Saturday, 21 November 2015

Menjadi Ibu yang Dirindukan

Oleh : Ustadz Bendri Jaisyurrahman
Kamis 19 November 2015

Ibu adalah profesi utama, yang lain adalah sambilan. Jangan menjadikan mengasuh anak adalah Sambilan. Karena kalau tidak si anak akan jadi 'sambal-sambal'an, cikal bakal cabe-cabean.

Kisah keteladan Ibu yang mencetak anak anak hebat,
Adalah Al-Nawar binti Malik, mempunyai anak bernama Zaid bin Tsabit.

Zaid waktu itu masih belia, tatkala ia mendengar seruan Rasulullah tentang Jihad. Ia mengambil pedang Ayahnya, dengan semangat 45 ia menemui Rasulullah. Pedang dan tubuh Zaid, masih lebih besar pedangnya. Rasulullah yang melihat Zaid yang begitu bersemangat, memerintahkan ia untuk pulang kembali pada Ibu nya. Karena memang aturan Perang dilarang Anak-anak, wanita dan orangtua. Zaid sedih dan kecewa. Tersedu ia menangis karena ditolak Rasulullah berjihad. Disinilah Peranan Bunda Hebat yang harus bisa membesarkan jiwa si anak. Ia tidak meremehkan motivasi kuat si anak. Bunda Al-Nawar mengatakan pada Zaid "anakku.. Jika Rasulullah, belum mengizinkanmu berjihad ke medang perang, ketahuilah nak, berjihad lah dengan jalan lain.. Berjihadlah lewat Pena anakku, Belajar, belajar, dan Hafalkan Alqur'an. Zaid lalu pergi kembali pada Rasulullah, kali ini tidak untuk berjihad memakai Pedang, tapi diminta mendengarkan Hafalan Alqur'annya. Waktu itu Alqur'an baru turun 17 juz. Dalam kurun singkat, Zaid telah merampungkan hafalannya. Allahu Akbar.

Zaid bin Tsabit si Pencatat Wahyu, anak muda dengan kecerdasan dan potensi gemilang.
Siapa yg berperan? Ibu.
Ibu jangan mematikan potensi anaknya.
Ulama mujahid bernama Faruq mempunyai Istri yg ditinggal olehsi suami selama 30 tahun. Diamanahkan uang kurang lebih sebesar 60 Milyar. Tapi ia tidak mempergunakan untuk hal keduniawian. Terbukti setelah 30 tahun, Faruq kembali, dan rumah mereka masih seperti yang dulu. Ternyata istri nya menginvestasikan uang tersebut untuk pendidikan anak nya. Anaknya seorang ulama besar bernama Rabi'atul Rabbiy, guru Imam Malik dan Imam Hanifah.

Lisan seorang ibu Keramat.

Sunday, 15 November 2015

Setengah Tahun

rindu itu bumbunya kehidupan suami-istri, maka keluarlah pagi-pagi, carilah bagian dari rezeki di dunia, dan kembalilah di akhir hari penuhi rindu
percaya itu ibarat tiang utama dalam pernikahan, maka jagalah dan jangan lalaikan sedikitpun, teguhkan, dan kokohkan dengan jujur dan amanah
dan senda-gurau, saling mendengarkan, itu nyawanya berkeluarga, disitu kita saling memahami dan mengerti, mengasihi dan menyayangi
diatas segala-galanya, Islam itu ruh kehidupan, tanpanya tak ada guna menikah, takkan bahagia berkeluarga, dan takkan langgeng suami-istri.
-Felix Siauw-
Bismillah, hanya kepada Allah tempat kami bergantung. Hanya izin Allah yang memberikan kami waktu untuk menghela nafas hingga detik ini. Semoga setengah tahun kebersamaan semakin mendewasakan kami berdua untuk senantiasa berharap dan bersyukur pada Allah.
Ponorogo, 15 November 2015 09:33
walimatul ursy

Saturday, 14 November 2015

Tetangga Masa Gitu

"Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu . . " [QS. 65:6]

Setelah menikah, ada baiknya untuk tinggal tidak satu atap dengan orang tua jika kondisi memungkinkan, meskipun hanya berjarak satu atau dua rumah saja. Karena dari atap yang berbeda itulah, semakin memberikan banyak pelajaran tersendiri untuk suatu pasangan baru.

