Saturday, 21 November 2015

Menjadi Ibu yang Dirindukan

Oleh : Ustadz Bendri Jaisyurrahman
Kamis 19 November 2015

Ibu adalah profesi utama, yang lain adalah sambilan. Jangan menjadikan mengasuh anak adalah Sambilan. Karena kalau tidak si anak akan jadi 'sambal-sambal'an, cikal bakal cabe-cabean.

Kisah keteladan Ibu yang mencetak anak anak hebat,
Adalah Al-Nawar binti Malik, mempunyai anak bernama Zaid bin Tsabit.

Zaid waktu itu masih belia, tatkala ia mendengar seruan Rasulullah tentang Jihad. Ia mengambil pedang Ayahnya, dengan semangat 45 ia menemui Rasulullah. Pedang dan tubuh Zaid, masih lebih besar pedangnya. Rasulullah yang melihat Zaid yang begitu bersemangat, memerintahkan ia untuk pulang kembali pada Ibu nya. Karena memang aturan Perang dilarang Anak-anak, wanita dan orangtua. Zaid sedih dan kecewa. Tersedu ia menangis karena ditolak Rasulullah berjihad. Disinilah Peranan Bunda Hebat yang harus bisa membesarkan jiwa si anak. Ia tidak meremehkan motivasi kuat si anak. Bunda Al-Nawar mengatakan pada Zaid "anakku.. Jika Rasulullah, belum mengizinkanmu berjihad ke medang perang, ketahuilah nak, berjihad lah dengan jalan lain.. Berjihadlah lewat Pena anakku, Belajar, belajar, dan Hafalkan Alqur'an. Zaid lalu pergi kembali pada Rasulullah, kali ini tidak untuk berjihad memakai Pedang, tapi diminta mendengarkan Hafalan Alqur'annya. Waktu itu Alqur'an baru turun 17 juz. Dalam kurun singkat, Zaid telah merampungkan hafalannya. Allahu Akbar.

Zaid bin Tsabit si Pencatat Wahyu, anak muda dengan kecerdasan dan potensi gemilang.
Siapa yg berperan? Ibu.
Ibu jangan mematikan potensi anaknya.
Ulama mujahid bernama Faruq mempunyai Istri yg ditinggal olehsi suami selama 30 tahun. Diamanahkan uang kurang lebih sebesar 60 Milyar. Tapi ia tidak mempergunakan untuk hal keduniawian. Terbukti setelah 30 tahun, Faruq kembali, dan rumah mereka masih seperti yang dulu. Ternyata istri nya menginvestasikan uang tersebut untuk pendidikan anak nya. Anaknya seorang ulama besar bernama Rabi'atul Rabbiy, guru Imam Malik dan Imam Hanifah.

Lisan seorang ibu Keramat.

Sunday, 15 November 2015

Setengah Tahun

rindu itu bumbunya kehidupan suami-istri, maka keluarlah pagi-pagi, carilah bagian dari rezeki di dunia, dan kembalilah di akhir hari penuhi rindu
percaya itu ibarat tiang utama dalam pernikahan, maka jagalah dan jangan lalaikan sedikitpun, teguhkan, dan kokohkan dengan jujur dan amanah
dan senda-gurau, saling mendengarkan, itu nyawanya berkeluarga, disitu kita saling memahami dan mengerti, mengasihi dan menyayangi
diatas segala-galanya, Islam itu ruh kehidupan, tanpanya tak ada guna menikah, takkan bahagia berkeluarga, dan takkan langgeng suami-istri.
-Felix Siauw-
Bismillah, hanya kepada Allah tempat kami bergantung. Hanya izin Allah yang memberikan kami waktu untuk menghela nafas hingga detik ini. Semoga setengah tahun kebersamaan semakin mendewasakan kami berdua untuk senantiasa berharap dan bersyukur pada Allah.
Ponorogo, 15 November 2015 09:33
walimatul ursy

Saturday, 14 November 2015

Tetangga Masa Gitu

"Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu . . " [QS. 65:6]

Setelah menikah, ada baiknya untuk tinggal tidak satu atap dengan orang tua jika kondisi memungkinkan, meskipun hanya berjarak satu atau dua rumah saja. Karena dari atap yang berbeda itulah, semakin memberikan banyak pelajaran tersendiri untuk suatu pasangan baru.

