Thursday, 15 October 2015

5 Monthiversary

Dear my wonderful husband ..

Alhamdulilah hari ini 5 bulan pasca akad nikah tanggal 15 Mei lalu, tapi masih terhitung 1 bulan kita berdua bersama mengawali dan mengakhiri hari. Semoga Allah mengizinkan kita menghitung hari-hari berdua berikutnya dalam keberkahan. Di rentang waktu itu, pasti tergambar jelas sifat-sifatku yang moody, egois, kekanakan, suka protes dan komentar.

Tapi mas bisa mengimbangi dengan sikap yang dewasa dan bijak. Dan mas punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa sayang, perhatian dan mengayomi aku. Hebatnya mas selalu melakukan apapun yang bisa mas lakukan untuk kebaikanku tanpa harus membuat pernyataan (but I still need your words of love) :)

Maaf jika aku masih belum memenuhi kriteria istri yang baik, belum pandai memasak ataupun mengontrol perasaan. Mas tidak mempermasalahkan itu dan mau membantu menutupi kekuranganku untuk terus menjadikanku siap in sya Allah menjadi seorang ibu bagi anak-anak nantinya. Terlebih mas juga masih menyempatkan bantu memasak, menyapu halaman, menyiram, padahal kerjaan mas juga tidak kalah banyak untuk segera diselesaikan. Terima kasih atas kebaikan, kesabaran dan keikhlasan mas untuk permintaanku selama ini hingga hal yang remeh sekalipun.

Jangan pernah bosan untuk membaca tulisan-tulisanku berikutnya :)

Semoga Allah semakin menguatkan perjanjian kokoh ini dalam ibadah dan kebaikan untuk dapat kita tebarkan hingga ke jannah-Nya. Aamiin.

My husband, thank you for being part of my life. Thank you for saving me with your amazing love. Loving you as always..

Your wife

Sambal

Karena menikah adalah saling menyatukan dan melengkapi dua insan yang pastinya berbeda. Berbeda suku, budaya, kebiasaan, pemikiran maupun rasa. Soal rasa memang tidak bisa bohong. Bisa jadi percekcokan nantinya jika tidak saling memahami rasa, terlebih rasa masakan. Suami sudah memasang label pedas dari awal berkenalan. Saya tipe yang lemah lembut jadi tidak terlalu suka masakan pedas, apalagi kata-kata pedas.. :D

Ibu mertua jadi kasihan sama anak lanang kesayangannya karena kalau sama saya, suami suka bikin sambal sendiri biar bisa ngatur tingkat kepedasannya (alesan). Terlebih, itu bukan jadi kebiasaan di keluarga saya yang selalu ada sambal di setiap menu makanan. Jadi saya juga tidak peka, sambal yang enak atau tidak enak karena fokus saya cuma satu, pedas. Jadi selama hampir satu bulan, suami yang adaptasi untuk tidak melengkapi menu makannya dengan sambal. Huhu

Alhasil setelah 3 hari pulang ke madiun dan kembali lagi ke ponorogo. Kami diberi bekal sambal tomat, yang bisa sampai beberapa hari saking banyaknya tapi tetap harus dipanaskan supaya tidak basi.

Dan jadilah si sambal sebagai pelengkap menu makanan beberapa hari berikutnya. Alhamdulillah :D

Segala sesuatu yang bukan kebiasaan memang agak sulit memulai. Sulit membiasakan memulai membuat sambal di akhir masakan -.-

#Kamis, 8 Okt 2015