Saya pun mengalami itu. Berada satu atap berdua dengan suami saja, di lingkungan yang baru, di kota yang baru, di rumah yang baru (baru dikontrak maksudnya). Alhamdulillah lingkungannya cukup kondusif karena perumahan ini sebelahan tembok dengan pondok gontor 2. Perumahan ini bersifat cluster, hanya satu gerbang untuk keluar masuk perumahan, tembok pembatas antar tetangga juga tidak tinggi dan para tetangga ramaah sekali (walapun belum mengenal lebih dekat) atau mungkin karena memang sifat alamiah orang Indonesia dengan adab ketimuran, jadi setiap berpapasan dengan tetangga meskipun tidak dikenal tetap bersedekah senyuman :))

Di dalam satu lingkungan tersebut, tetangga kanan kiri depan belakang merupakan saudara paling dekat kan, otomatis harus berbaik-baik dengan mereka dan tetangga yang lainnya juga.

Namun saya dan tiap manusia lainnya punya keterbatasan sifat yang terkadang secara langsung ataupun tidak akan terlihat oleh orang lain saat berinteraksi. Interaksi yang paling dekat selain keluarga adalah tetangga hingga secara tidak sadar akan muncul celetukan "tetangga masa' gitu .."

Sebagai orang baru atau anak kemarin sore, saya bersikap manis saja dengan belajar membaca keadaan para tetangga. Rata-rata para keluarga di sini merupakan pekerja, sepertinya yang menjadi ibu rumah tangga bisa dihitung di perumahan ini. Tapi salutnya para ibu masih menyempatkan waktu sebulan sekali untuk pengajian di musholla dan di lain waktu juga ada arisan. Hebat ya para ibu itu *.*

Menurut saya yang penting dalam hidup bersosial adalah komunikasi dan sikap dewasa antar tetangga supaya tidak terjadi miss communication dan hidup damai rukun sentosa sejahtera.

Saturday, 7 November 2015

Harmonisasi Pasutri

Bismillahirrohmanirrohim..

Resume pertemuan pekanan SAHAJA, 24 Oktober 2015

-dalam pembahasan Islamic Parenting-

Oleh: Ust Bendri Jaisyurrahman

Pasangan kita lebih berhak, untuk segala kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di luar rumah.

Jika kita bisa bersabar menghadapi cerita seorang teman, maka semestinya kita harus lebih sabar menghadapi cerita pasangan.
Jika kita bisa memberikan senyum terbaik pada karyawan, teman kantor, dan yang lain, maka pasangan kita LEBIH BERHAK mendapat senyum paling manis dari wajah kita.
Jika seorang wanita bisa berdandan paling cantik untuk suatu acara di luar rumah agar membahagiakan orang lain, maka semestinya suaminya lebih berhak untuk mendapatkan kecantikannya yang paripurna.
Begitulah Islam, memulai sesuatu dari pihak terdekat.
(Al-'Isrā'):26 - Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ....
(Ar-Rūm):38 - Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ....

Indikator kebaikan seseorang lihat bagaiman ia bersikap pada pasangannya.

Mengapa kita sering stres menghadapi pasangan dan mengurus anak? Sebab sering salah dalam meletakkan prioritas. Pada orang lain memberikan yang terbaik dari diri, sedang untuk keluarga diberikan yang hanya sisa.
Maka sabarmu, senyummu, perhatianmu, lebih berhak kau berikan kepada pasanganmu, kepada anak-anakmu.

Apa saja harmonisasi yang harus kita lakukan pada pasangan?
1. Harmonisasi terkait visi dan misi
Menjadi salah satu dasar untuk meraih keberkahan dalam hidup berumah tangga. Visi misi keluarga muslim haruslah jauh ke depan, yaitu surga. Mencari kejayaan akhirat.
(Al-Qaşaş):77 - Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi ....