Saya pun mengalami itu. Berada satu atap berdua dengan suami saja, di lingkungan yang baru, di kota yang baru, di rumah yang baru (baru dikontrak maksudnya). Alhamdulillah lingkungannya cukup kondusif karena perumahan ini sebelahan tembok dengan pondok gontor 2. Perumahan ini bersifat cluster, hanya satu gerbang untuk keluar masuk perumahan, tembok pembatas antar tetangga juga tidak tinggi dan para tetangga ramaah sekali (walapun belum mengenal lebih dekat) atau mungkin karena memang sifat alamiah orang Indonesia dengan adab ketimuran, jadi setiap berpapasan dengan tetangga meskipun tidak dikenal tetap bersedekah senyuman :))

Di dalam satu lingkungan tersebut, tetangga kanan kiri depan belakang merupakan saudara paling dekat kan, otomatis harus berbaik-baik dengan mereka dan tetangga yang lainnya juga.

Namun saya dan tiap manusia lainnya punya keterbatasan sifat yang terkadang secara langsung ataupun tidak akan terlihat oleh orang lain saat berinteraksi. Interaksi yang paling dekat selain keluarga adalah tetangga hingga secara tidak sadar akan muncul celetukan "tetangga masa' gitu .."

Sebagai orang baru atau anak kemarin sore, saya bersikap manis saja dengan belajar membaca keadaan para tetangga. Rata-rata para keluarga di sini merupakan pekerja, sepertinya yang menjadi ibu rumah tangga bisa dihitung di perumahan ini. Tapi salutnya para ibu masih menyempatkan waktu sebulan sekali untuk pengajian di musholla dan di lain waktu juga ada arisan. Hebat ya para ibu itu *.*

Menurut saya yang penting dalam hidup bersosial adalah komunikasi dan sikap dewasa antar tetangga supaya tidak terjadi miss communication dan hidup damai rukun sentosa sejahtera.

Saturday, 7 November 2015

Harmonisasi Pasutri

Bismillahirrohmanirrohim..

Resume pertemuan pekanan SAHAJA, 24 Oktober 2015

-dalam pembahasan Islamic Parenting-

Oleh: Ust Bendri Jaisyurrahman

Pasangan kita lebih berhak, untuk segala kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di luar rumah.

Jika kita bisa bersabar menghadapi cerita seorang teman, maka semestinya kita harus lebih sabar menghadapi cerita pasangan.
Jika kita bisa memberikan senyum terbaik pada karyawan, teman kantor, dan yang lain, maka pasangan kita LEBIH BERHAK mendapat senyum paling manis dari wajah kita.
Jika seorang wanita bisa berdandan paling cantik untuk suatu acara di luar rumah agar membahagiakan orang lain, maka semestinya suaminya lebih berhak untuk mendapatkan kecantikannya yang paripurna.
Begitulah Islam, memulai sesuatu dari pihak terdekat.
(Al-'Isrā'):26 - Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ....
(Ar-Rūm):38 - Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ....

Indikator kebaikan seseorang lihat bagaiman ia bersikap pada pasangannya.

Mengapa kita sering stres menghadapi pasangan dan mengurus anak? Sebab sering salah dalam meletakkan prioritas. Pada orang lain memberikan yang terbaik dari diri, sedang untuk keluarga diberikan yang hanya sisa.
Maka sabarmu, senyummu, perhatianmu, lebih berhak kau berikan kepada pasanganmu, kepada anak-anakmu.

Apa saja harmonisasi yang harus kita lakukan pada pasangan?
1. Harmonisasi terkait visi dan misi
Menjadi salah satu dasar untuk meraih keberkahan dalam hidup berumah tangga. Visi misi keluarga muslim haruslah jauh ke depan, yaitu surga. Mencari kejayaan akhirat.
(Al-Qaşaş):77 - Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi ....

Akhirat adalah prioritas utama, sedang dunia tak boleh dilupakan. Jadikan kegiatan rutin keluarga adalah yang berkaitan dengan akhirat.

Akan terjadi perdebatan jika antara istri dan suami berbeda visi, tidak sama harus bervisi surga. Suami ingin sampai akhirat, sedangkan istri hanya ingin di dunia(atau sebaliknya). Maka antar pasangan harus memiliki visi yang sama, yaitu surga, visi akhirat. Agar langgeng sampai ke surga. Itulah mengapa dalam harmonisasi pasutri dimulai dari memilih pasangan sebelum menikah.

Bukan berarti mengabaikan dunia. Tetapi akhirat harus jadi prioritas baru setelah itu dunia. Bukan dunia baru setelah itu akhirat. Jangan dibalik dan jangan terbalik.
Jika visi akhir adalah surga, maka akan mudah bagi suami untuk bersabar pada istrinya, dan istri sabar pada suaminya.

2. Harmonisasi spiritualitas; terkait dengan ibadah
Karena urusan mengikat hati bukan urusan praktek romantisme, urusan mengikat hati adalah urusan Allah.
(Al-'Anfāl):63 - dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka...

