Posts

Showing posts from November, 2015

Menjadi Ibu yang Dirindukan

Oleh : Ustadz Bendri Jaisyurrahman
Kamis 19 November 2015

Ibu adalah profesi utama, yang lain adalah sambilan. Jangan menjadikan mengasuh anak adalah Sambilan. Karena kalau tidak si anak akan jadi 'sambal-sambal'an, cikal bakal cabe-cabean.
Kisah keteladan Ibu yang mencetak anak anak hebat,
Adalah Al-Nawar binti Malik, mempunyai anak bernama Zaid bin Tsabit.
Zaid waktu itu masih belia, tatkala ia mendengar seruan Rasulullah tentang Jihad. Ia mengambil pedang Ayahnya, dengan semangat 45 ia menemui Rasulullah. Pedang dan tubuh Zaid, masih lebih besar pedangnya. Rasulullah yang melihat Zaid yang begitu bersemangat, memerintahkan ia untuk pulang kembali pada Ibu nya. Karena memang aturan Perang dilarang Anak-anak, wanita dan orangtua. Zaid sedih dan kecewa. Tersedu ia menangis karena ditolak Rasulullah berjihad. Disinilah Peranan Bunda Hebat yang harus bisa membesarkan jiwa si anak. Ia tidak meremehkan motivasi kuat si anak. Bunda Al-Nawar mengatakan pada Zaid "anakku.. Jika …

Setengah Tahun

Image
rindu itu bumbunya kehidupan suami-istri, maka keluarlah pagi-pagi, carilah bagian dari rezeki di dunia, dan kembalilah di akhir hari penuhi rindu
percaya itu ibarat tiang utama dalam pernikahan, maka jagalah dan jangan lalaikan sedikitpun, teguhkan, dan kokohkan dengan jujur dan amanah
dan senda-gurau, saling mendengarkan, itu nyawanya berkeluarga, disitu kita saling memahami dan mengerti, mengasihi dan menyayangi
diatas segala-galanya, Islam itu ruh kehidupan, tanpanya tak ada guna menikah, takkan bahagia berkeluarga, dan takkan langgeng suami-istri.
-Felix Siauw-
Bismillah, hanya kepada Allah tempat kami bergantung. Hanya izin Allah yang memberikan kami waktu untuk menghela nafas hingga detik ini. Semoga setengah tahun kebersamaan semakin mendewasakan kami berdua untuk senantiasa berharap dan bersyukur pada Allah.
Ponorogo, 15 November 2015 09:33

Tetangga Masa Gitu

Image
"Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu . . " [QS. 65:6]Setelah menikah, ada baiknya untuk tinggal tidak satu atap dengan orang tua jika kondisi memungkinkan, meskipun hanya berjarak satu atau dua rumah saja. Karena dari atap yang berbeda itulah, semakin memberikan banyak pelajaran tersendiri untuk suatu pasangan baru.Saya pun mengalami itu. Berada satu atap berdua dengan suami saja, di lingkungan yang baru, di kota yang baru, di rumah yang baru (baru dikontrak maksudnya). Alhamdulillah lingkungannya cukup kondusif karena perumahan ini sebelahan tembok dengan pondok gontor 2. Perumahan ini bersifat cluster, hanya satu gerbang untuk keluar masuk perumahan, tembok pembatas antar tetangga juga tidak tinggi dan para tetangga ramaah sekali (walapun belum mengenal lebih dekat) atau mungkin karena memang sifat alamiah orang Indonesia dengan adab ketimuran, jadi setiap berpapasan dengan tetangga meskipun tidak dikenal tetap bersedekah seny…

Harmonisasi Pasutri

Bismillahirrohmanirrohim..Resume pertemuan pekanan SAHAJA, 24 Oktober 2015-dalam pembahasan Islamic Parenting-Oleh: Ust Bendri JaisyurrahmanPasangan kita lebih berhak, untuk segala kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di luar rumah. Jika kita bisa bersabar menghadapi cerita seorang teman, maka semestinya kita harus lebih sabar menghadapi cerita pasangan.
Jika kita bisa memberikan senyum terbaik pada karyawan, teman kantor, dan yang lain, maka pasangan kita LEBIH BERHAK mendapat senyum paling manis dari wajah kita.
Jika seorang wanita bisa berdandan paling cantik untuk suatu acara di luar rumah agar membahagiakan orang lain, maka semestinya suaminya lebih berhak untuk mendapatkan kecantikannya yang paripurna.
Begitulah Islam, memulai sesuatu dari pihak terdekat.
(Al-'Isrā'):26 - Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ....
(Ar-Rūm):38 - Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ....Indikator kebaikan seseorang lihat bagaiman ia bersikap pa…

Manajemen Cinta

Saya tidak lupa dengan 3 buah pembicaraan yang begitu mengesankan antara saya dan anak saya Ali yang kini berusia 10 tahun. Pembicaraan yang sangat serius dan penuh privasi saat saya ingin mengajarkan tentang bagaimana adab dalam berhubungan dengan lawan jenis.Saya terpaksa mengawali pembicaraan mengenai hal ini saat usia ali 6 tahun. Pertimbangannya, karena saat itu fenomena “pacaran” sudah mulai ramai di kalangan anak sekolah dasar. Entahlah……. saya tidak tau apakah tepat atau tidak pilihan kata yang saya gunakan, tapi begitulah adanya, keadaan mendorong saya untuk menyampaikan yang harus disampaikan.Saat usia Ali 6 tahun (di Indonesia)Ummi: “Ali kamu pernah denger kata pacaran gak?”Ali: “iya, anak di sekolah sdit ada mi yang pacaran” (saat itu Ali masih sekolah di sdit)Ummi: “oh ya? menurutmu gimana li?”Ali: “gak boleh kan mi? langsung nikah ajak kan mi? kayak ummi dan bapak”Saya terkejut sambil tersenyum, ternyata ia sudah dapat menyimpulkan sendiri, padahal belum pernah membahas …