Akhirat adalah prioritas utama, sedang dunia tak boleh dilupakan. Jadikan kegiatan rutin keluarga adalah yang berkaitan dengan akhirat.

Akan terjadi perdebatan jika antara istri dan suami berbeda visi, tidak sama harus bervisi surga. Suami ingin sampai akhirat, sedangkan istri hanya ingin di dunia(atau sebaliknya). Maka antar pasangan harus memiliki visi yang sama, yaitu surga, visi akhirat. Agar langgeng sampai ke surga. Itulah mengapa dalam harmonisasi pasutri dimulai dari memilih pasangan sebelum menikah.

Bukan berarti mengabaikan dunia. Tetapi akhirat harus jadi prioritas baru setelah itu dunia. Bukan dunia baru setelah itu akhirat. Jangan dibalik dan jangan terbalik.
Jika visi akhir adalah surga, maka akan mudah bagi suami untuk bersabar pada istrinya, dan istri sabar pada suaminya.

2. Harmonisasi spiritualitas; terkait dengan ibadah
Karena urusan mengikat hati bukan urusan praktek romantisme, urusan mengikat hati adalah urusan Allah.
(Al-'Anfāl):63 - dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka...

Yang membuat pasangan saling mesra adalah kesamaan spiritualitias. Sama-sama taat pada Allah. Maka perceraian atau konflik faktor utamanya adalah karena spiritualitas yang tidak sama. Maka saling mengingatkan pasangan agar tetap taat pada Allah adalah kunci untuk selalu mesra sepanjang hayat.

3. Harmonisasi dari sisi aturan
Aturan terkait menjalani rumah tangga. Suami/istri tidak boleh membuat aturan sendiri. Termasuk dari harmonisasi dalam aturan yaitu meneguhkan siapa yang menjadi otoritas pemilik aturan. Yaitu suami, sedang istri memberi masukan.

4. Harmonisasi komunikasi
Berkaitan dengan bagaimana komunikasi saat marah, apa yang dilakukan saat pasangan marah. Memahami istri bahwa ketika marah butuh bicara, maka fasilitasi waktu yang tidak terburu-buru, agar tidak menyakitkan istri. Menunda mendengarkan cerita istri sampai suami punya waktu luang untuk mendengarkan semua sampah emosi istri adalah lebih baik dibanding mendengarkan saat itu juga tapi suami terburu-terburu dan berpura-pura simpatik, akan malah menyakitkan istri. Itulah komunikasi.

5. Harmonisasi program pengasuhan
Membuat target program-program pengasuhan di setiap jenjang usia anak.

5 poin harmonisasi ini harus senantiasa didiskusikan dengan diawali dialog. Salah satu kebiasaan pasutri yang tidak boleh hilang adalah dialog sebelum tidur. Seperti yang dicontohkan Rosulullah kepada para istrinya. Itulah ciri khas rumah tangga surgawi.
(Aş-Şāffāt):50 - Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.
Al-Ĥijr:47 - Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Salah satu kebiasaan harmonisasi penduduk surga adalah duduk berhadap-hadapan sambil berdialog. Jika hal itu jarang dilakukan maka harmonisasi antar pasutri akan berkurang, sebab 5 poin harmonisasi akan terlihat saat berdialog. Saling tahu visi misinya, saling membangun spiritualitas, membicarakan aturan, berkomunikasi, dan membicarakan pengasuhan. Semua dengan dialog, duduk berhadap-hadapan.

Maka mulailah harmonisasi keluarga kita dengan berdialog, berdiskusi, duduk berhadap-hadapan, agar bersama membangun keluarga hingga ke surga.
Insyaa Allah..

(Masih bersambung di pertemuan berikutnya)

Notulis:
Aldiles Delta Asmara

Manajemen Cinta

Saya tidak lupa dengan 3 buah pembicaraan yang begitu mengesankan antara saya dan anak saya Ali yang kini berusia 10 tahun. Pembicaraan yang sangat serius dan penuh privasi saat saya ingin mengajarkan tentang bagaimana adab dalam berhubungan dengan lawan jenis.

