis, ditemukan bahwa 64% responden (yang merupakan bawahan) mengharapkan komunikasi dan umpan balik yang baik dari atasan mereka. Komunikasi di bidang bisnis saja seperti itu terlebih komunikasi dua arah antara orang tua dan anak yang saling mempunyai keterikatan atau hubungan darah dengan interaksi setiap harinya.
Namun terkadangdalam berinteraksi ada kesalahpahaman penyampaian dan penerimaan antara orang tua dan anak. Misalkan saja ketika anak melakukan kesalahan, apa yang dilakukan orang tua? Beberapa orang tua (saya termasuk di dalamnya) mungkin memilih mengomel, menasehati atau bahkan menjadi hakim yang memutuskan konsekuensi dari kesalahan anak.
Sebagai umat Islam, ketika ada permasalahan diminta untuk merujuk kembali kepada Al Qur’an …

Membentuk Kepribadian melalui Prasangka

Adanya buah hati mengubah status suami istri naik kelas menjadi ayah bunda. Kehadirannya tentu membawa kebahagiaan tersendiri di dalam sebuah keluarga kecil. Tapi di satu sisi ada kekhawatiran dalam tanggung jawab mendidiknya, anak-anak yang akan menghadapi akhir zaman nanti. Sudah siapkah sebagai orang tua meluangkan waktu untuk menemani setiap tumbuh kembangnya?
Terasa berat memang, tapi setiap orang tua wajib meyakinkan diri bahwa siap dan sanggup untuk mendidik anak dengan hati bahagia. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seperti di dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari no.6970, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Nabi Muhammad bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingatku di suatu kumpulan. Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih daripada itu (kumpulan malaikat).”
Lalu bagaimana ya supaya prasangka ba…

Membandingkan Komentar Positif dan Negatif

Komunikasi menjadi salah satu hal penting dalam pengasuhan anak. Banyak yang mengatakan bahwa komunikasi bukan hanya ketika sudah lahir tapi semenjak di dalam kandungan, setiap orang tua dapat mulai berinteraksi secara verbal kepada janin. Lalu sebagai orang tua pasti berharap, ucapannya segera dipahami dan mudah diterima sang anak, betul atau betul?
Tapi sebagai anak-anak, apakah perkataan orang tua akan langsung diterima dan dikerjakan? Bahwa ternyata, terkadang penerimaan anak tidak semudah orang tua mengeluarkan kata-kata. Semisal orang tua meminta tolong atau mengatakan sesuatu tapi si anak melengos, menunda atau bahkan menolak secara langsung. Bagaimana rasanya sebagai orang tua? Kalau saya agak gemas ya dan mulai merasakan ada perubahan hormon dalam tubuh.
Lalu kira-kira komunikasi seperti apa yang akan berpengaruh untuk menanamkan nilai-nilai postif kepada anak? Mari kita cek di dalam Al Qur’an. Ada enam cara berkomunikasi yang dijelaskan di dalamnya, antara lain: 1.Qaulan sadid…

Mengasah Tujuh Indra di Alam

Sebagai orang tua, apakah ada yang memberi alternatif alam pedesaan sebagai salah satu inspirasi belajar dan bermain? Dengan mencoba memberi kesempatan anak untuk bermain air, pasir, tanah atau lumpur. Sejenak menjadi orang tua yang mengabaikan kebersihan agar anak mendapat pelajaran berharga dari bersahabat dengan alam.


Apa yang bisa dilakukan anak di alam pedesaan? Anak akan diasah kepekaan tujuh indra yang dimiliki. Dari segi fisik, mereka bebas berlarian di bukit atau tanah lapang, menanam bibit tanaman atau bercocok tanam, mencabut rumput dan banyak kegiatan lain yang mengasah ototnya. Anak juga bisa berlatih menjaga keseimbangan dengan menyusuri sawah atau meniti jembatan. Selain itu, dapat  mengamati pemandangan yang belum tentu ada di kota.

Melalui indra peraba, anak bermain bermacam tekstur dari pasir, lumpur, tanah, batu, kerikil, daun dan lainnya. Anak juga belajar mendengar lebih peka tentang suara alam dari hewan, gesekan daun, angin dan masih banyak lagi.

Anak bisa diajak me…

Tantangan Menulis 30 Hari

Pada awalnya berpikir menumbuhkan keingintahuan,
Keingintahuan melahirkan perbuatan, Dan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang Membentuk kebiasaan - Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah -
Tulisan tagar 30dwc yang terlihat sekilas mata memandang akun seorang teman, mampu menimbulkan rasa penasaran. Saya coba mencari dan mengintip infonya dengan malu-malu, apa sih 30dwc itu? Pertama mengintip akun instagram pejuang30dwc, apakah langsung tertarik? Ternyata belum. Sekali lagi coba mencari tahu karena melihat teman-teman yang sudah jauh melangkah setelah mengenal 30dwc. Akhirnya membulatkan tekad untuk coba menikmati pesona 30dwc.
30 day writing challenge (30dwc) adalah tantangan menulis selama 30 hari. Ya, di sini saya merasa tertantang untuk menulis 30 hari tanpa henti dimulai dengan mendeklarasikan semangat saya itu. Ternyata semangat deklarasi itu berpengaruh sekali hingga di hari 30, saat ini.
Apa iya, menulis 30 hari itu tantangan? Kalau menurut saya, iya ... karena belum terbiasa menulis. …

Menanggapi Permasalahan Anak

Hidup dalam berumahtangga ibarat kapal mengarungi lautan. Setiap saat harus siap akan diterpa ujian berupa angin dan badai sehingga nahkoda dan awak kapal harus cerdas mengarungi dan mengendalikan kapal. Sehingga setiap hari harus berpikir, menambah ilmu sesuai dengan cobaan yang datang bergiliran sejalan berkembangnya kehidupan menjadi istri atau suami hingga berubah status sebagai ibu atau ayah.