Yang membuat pasangan saling mesra adalah kesamaan spiritualitias. Sama-sama taat pada Allah. Maka perceraian atau konflik faktor utamanya adalah karena spiritualitas yang tidak sama. Maka saling mengingatkan pasangan agar tetap taat pada Allah adalah kunci untuk selalu mesra sepanjang hayat.

3. Harmonisasi dari sisi aturan
Aturan terkait menjalani rumah tangga. Suami/istri tidak boleh membuat aturan sendiri. Termasuk dari harmonisasi dalam aturan yaitu meneguhkan siapa yang menjadi otoritas pemilik aturan. Yaitu suami, sedang istri memberi masukan.

4. Harmonisasi komunikasi
Berkaitan dengan bagaimana komunikasi saat marah, apa yang dilakukan saat pasangan marah. Memahami istri bahwa ketika marah butuh bicara, maka fasilitasi waktu yang tidak terburu-buru, agar tidak menyakitkan istri. Menunda mendengarkan cerita istri sampai suami punya waktu luang untuk mendengarkan semua sampah emosi istri adalah lebih baik dibanding mendengarkan saat itu juga tapi suami terburu-terburu dan berpura-pura simpatik, akan malah menyakitkan istri. Itulah komunikasi.

5. Harmonisasi program pengasuhan
Membuat target program-program pengasuhan di setiap jenjang usia anak.

5 poin harmonisasi ini harus senantiasa didiskusikan dengan diawali dialog. Salah satu kebiasaan pasutri yang tidak boleh hilang adalah dialog sebelum tidur. Seperti yang dicontohkan Rosulullah kepada para istrinya. Itulah ciri khas rumah tangga surgawi.
(Aş-Şāffāt):50 - Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.
Al-Ĥijr:47 - Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Salah satu kebiasaan harmonisasi penduduk surga adalah duduk berhadap-hadapan sambil berdialog. Jika hal itu jarang dilakukan maka harmonisasi antar pasutri akan berkurang, sebab 5 poin harmonisasi akan terlihat saat berdialog. Saling tahu visi misinya, saling membangun spiritualitas, membicarakan aturan, berkomunikasi, dan membicarakan pengasuhan. Semua dengan dialog, duduk berhadap-hadapan.

Maka mulailah harmonisasi keluarga kita dengan berdialog, berdiskusi, duduk berhadap-hadapan, agar bersama membangun keluarga hingga ke surga.
Insyaa Allah..

(Masih bersambung di pertemuan berikutnya)

Notulis:
Aldiles Delta Asmara

Manajemen Cinta

Saya tidak lupa dengan 3 buah pembicaraan yang begitu mengesankan antara saya dan anak saya Ali yang kini berusia 10 tahun. Pembicaraan yang sangat serius dan penuh privasi saat saya ingin mengajarkan tentang bagaimana adab dalam berhubungan dengan lawan jenis.

Saya terpaksa mengawali pembicaraan mengenai hal ini saat usia ali 6 tahun. Pertimbangannya, karena saat itu fenomena “pacaran” sudah mulai ramai di kalangan anak sekolah dasar. Entahlah……. saya tidak tau apakah tepat atau tidak pilihan kata yang saya gunakan, tapi begitulah adanya, keadaan mendorong saya untuk menyampaikan yang harus disampaikan.

Saat usia Ali 6 tahun (di Indonesia)

Ummi: “Ali kamu pernah denger kata pacaran gak?”

Ali: “iya, anak di sekolah sdit ada mi yang pacaran” (saat itu Ali masih sekolah di sdit)

Ummi: “oh ya? menurutmu gimana li?”

Ali: “gak boleh kan mi? langsung nikah ajak kan mi? kayak ummi dan bapak”

Saya terkejut sambil tersenyum, ternyata ia sudah dapat menyimpulkan sendiri, padahal belum pernah membahas ini sebelumnya

Ummi: ‘iya” “btw ada gak sih anak perempuan yang ali suka?”

Ali: “hehehe ada”

Ummi: “oh ya? siapa? ummi kenal gak?”

Ali menyebutkan sebuah nama sambil tersenyum. saya pun tersenyum menahan tawa. Jaman sekarang memang berbeda, anak kelas 1 saja sudah punya kecenderungan hati.

