Tuesday, 29 July 2014

Sayangi Hingga Lanjut Usia

Bagaimana kabar ibu hari ini? Sudahkah kita mengetahui dengan pasti keadaan beliau secara fisik setidaknya? Semoga senantiasa sehat dan tangguh, sehebat ketika kita berada di kandungannya. Ibu memiliki kedekatan yang luar biasa dengan anaknya karena selama 9 bulan 10 hari, ikatan itu semakin menguatkan batin antara ibu dan anak. Sehingga semarah apapun ibu, sepatutnya kita tetap menghormatinya (jika ibu tidak mengajak kita ke arah yang kurang tepat).

Dan berapa umur kita sekarang? Pernahkah kita bertanya bagaimana cerita ketika ibu mengandung kita? Ada banyak kisah yang mungkin tidak sabar untuk ibu ceritakan. Sesedih apapun itu, bahagia, panik hingga berbagai emosi naik turun tidak luput dari kisah beliau. Banyak hikmah dan inspirasi yang bisa kita ambil jika saling berbicara dari hati ke hati. Ibu mana yang tidak suka flash back keheroikan zaman dulu :)

Alhamdulillah jika kita masih bisa mendengar cerita panjang berepisode-episode hingga tahu perjuangan ibu ketika itu. Alhamdulillah jika ibu masih mau menceritakan sedikit rangkaian cerita pendek ketika kita masih belajar segala hal dari nol. Dan masih patut bersyukur jika ibu hanya memberi sedikit kode tentang kita di masa kecil dulu. Tentu harus kita syukuri bahwa berkat Allah SWT melalui ibu kita dapat menghirup udara ini dengan gratis serta merasakan berbagai pengalaman hidup hingga saat ini. Apapun jawaban ibu atau siapapun yang akhirnya memberi jawaban ketika masa kecil dulu, setidaknya membuka mata hati ini untuk senantiasa bersyukur dengan keadaan yang sekarang.

Lalu, bagaimana bakti kita kepada semua (orang tua) yang berperan penting dalam hidup hingga sekarang? Apakah cukup hanya dengan harta yang kita miliki sekarang, hasil jerih payah kerja kemudian kita berusaha penuhi segala kebutuhan (orang tua)?

Mereka bertanya kepadamu(Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, "Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan." Dan kebaikan apa saja yang kami kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (QS Al Baqarah: 215)

Jika dulu semasa kecil kita menginginkan ada orang tua yang selalu menemani hari-hari kita, menunggu di sekolah atau siap menunggu kedatangan kita di rumah, tentu menjadi hal yang lumrah karena kita merasa sangat butuh perhatian dan kasih sayang hangat dari orang tua terutama ibu. Begitu juga ketika pengambilan raport, kita berharap ibu datang ke sekolah untuk bertemu wali kelas kemudian pulang bersama-sama sambil membicarakan hasil laporan belajar selama beberapa bulan di sekolah. Atau mungkin kita hanya bisa memaklumi kesibukan orang tua yang mempunyai waktu senggang di kala akhir pekan atau libur panjang orang-orang kantoran. Tapi sejatinya hati nurani kita menginginkan perhatian lebih dari orang tua. Sesungguhnya masing-masing orang tua mempunyai cara sendiri untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya dan ketika kita dewasa seperti ini diharapkan dapat mengambil segala yang baik untuk menjadi contoh dalam berumah tangga kelak.

Sudah memasuki kepala berapa orang tua kita saat ini? Jika dulu orang tua kita bersedia mengajari segala hal mulai dari nol, apakah kita juga masih bersedia membimbing orang tua yang semakin membutuhkan perhatian dilihat dari banyaknya kerutan di wajah, pudarnya pandangan penglihatan, mulai sering menanyakan suatu hal yang tidak hanya sekali kita jelaskan? Terutama bersediakah kita merawat oranh tua ketika keadaannya lemah dan sakit? Aah, saya terlalu banyak kata-kata tapi saya benar-benar banyak belajar dari saudara yang rela merawat ibu yang sudah tidak bisa berjalan, rela memandikan, rela membersihkan BAB/BAK, setia menemani keluar jalan-jalan, siap sedia mendengarkan cerita yang berulang-ulang dan saya rasa banyak kisah inspiratif yang tidak saya ketahui secara langsung. Subhanallah, semoga Allah SWT selalu memuliakam keluarga yang seperti itu. Aamiin.

Orang tua kita juga sangat memerlukan kehangatan sebagai anak-anak yang telah sukses disekolahkan sejak kanak-kanak. Semoga hati kita masih terpaut kuat dengan orang tua terutama ibu, terlebih jika usia mereka sudah menunjukan telah banyak makan asam garam kehidupan ini. Semoga kita (terlebih peringatan untuk saya sendiri) tidak meninggalkan orang tua seorang diri karena salah satu ridho Allah juga terletak pada ridho orang tua.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil." (QS Al Isra': 23-24)
Yogyakarta, 26 Ramadhan 1435H

Tuesday, 22 July 2014

Seminggu Tebar Pesona

Ketika itu, jika ditanya ingin berada di jenjang mana, saya memang tidak menjawab secara eksplisit. Saya tidak terlalu berharap banyak untuk ditempatkan di jenjang mana pun karena pengalaman terhadap bidang pendidikan ini sangat sedikit. Saya hanya mempunyai firasat kemungkinan ditempatkan di jenjang kelas berapa. Dan sesuai dengan hadist bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, mungkin karena perasaan saya yang sudah condong pada salah satu jenjang hingga Allah pun memberikan secara nyata pada saya :')

Setelah acara Welcome Parent (WP) yang diadakan tiap jenjang dan jenjang kelas 3 dilakukan tanggal 15 Juni 2014, resmi sehari setelah WP, saya telah masuk ke dalam jenjang baru kelas 1 untuk satu tahun ke depan insya Allah. Dilanjutkan dengan agenda rapat kerja untuk pemaparan program/agenda pembelajaran masing-masing jenjang dengan segala aktifitas afirmasi kelas (menghias kelas) untuk menambah semangat siswa di kelas baru mereka terutama bagi siswa kelas 1.