Cara mendidik anak saat ini, secara tidak langsung ada bayang-bayang didikan dari orang tua sebelumnya. Padahal, lain zaman dulu dengan sekarang. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zaman.”
Dari nasihat tersebut yang dianggap berbeda adalahcara mengomunikasikan dalam mendidik tapi koridor islam tetaplah tidak berubah. Contoh mendidik zaman dulu adalah memberi tanggapan ketika anak terjatuh, “Aduh, lantainya nakal ya sampai kakak terjatuh ... Sini biar eyangti pukul.”
Atau memberi tambahan mendiamkan seperti ini, “Eh su…

Dunia Pemikiran Anak

Terkadang, pembicaraan antara orang tua dan anak akan berakhir menjadi ajang adu argumentasi. Di satu sisi, orang tua melontarkan petuah dan aturan. Sedangkan anak, mengotot dengan pendapatnya dan ingin membantah karena mempunyai pemikiran sendiri. Contohnya begini.
“Kak Raffi, makan dulu ya,” kata Ibu sambil menyiapkan makan malam.
“Apa lauknya? Ayam lagi? Bosen ... aku mau lainnya,” rengek Raffi.
“Jangan pilih-pilih makanan. Ibu sudah capek kerja, nggak sempat masak lainnya,” sahut Ibu.
“Nggak mau makan,” rengek Raffi sekali lagi.
“Ya kalau nggak mau makan, kelaparan, nanti sakit. Mau? Sudah makan sini,” kata Ibu menutup pembicaraan dengan jengkel.

Lalu kira-kira apa yang terjadi setelah itu? Bisa saja, berakhir baik, jika sang anak menurut dan memendam rasa kesalnya. Tapi emosinya bisa menjadi bom waktu. Atau mungkin, akan berlanjut adegan selanjutnya, saling menampakan kekuatan otot suara dengan maksimal.

Menurut Irawati Istadi, seorang praktisi homeschooling, salah satu seni berbicara d…

Anak Perempuan Masa Depan

"Qila kalau besar nanti mau jadi apa?" tanyaku iseng pada salah satu anak dari rekan kerjaku dulu.
“Mau jadi Umik,” jawabnya singkat. “Jadi Umi? Kenapa nggak jadi guru aja, Umi kan guru?” godaku sekali lagi. “Nggak. Pokoknya maunya jadi Umi, kayak Umi,” jawabnya sambil setengah teriak meyakinkanku.
Begitulah kira-kira percakapanku dengan seorang anak gadis berusia empat tahun yang membuat saya terharu dengan jawabannya. Karena fitrahnya anak perempuan adalah mencontoh dan meneladani sikap keseharian ibu yang akrab dengannya, tanpa mempedulikan apakah sang ibu adalah working mom atau stay at home mom.
Dan seorang wanita yang sudah menikah, kemudian mengandung dan melahirkan, tentu akan terlahir sebagai ibu. Itulah fitrahnya wanita dengan apa pun label keahlian yang melekat pada dirinya.
Lalu bagaimana mendidik anak perempuan supaya tidak meninggalkan fitrahnya di masa depan?

Mengutip tulisan Teh Kiki Barkiah di bukunya yang berjudul Lima Guru Kecilku, bekal penting yang dibutuhkan ad…

Persiapan Bersahabat dengan Alam

Hamparan sawah berhektar-hektar, tanah hijau berbukit, hewan-hewan ternak berkeliaran,  udara sejuk sebelum matahari terbit,  gemericik air dengan pesona kesegarannya dan banyak gambaran menyenangkan yang terlintas tentang pedesaan.

Dengan segala kelebihan alam pedesaan yang disajikan Allah, sebagai orang tua, adakah yang menjadikannya inspirasi belajar dan bermain anak? 

Tapi bagaimana jika anak belum pernah ke pedesaan dan akan pertama kali ke sana? Apa yang disiapkan selain fisiknya? Persiapan psikis perlu kah?

Ya, ternyata dijelaskan oleh Okina Fitriani dalam bukunya The Secret of Enlightening Parenting, perlu dilakukan briefing dan role playing di rumah, sebelum mengajak anak ke tempat atau acara yang belum pernah dialami untuk kebaikan psikisnya.
Orang dewasa saja butuh latihan, gladi bersih untuk acara yang dirasa penting, terlebih anak kecil di dalam memorinya belum ada ruang untuk kata pedesaan. Perlu melakukan pengenalan dan latihan supaya dapat membayangkan hal yang akan diala…