Ummi: “kalo Ali suka sama seseorang, Ali gak usah bilang dulu sama orangnya ya, gak usah cerita sama temen temen juga, nanti diledek, ceritanya sama ummi aja ya… ali boleh suka sama seseorang tapi ali gak boleh berduaan ya sama anak perempuan tanpa teman, gak boleh menyentuh perempuan yang bukan saudara, dan gak boleh sering-sering diinget, nanti kalo sudah besar dan sudah siap baru ali boleh menikah”

Ali: “iya mi”

Setahun kemudian (masih di indonesia)

Ummi: “Aa gimana kabar si xxxx Aa masih suka sama dia?”

Ali: “nggak! udah ganti” (hihiihihihi)

Ummi: “oh ya? sama siapa sekarang sukanya?”

Ali: “sama si xxxx”

Ummi: “hehehehe… mmmmm masih inget kan pesan ummi?”

Ali: “gak boleh pacaran kan mi? langsung nikah aja….” Ummi: “iya… dan jangan bilang sama siapa-siapa ya, ceritanya sama ummi aja. Gak boleh berduaan, dan gak boleh bersentuhan, kalo mau main rame-rame sama yang lain yah. Juga gak usah banyak diinget, nanti ganggu belajar”

Sehari setelah membaca artikel tentang maraknya pornografi yang marak dinikmati oleh anak-anak usia sd di Indonesia, saya jadi penasaran untuk membuka kembali pembicaraan tentang ini bersama anak saya. terlebih kami kini tinggal di california. di suatu subuh, sepulang Ali dan bapak dari masjid saya mengajak ali berdiskusi.

Ummi: “eh li, kemarin ummi kan jemput shafiyah trus main di park sekolah Edenvale, masa coba a ummi liat anak elementary kayaknya grade 5an lagi ngumpul laki-laki sama perempuan terus peluk-pelukan. menurut ali gimana?”

Ali: “gak boleh…”

Ummi: “kalo di sekolah aa gimana? ada gak yang kayak gitu”

Ali: “gak pernah liat sih”

Ummi: “ada yang aa suka gak si sekolah?”

Ali: “mmmm… not here”

Ummi: “di indonesia maksudnya?”

Ali: “no….. di laurelwood” (nama sekolah lamanya)

Ummi: “oh ya? orang india a?’

Ali: “no”

Ummi: “orang jepang?”

Ali: “no”

Ummi: “orang mexico?”

Ali: “no”

Ummi: “bule amerika?”

Ali: maybe….

Ummi: “trus dulu suka main bareng?”

Ali: “jarang ketemu karena pas reses yang boys duduk di meja boys yang girls terpisah, ada sih yang campur tapi aa gak pernah. biasanya yang boys malu kalo ada girls yg girls juga” (hooooo… jadi tau… ternyata sudah muncul persaan malu)

Ummi: “oh ya aa di sekolah usa kan gak kayak sekolah Aa di indo, semua akhwatnya berjilbab. kalo disini auratnya banyak terbuka. kata Rasul, disekitar wanita itu banyak syaitannya, makanya kita diperintahkan untuk menundukan pandangan. Kalo gak sengaja pertama kali gak papa, tapi abis itu jangan diterusin”

Ali: “oke”

Ummi: “Aa tau gak! kalo kita melihat aurat lawan jenis, ada zat kimia di otak yang keluar, namanya dopamin, kalo cuma sekali karena gak sengaja gak papa, tapi kalo diterusin apalagi sampai berkali-kali zatnya keluar terus dan bisa merusak otak aa”

Ali: “oh ya mi? (dengan nada antusias)

Ummi: “iya aa, dan gak tanggung-tanggung yang dirusak 5 bagian otak, lebih parah daripada orang kena narkoba lho. kalo sudah seperti itu sudah gak bisa konsentrasi belajar apalgi beribadah.”

Saya pun mengambil kertas…

Ummi: “nih Aa, ibaratnya kertas ini otak kamu, kalo kamu melihat aurat lawan jenis, otaknya seperti ini (sambil meremas kertas), lihat lagi! (remas kertas lagi), lihat lagi! (remas lagi) rusak deh a otak kita.”

Ali: “really mi?”

Ummi: “serius… janji ya aa sama ummi, jangan pernah lihat aurat perempuan. apalagi di internet jaman sekarang gampang banget nyarinya. inget kan aa temen-temen aa yang di indo yang suka ke warnet itu? janji ya aa sama ummi”

Ali: “iya mi”

Ummi: “kalo aa itu udah ngerasa baligh belum sih? udah pernah mimpi yang bikin basah belum?”

Ali: “kayaknya belum mi, kayak gimana sih basahnya?” Ummi: “dia gak cair kayak ompol, dia lebih kentel”

Ali: “kayaknya belum mi”

Ummi: “nanti kalo Aa ngerasa begitu, aa bilang ya sama ummi. Kamu harus belajar cara mandi wajib, karena kalo kamu gak mandi wajib, shalat mu gak sah” Ali: ‘ok mi!”

