Sunday, 14 September 2014

Topeng

Mengapa ada kosa kata topeng? Dulu ketika masih anak-anak, saya tahu bentuk topeng seperti yang dipakai penari-penari, misalnya tari reog ponorogo, tari jaipong, tari bali dan ada banyak tarian tradisional dengan topeng yang tidak saya ketahui namanya. *pokemyhead
Produksi topeng pun semakin berkembang dan bertambah fungsinya selain digunakan untuk properti tari. Bahan-bahannya juga semakin beragam dan mengikuti zaman. Kalau lihat-lihat di televisi sih malah biasanya untuk pesta malam jika sang wanita atau pria tidak ingin menampakkan wajahnya terlebih dahulu. Saya tidak tahu itu termasuk budaya dari mana ya.

Dan saya juga harus memakai topeng jika perasaan hari itu kurang bersemangat, jika badan saya hari itu sedang butuh sendiri seharusnya (istirahat). Yap, memasang topeng wajah ceria di depan anak-anak ><

Ketika berangkat ke tempat mengajar, sebisa mungkin menyugesti diri sendiri untuk selalu ceria, senang dan tanpa beban. Topeng perasaan untuk menampakkan wajah yang "i am ok, my students :)"

Ketika anak-anak bertemu dengan guru, tentu banyak hal yang bisa tertebak dan terbaca dari raut muka seorang guru. Terlebih anak-anak yang pemerhati, mereka akan sangat menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari guru sekecil apa pun itu. Seakan-akan mereka adalah cermin kita seharian. Dengan topeng itulah, sesungguhnya kita berusaha belajar mensyukuri keadaan setiap hari walaupun sedang merasa susah namun wajah ini terasa menggembirakan, insyaAllah perasaan tenang dan bahagia akan secara otomatis mengikuti. Sebagai pengajar/pendidik memang sebaiknya memiliki template wajah yang menyenangkan suapaya murid-murid betah dan semakin mudah memahami apapun yang disampaikan.

No comments:

Post a Comment