Saya terpaksa mengawali pembicaraan mengenai hal ini saat usia ali 6 tahun. Pertimbangannya, karena saat itu fenomena “pacaran” sudah mulai ramai di kalangan anak sekolah dasar. Entahlah……. saya tidak tau apakah tepat atau tidak pilihan kata yang saya gunakan, tapi begitulah adanya, keadaan mendorong saya untuk menyampaikan yang harus disampaikan.

Saat usia Ali 6 tahun (di Indonesia)

Ummi: “Ali kamu pernah denger kata pacaran gak?”

Ali: “iya, anak di sekolah sdit ada mi yang pacaran” (saat itu Ali masih sekolah di sdit)

Ummi: “oh ya? menurutmu gimana li?”

Ali: “gak boleh kan mi? langsung nikah ajak kan mi? kayak ummi dan bapak”

Saya terkejut sambil tersenyum, ternyata ia sudah dapat menyimpulkan sendiri, padahal belum pernah membahas ini sebelumnya

Ummi: ‘iya” “btw ada gak sih anak perempuan yang ali suka?”

Ali: “hehehe ada”

Ummi: “oh ya? siapa? ummi kenal gak?”

Ali menyebutkan sebuah nama sambil tersenyum. saya pun tersenyum menahan tawa. Jaman sekarang memang berbeda, anak kelas 1 saja sudah punya kecenderungan hati.

Ummi: “kalo Ali suka sama seseorang, Ali gak usah bilang dulu sama orangnya ya, gak usah cerita sama temen temen juga, nanti diledek, ceritanya sama ummi aja ya… ali boleh suka sama seseorang tapi ali gak boleh berduaan ya sama anak perempuan tanpa teman, gak boleh menyentuh perempuan yang bukan saudara, dan gak boleh sering-sering diinget, nanti kalo sudah besar dan sudah siap baru ali boleh menikah”

Ali: “iya mi”

Setahun kemudian (masih di indonesia)

Ummi: “Aa gimana kabar si xxxx Aa masih suka sama dia?”

Ali: “nggak! udah ganti” (hihiihihihi)

Ummi: “oh ya? sama siapa sekarang sukanya?”

Ali: “sama si xxxx”

Ummi: “hehehehe… mmmmm masih inget kan pesan ummi?”

Ali: “gak boleh pacaran kan mi? langsung nikah aja….” Ummi: “iya… dan jangan bilang sama siapa-siapa ya, ceritanya sama ummi aja. Gak boleh berduaan, dan gak boleh bersentuhan, kalo mau main rame-rame sama yang lain yah. Juga gak usah banyak diinget, nanti ganggu belajar”

Sehari setelah membaca artikel tentang maraknya pornografi yang marak dinikmati oleh anak-anak usia sd di Indonesia, saya jadi penasaran untuk membuka kembali pembicaraan tentang ini bersama anak saya. terlebih kami kini tinggal di california. di suatu subuh, sepulang Ali dan bapak dari masjid saya mengajak ali berdiskusi.

Ummi: “eh li, kemarin ummi kan jemput shafiyah trus main di park sekolah Edenvale, masa coba a ummi liat anak elementary kayaknya grade 5an lagi ngumpul laki-laki sama perempuan terus peluk-pelukan. menurut ali gimana?”

Ali: “gak boleh…”

Ummi: “kalo di sekolah aa gimana? ada gak yang kayak gitu”

Ali: “gak pernah liat sih”

Ummi: “ada yang aa suka gak si sekolah?”

Ali: “mmmm… not here”

Ummi: “di indonesia maksudnya?”

Ali: “no….. di laurelwood” (nama sekolah lamanya)

Ummi: “oh ya? orang india a?’

Ali: “no”

Ummi: “orang jepang?”

Ali: “no”

Ummi: “orang mexico?”

Ali: “no”

Ummi: “bule amerika?”

Ali: maybe….

Ummi: “trus dulu suka main bareng?”