Ummi: “oh ya aa, aa taukan gimana islam ngatur soal pernikahan beda agama?”

Ali: “yup… kita harus nikah sama muslim kan?”

Ummi: “yup… trus gimana dong kalo yang aa suka itu bukan muslim?”

Ali: “harus jadi muslim dulu”

Ummi: “yup…. makanya Aa sekarang belajar islam yang serius ya… karena kalo kayak gitu tanggung jawabnya tambah berat, Aa harus ajarin istri Aa tentang islam. Dah sekarang gak usah diinget-inget ya, dan jangan inget lebih dari kita inget sama Allah, nanti Allah cemburu lho”

Ali: “ok mi”

Saya tidak tau apakah pembicaraan seperti ini sesuai dengan ilmu parenting atau tidak. Hanya dengan momohon kelancaran lisan pada Allah serta itikad baik saya untuk menyelamatkan anak-anak dari rusaknya moral dan pergaulan saat ini yang memberi kekuatan bagi saya untuk membangun diskusi ini. Mempersiapkan mereka menuju akil baligh adalah tanggung jawab kita. Saya bersyukur, anak saya bisa terbuka tentang hal ini. Saya harus senantiasa menjaga hubungan yang harmonis diantara kami agar mereka mau bercerita kepada saya bahkan hanya bercerita kepada saya. Saya tidak ingin rasa ingin tau mereka, mereka tanyakan pada orang lain, bahkan pada gurunya di USA. Doa senantiasa saya panjatkan agar mereka senantiasa terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah.

San Jose California, 23 Februari 2014
Dalam buku 5 guru kecilku by kiki barkiah

Thursday, 15 October 2015

5 Monthiversary

Dear my wonderful husband ..

Alhamdulilah hari ini 5 bulan pasca akad nikah tanggal 15 Mei lalu, tapi masih terhitung 1 bulan kita berdua bersama mengawali dan mengakhiri hari. Semoga Allah mengizinkan kita menghitung hari-hari berdua berikutnya dalam keberkahan. Di rentang waktu itu, pasti tergambar jelas sifat-sifatku yang moody, egois, kekanakan, suka protes dan komentar.

Tapi mas bisa mengimbangi dengan sikap yang dewasa dan bijak. Dan mas punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa sayang, perhatian dan mengayomi aku. Hebatnya mas selalu melakukan apapun yang bisa mas lakukan untuk kebaikanku tanpa harus membuat pernyataan (but I still need your words of love) :)

Maaf jika aku masih belum memenuhi kriteria istri yang baik, belum pandai memasak ataupun mengontrol perasaan. Mas tidak mempermasalahkan itu dan mau membantu menutupi kekuranganku untuk terus menjadikanku siap in sya Allah menjadi seorang ibu bagi anak-anak nantinya. Terlebih mas juga masih menyempatkan bantu memasak, menyapu halaman, menyiram, padahal kerjaan mas juga tidak kalah banyak untuk segera diselesaikan. Terima kasih atas kebaikan, kesabaran dan keikhlasan mas untuk permintaanku selama ini hingga hal yang remeh sekalipun.

Jangan pernah bosan untuk membaca tulisan-tulisanku berikutnya :)

Semoga Allah semakin menguatkan perjanjian kokoh ini dalam ibadah dan kebaikan untuk dapat kita tebarkan hingga ke jannah-Nya. Aamiin.

My husband, thank you for being part of my life. Thank you for saving me with your amazing love. Loving you as always..

Your wife

Sambal

Karena menikah adalah saling menyatukan dan melengkapi dua insan yang pastinya berbeda. Berbeda suku, budaya, kebiasaan, pemikiran maupun rasa. Soal rasa memang tidak bisa bohong. Bisa jadi percekcokan nantinya jika tidak saling memahami rasa, terlebih rasa masakan. Suami sudah memasang label pedas dari awal berkenalan. Saya tipe yang lemah lembut jadi tidak terlalu suka masakan pedas, apalagi kata-kata pedas.. :D

Ibu mertua jadi kasihan sama anak lanang kesayangannya karena kalau sama saya, suami suka bikin sambal sendiri biar bisa ngatur tingkat kepedasannya (alesan). Terlebih, itu bukan jadi kebiasaan di keluarga saya yang selalu ada sambal di setiap menu makanan. Jadi saya juga tidak peka, sambal yang enak atau tidak enak karena fokus saya cuma satu, pedas. Jadi selama hampir satu bulan, suami yang adaptasi untuk tidak melengkapi menu makannya dengan sambal. Huhu

Alhasil setelah 3 hari pulang ke madiun dan kembali lagi ke ponorogo. Kami diberi bekal sambal tomat, yang bisa sampai beberapa hari saking banyaknya tapi tetap harus dipanaskan supaya tidak basi.

