Thursday, 15 October 2015

Sambal

Karena menikah adalah saling menyatukan dan melengkapi dua insan yang pastinya berbeda. Berbeda suku, budaya, kebiasaan, pemikiran maupun rasa. Soal rasa memang tidak bisa bohong. Bisa jadi percekcokan nantinya jika tidak saling memahami rasa, terlebih rasa masakan. Suami sudah memasang label pedas dari awal berkenalan. Saya tipe yang lemah lembut jadi tidak terlalu suka masakan pedas, apalagi kata-kata pedas.. :D

Ibu mertua jadi kasihan sama anak lanang kesayangannya karena kalau sama saya, suami suka bikin sambal sendiri biar bisa ngatur tingkat kepedasannya (alesan). Terlebih, itu bukan jadi kebiasaan di keluarga saya yang selalu ada sambal di setiap menu makanan. Jadi saya juga tidak peka, sambal yang enak atau tidak enak karena fokus saya cuma satu, pedas. Jadi selama hampir satu bulan, suami yang adaptasi untuk tidak melengkapi menu makannya dengan sambal. Huhu

Alhasil setelah 3 hari pulang ke madiun dan kembali lagi ke ponorogo. Kami diberi bekal sambal tomat, yang bisa sampai beberapa hari saking banyaknya tapi tetap harus dipanaskan supaya tidak basi.

Dan jadilah si sambal sebagai pelengkap menu makanan beberapa hari berikutnya. Alhamdulillah :D

Segala sesuatu yang bukan kebiasaan memang agak sulit memulai. Sulit membiasakan memulai membuat sambal di akhir masakan -.-

#Kamis, 8 Okt 2015

No comments:

Post a Comment