Ali: “jarang ketemu karena pas reses yang boys duduk di meja boys yang girls terpisah, ada sih yang campur tapi aa gak pernah. biasanya yang boys malu kalo ada girls yg girls juga” (hooooo… jadi tau… ternyata sudah muncul persaan malu)

Ummi: “oh ya aa di sekolah usa kan gak kayak sekolah Aa di indo, semua akhwatnya berjilbab. kalo disini auratnya banyak terbuka. kata Rasul, disekitar wanita itu banyak syaitannya, makanya kita diperintahkan untuk menundukan pandangan. Kalo gak sengaja pertama kali gak papa, tapi abis itu jangan diterusin”

Ali: “oke”

Ummi: “Aa tau gak! kalo kita melihat aurat lawan jenis, ada zat kimia di otak yang keluar, namanya dopamin, kalo cuma sekali karena gak sengaja gak papa, tapi kalo diterusin apalagi sampai berkali-kali zatnya keluar terus dan bisa merusak otak aa”

Ali: “oh ya mi? (dengan nada antusias)

Ummi: “iya aa, dan gak tanggung-tanggung yang dirusak 5 bagian otak, lebih parah daripada orang kena narkoba lho. kalo sudah seperti itu sudah gak bisa konsentrasi belajar apalgi beribadah.”

Saya pun mengambil kertas…

Ummi: “nih Aa, ibaratnya kertas ini otak kamu, kalo kamu melihat aurat lawan jenis, otaknya seperti ini (sambil meremas kertas), lihat lagi! (remas kertas lagi), lihat lagi! (remas lagi) rusak deh a otak kita.”

Ali: “really mi?”

Ummi: “serius… janji ya aa sama ummi, jangan pernah lihat aurat perempuan. apalagi di internet jaman sekarang gampang banget nyarinya. inget kan aa temen-temen aa yang di indo yang suka ke warnet itu? janji ya aa sama ummi”

Ali: “iya mi”

Ummi: “kalo aa itu udah ngerasa baligh belum sih? udah pernah mimpi yang bikin basah belum?”

Ali: “kayaknya belum mi, kayak gimana sih basahnya?” Ummi: “dia gak cair kayak ompol, dia lebih kentel”

Ali: “kayaknya belum mi”

Ummi: “nanti kalo Aa ngerasa begitu, aa bilang ya sama ummi. Kamu harus belajar cara mandi wajib, karena kalo kamu gak mandi wajib, shalat mu gak sah” Ali: ‘ok mi!”

Ummi: “oh ya aa, aa taukan gimana islam ngatur soal pernikahan beda agama?”

Ali: “yup… kita harus nikah sama muslim kan?”

Ummi: “yup… trus gimana dong kalo yang aa suka itu bukan muslim?”

Ali: “harus jadi muslim dulu”

Ummi: “yup…. makanya Aa sekarang belajar islam yang serius ya… karena kalo kayak gitu tanggung jawabnya tambah berat, Aa harus ajarin istri Aa tentang islam. Dah sekarang gak usah diinget-inget ya, dan jangan inget lebih dari kita inget sama Allah, nanti Allah cemburu lho”

Ali: “ok mi”

Saya tidak tau apakah pembicaraan seperti ini sesuai dengan ilmu parenting atau tidak. Hanya dengan momohon kelancaran lisan pada Allah serta itikad baik saya untuk menyelamatkan anak-anak dari rusaknya moral dan pergaulan saat ini yang memberi kekuatan bagi saya untuk membangun diskusi ini. Mempersiapkan mereka menuju akil baligh adalah tanggung jawab kita. Saya bersyukur, anak saya bisa terbuka tentang hal ini. Saya harus senantiasa menjaga hubungan yang harmonis diantara kami agar mereka mau bercerita kepada saya bahkan hanya bercerita kepada saya. Saya tidak ingin rasa ingin tau mereka, mereka tanyakan pada orang lain, bahkan pada gurunya di USA. Doa senantiasa saya panjatkan agar mereka senantiasa terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah.

San Jose California, 23 Februari 2014
Dalam buku 5 guru kecilku by kiki barkiah