Dan jadilah si sambal sebagai pelengkap menu makanan beberapa hari berikutnya. Alhamdulillah :D

Segala sesuatu yang bukan kebiasaan memang agak sulit memulai. Sulit membiasakan memulai membuat sambal di akhir masakan -.-

#Kamis, 8 Okt 2015

Saturday, 19 September 2015

Kesamaan Ruh

".. cinta itu adalah anak dari kecocokan jiwa, kesamaan ruh, seperti halnya sekelompok pasukan, jika mereka saling mengenal maka mereka mudah untuk sepakat, jika mereka tidak saling mengenal, maka mereka mudah untuk berselisih .."
(Salim A.Fillah)

Empat bulan yang lalu terhitung dari tanggal 15 Mei 2015, bakti utamaku pada sang suami. Perbedaan demi perbedaan itu pasti, terlebih hanya saling kenal secara umum saja sebelum menikah. Waktu yang membantu kami untuk menyatukan ataupun menengahi tiap perbedaan kami. Karena menikah itu penuh hikmah :)

Tuesday, 7 July 2015

Target

Ini baru hari kedua, berarti masih ada 28 hari lagi untuk berpuasa seharian penuh. Apakah masih sanggup meneruskannya?

Ah iya, jadi inget murid-murid kesayangan kalau hari ini mereka juga masuk sekolah di pondok ramadhan hari kedua. Hebat kan, tidak libur pada permulaan puasa. Ketika ditanya, siapa yang tadi malam sahur dan juga ikut shalat subuh, wih 90% yang mengangkat tangannya. Mereka juga tidak ingin lewatkan momen menahan hawa nafsu sampai hari ke-30 bulan ramadhan. Mereka tidak ingin membiarkan malam-malam ramadhan sepi tanpa ibadah sunnah tarawih. Kotak amal yang terpampang di depan mereka juga tidak ingin dibiarkan lalu begitu saja. Bibir-bibir mereka tidak hanya mengeluarkan kata-kata manis manja kepada orang tua tetapi juga pelafalan kalimat-kalimat yang ada di Al Quran. Mereka sudah memasang target yang harus mereka capai di bulan yang penuh berkah ini. Secara kualitas, memang masih jauh di bawah standar orang dewasa tapi mereka sudah mempunyai gambaran bagaimana menghabiskan hari-hari di bulan ramadhan tidak hanya diisi dengan berbaring saja di tempat tidur.

Bagaimana dengan target ramadhan kita? Secara kuantitas pula, kita pasti bisa melampaui sangat jauh dari contoh target murid-murid kesayangan saya. Dan kita sendiri yang bisa menentukan kualitas segala tindakan berdasarkan niat yang kita kerjakan. Jika kita membayangkan bahwa ini ramadhan terakhir kita, tentu kita tidak akan melewatkan momen istimewa di bulan yang istimewa ini juga kan.
#ramadhan hari kedua

Monday, 6 July 2015

Hari Pertama

Dimana pun kaki tiap umat-Nya berpijak, terbersit kerinduan dalam menanti datangnya bulan penuh keberkahan dari sebelas bulan yang lainnya. Nama bulan itu sering disebut-sebut supaya kita bergegas untuk menyambut kehadirannya dan berharap bulan itu tidak berlalu begitu saja tanpa adanya sambutan yang berarti dari kita. Penantian kerinduan itu akan disambut hampir setiap umat dengan suka cita yang tentunya masing-masing pribadi mempunyai caranya sendiri :)

Hm, saya sih tidak membahas bagaimana cara menyambut bulan itu• (baca: Ramadhan). Karena pasti broadcast WA, BBM, line dan social media lainnya sudah membahas bagaimana persiapan untuk menghidupkan bulan Ramadhan, bagaimana supaya mendapatkan keberkahan Ramadhan, bagaimana tips memilah makanan untuk sahur atau berbuka, referensi masjid yang enak utk tarawih atau i'tikaf dan lain sebagainya. Pasti itu sudah memenuhi alam bawah sadar kita masing-masing.

Dan kerinduan yang seakan berlipat-lipat ini pula yang saya rasakan berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun pertama ramadhan bersama suami, meskipun tidak sejak hari pertama. Tahun terakhir bersama murid kesayangan SDIT Al Uswah untuk menemani kebersamaan sejak hari pertama di bulan ramadhan.

Semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa memperbarui niat dalam beribadah di bulan ramadhan. Karena murid kesayangan saja, masih dalam taraf pemahaman bahwa puasa menahan lapar, haus dan amarah. Kalo tidak bisa menahan amarah/hawa nafsu, ya batal puasanya. Simple kan, menahan hawa nafsu. Karena tingkat pemahaman kita sudah berbeda, tentu hawa nafsunya bukan cuma amarah lah. Masih banyak hawa nafsu lain yang kita sendiri sudah malah mungkin sudah hafal jenis-jenisnya, eh. Pandai-pandainya kita menghindari sang penggoda hawa nafsu supaya kita tidak terpeleset atau malah terjatuh. Siapa yang paham level kelemahan diri kecuali diri sendiri.

#ramadhan hari pertama

Saturday, 28 February 2015

Waktu

QS 30:21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

QS 30:22. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

QS 30:23. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.

QS 30:24. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

QS 30:25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.  Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

QS 30:26. Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.

QS Ar Rum ayat 21-26 menjelaskan secara gamblang tentang berjalannya waktu siang dan malam, langit dan bumi serta hikmah penciptaan manusia dan sesudahnya.
#H-76
langit

Tahfidh Kelas Ekonomi

Masih di halaman yang sama seperti pekan lalu dan mengeja huruf-huruf arab yang sama. Terus mengeja, kemudian diulang. Bertahan hingga beberapa menit atau bahkan hitungan detik dan langsung mengakhiri begitu saja. Sepertinya mata ini sudah tidak tahan, pikiran ini sudah tidak fokus, bibir ini sudah kelu untuk mengeluarkan suara.

Dalam situasi berbeda, sangat menggebu memotivasi yang lain untuk senantiasa berinteraksi dengan huruf-huruf arab tersebut. Melafalkan dengan lancar rangkaian huruf-huruf arab yang begitu-begitu saja. Namun merasa sudah lebih dari cukup. 

"Untuk dapat menghafal, syaratnya hanya satu yaitu meluangkan banyak waktu untuk menghafal. Selain muraja'ah/mengulang-ulang ayat juga harus setor tambah ayat supaya hafalan terus bertambah. Terlebih lagi, ada fasilitas para asatidz yang sudah menjadi hafidhz/ah." (Ust. Moh Baidum Makenun)

Apalagi memotivasi murid-murid supaya memiliki hafalan yang banyak dan bagus tapi para Ustadz/ah masih lemes. *talktomyself *hammer

Hari ini pun saya berada dalam gerbong tahfidh kelas ekonomi. Dan dengan adanya agenda tadi pagi insyaAllah menambah semangat untuk senantiasa membasahi lisan ini dengan mengulang-ulang firman-firman Allah.

Masih banyak cara lain untuk menyenangi hafalan Al Qur'an. Terlebih cara belajar setiap orang berbeda karakter jika dilihat dari segi auditori, visual atau kinestetis. Karena yang paling utama hanyalah mengulang dan mengulang dalam ke-istiqomah-an. 

Ulang-ulangilah al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh al-Qur’an itu lebih mudah lepas daripada seekor unta yang lepas dari talinya.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5033 dalam kitab Fadha’il al-Qur’an, bab (22), dan diriwayatkan Muslim, no. 791 dalam kitab Shalat orang yang bepergian dan qasharnya, bab (23) dari hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
Al Qur'an terjemah

Thursday, 26 February 2015

Random Ayat

Dan tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?
Sekali lagi, tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu?
(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
 
Q.S Al Infithar : 17 - 19

Sunday, 1 February 2015

Bergerak

"Ustadzah, Anshari gerak-gerak terus nggak mau diam padahal kan sudah aku ingatkan.."
 Celoteh siswi yang berkesempatan menjadi pemimpin kelompok pekan itu.

"Ustadzah.. mau .. ijin minum .."
Sambil meringis manis si tertuduh memberikan argumen dengan berdiri.

Si Anshari sebagai siswa tertuduh sudah menunjukkan geliat ingin istirahat dengan bergerak-gerak tidak tentu karena kemungkinan capek duduk mendengar sang guru yang asyik bercerita di depan kelas.

Bergerak yang merupakan kata kerja suatu obyek. Anak kecil sedang asyik mengeksplorasi masa percobaan segala gerakan yang bisa dilakukan. Selama Allah swt memberikan anugerah pada anak tersebut secara sempurna.

Setiap makhluk dikatakan hidup jika bergerak. Bagaimana pergerakan kita setiap harinya. Tahun baru masehi telah berlalu sebulan yang lalu, apakah gerak kita sudah menghasilkan perubahan hidup yang positif dari tahun sebelumnya. Kembali memeriksa dalam diri apakah ada tekad yang kurang tepat di awal resolusi sehingga setiap pergerakan yang dilakukan terasa produktif atau tidak.

Detik, yang berubah menjadi menit, ditambahkan lagi hingga jam, hari, bulan trimester, semester, tahun dan seterusnya. Waktu juga akan terus bergerak, menemani atau bahkan meninggalkan ketidakpastian gerak yang dilakukan dalam hidup. Kira-kira sudah berapa banyak gerakan yang dilakukan? Ah mungkin terlalu fokus dengan gerakan fisik yang nampak kasat mata sehingga sering tidak sadar bahwa di dalam organ tubuh ada banyak sekali gerakan teratur yang diatur oleh Sang Maha Pengatur. Jika Allah swt menghentikan satu gerakan orang dalam tubuh, Astaghfirullah,.

Apakah bekal untuk menghadap kepada-Nya sudah dipersiapkan dengan baik?
Apakah syukur kepada-Nya sudah senantiasa diagungkan dalam tiap waktu?
Apakah kekhilafan dalam bergerak sudah sering disadari?

"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)" QS. Al Insyirah:7.

Saturday, 3 January 2015

Catatan Kecil Tafsir Al Insyirah

Catatan tafsir ini saya buat ketika mengikuti Majelis Jejak Nabi yang sudah saya rindukan (*.*), akhirnya bisa datang juga sambil mengajak pasukan binaan ke Masjid Al Falah Surabaya. Mendengarkan taujih rabbani yang menyejukan dari Ust. Salim A. Fillah. Alhamdulillah~

Tapi tidak saya ikuti sampai selesai karena binaan pada minta pulang sekitar jam setengah sembilan, saya pun mengiyakan karena saya sendiri mulai kehilangan fokus dan sadar bahwa sabtu masih masuk jam 7 --

Surat Al Insyirah merupakan salah satu surat Makkiyah, surat ke 94 dan memiliki arti kelapangan.

1. أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
>> Meskipun dunia ini sempit namun jika dada terasa lapang, tidak akan menjadi masalah. Jika dunia yang sempit ini juga semakin membuat hati ini sempit, merasa begitu banyak cobaan dalam hidup maka bisa jadi karena dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya sehingga solusi untuk mengurangi rasa beban itu adalah dengan melapangkan dada terlebih dahulu. Segala dosa yang pernah dilakukan ketika dulu akan memberikan rasa takut saat ini, tentu saja dada terasa sempit. Dan dijelaskan dalam QS. Al An'am:125, melapangkan dada dengan berserah diri kepada Allah SWT. Dada yang lapang itu mencoba untuk ridha (ridha pada ketetapan Allah, ridha pada pemberian Allah, ridha pada aturan Allah) dan qana'ah kepada Allah. 

2. وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu
>> Dalam QS. Al Fath (saya tidak fokus, ayat berapa --) yang intinya adalah supaya Allah memberi ampunan padamu terhadap dosa yang lalu dan akan datang.
Beban yang diturunkan Allah kepada Rasul Muhammad SAW:
1) Ketika melakukan dosa (tapi Allah mengangkat dosanya karena telah dijaminkan bahwa Allah mengampuni beliau)
2) Untuk menyampaikan risalah dan Allah yang menghendaki datangnya hidayah tersebut insyaAllah
3) Turunnya adzab pada umat. Allah tidak akan membinasakan suatu umat jika Rasul masih bersama kaum tersebut dan kaum tersebut masih memohon ampun

3. الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ
yang memberatkan punggungmu
>> Beban yang sudah disebutkan di ayat 2 dan beban itu membuat beliau berubah

4. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu
>> Sebutan untuk Nabi Muhammad saw ditinggikan karena:
1) Allah tidak mencukupkan hanya dengan kalimat La ila illallahu saja tapi digenapkan dengan shalawat Nabi Muhammad
2) Belum sah menggugurkan rukun khutbah tanpa shalawat
3) Nabi Muhammad saw itu terpuji 

5. فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 
Maka sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan
>> Insya Allah tidak ada kesulitan yang bisa mengalahkan dua kemudahan. Jika dimisalkan bahwa kesulitan masuk dalam sebuah lubang maka Allah memasukkan kemudahan untuk membuat kesulitan itu keluar

6. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan

7. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain)

8. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap

Silahkan menambahkan jika ada tambahan :)
- 19 Desember 2014