Masih ada pembekalan juga dari yayasan Ukhuwah Islamiyah untuk para pegawai baru di sekolah ini mulai dari pegawai unit SD, SMP, SMA tak terkecuali security, catering, cleaning service serta bagian BMT. Pembekalan selama 4 hari terhitung dari tanggal 26, 27, 28 dan 30 Juli 2014. Materi yang diawali dengan tema orientasi niat & komitmen, dilanjutkan dengan materi excellence service, standar kualitas guru, kompetensi guru serta pemaparan ketrampilan kurikulum 2013 yang lebih melibatkan keaktifan kami dalam presentasi dan juga mengeluarkan pendapat.

Materi-materi pelatihan itu setidaknya sedikit menyadarkan posisi saya saat ini sebagai seorang pendidik. Dan sedikit memberi suntikan rasa percaya diri saya terhadap gelar Ustadzah yang melekat ketika berada di sekolah. Karena gelar itu cukup berat jika disandingkan dengan nama saya ketika berada di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Sebab sejatinya saya banyak belajar dari sikap dan segala kebiasaan baik anak-anak di sekolah ini.


Saya tidak sabar menunggu hari Senin tanggal 14 Juli 2014. Hari itu adalah hari pertama saya berdiri di depan kelas murid saya yang asli (karena sebelumnya hanya sebagai guru yang menggantikan cuti dan guru pengganti/observer saja). Antara senang dan gugup, terlebih ada insiden dini hari yang hampir membuat saya kehilangan semangat untuk bertemu mereka. Tapi demi melihat wajah-wajah baru di kelas yang baru mereka tempati, saya tida tega dan akan sangat menyesal jika tidak mendapatkan ruang di hati para muris kesayangan saat hari pertama mereka masuk sekolah. 

Canggung, karena saya masih belum menguasai medan anak-anak seumuran mereka, ditambah dengan kehadiran satu orang anak yang menangis karena tidak mau sekolah. Ooh what should i do? ._.

Ternyata memang tidak seseram yang saya bayangkan. Alhamdulillah hanya satu yang menangis tapi saya berharap mampu menyihir anak-anak untuk tetap memperhatikan saya walaupun dengan tambahan backsound tangisan itu. Syukurlah, jam demi jam saya telah terlalui dengan berbagai aktifitas, ekspresi, perasaan, keramaian hari itu. Harapan saya dan partner wali kelas saya di hari pertama adalah supaya memberikan kesan positif bersekolah untuk hari-hari berikutnya.

Hingga negara api menyerang dan mengubah segalanya. Iyaa. Di hari kedua kami sudah mendapatkan laporan bahwa ada seorang nanda yang dijahili temannya (sedikit usil atau minta perhatian ya). Saya sedih, ketika ditunjukkan oleh wali kelas sebuah tulisan dari wali murid karena nanda tersebut mengatakan, "Gini ya rasanya masuk SD, nggak enak." Walikelas saya langsung menanggapi dan mengonfirmasikan pada dua ananda yang bersangkutan. 

Laporan demi laporan tentang nanda dari teman-teman yang lainnya mulai beragam. Ternyata nanda tersebut cukup mengkhawatirkan, setelah di-cross check ke orang tua adalah karena lingkungan sekolah nanda ketika TK kurang kondusif sehingga nanda bersikap seperti itu yang berbeda dari sekolah TK islam teman-teman lainnya. Itu masih menjadi catatan dan PR bagi kami sebagai team teaching di kelas sebab saat ini masih musim libur semester ditambah libur hari raya Idul Fitri.

Namun secara umum kami tetap melakukan tebar pesona selama seminggu sebagai guru mereka yang siap mendampingi sehari-hari di sekolah. Berbagai kegiatan orientasi sebagai aksi tebar pesona untuk mengenal mereka lebih dekat antara lain diawali dengan ta'aruf, membuat kartu nama, muterin sekolah, toilet training, pengenalan clean up(wudhu), membuat afirmasi ramadhan dan serangkaian acara pondok ramadhan selama 2 hari cukup untuk merefresh mereka yang baru memasuki sekolah baru setelah TK. Berbagai kegiatan pondok ramadhan yang dikemas dalam bentuk perlombaan  diharapkan semakin menambah rasa sportifitas dan semangat berkompetisi.

Selama seminggu itu pula, saya merasa tidak hanya berusaha melakukan tebar pesona kepada anak-anak saja tetapi juga orang tua mereka sebagai wali murid. Karena anak-anak yang terbuka dan mempunyai kemampuan bahasa yang sudah terlihat, secara tidak langsung bercerita kepada orang tuanya tentang kejadian selama di sekolah. Orang tua juga mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi setiap persoalan anaknya di sekolah. Saya benar-benar banyak belajar hal baru dalam berinteraksi dengan anak-anak maupun orang tua walau hanya dalam waktu seminggi itu. Semoga saya bisa menjadi pembelajar yang cepat untuk meningkatkan kemampuan saya baik di dalam kelas maupun di luar kelas, baik dengan anak-anak maupun dengan orang tua. Aamiin :')

Wednesday, 16 July 2014

Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan bulan di antara sebelas bulan lain yang sangat dirindukan oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Bulan yang penuh dengan keberkahan di setiap detiknya jika diiringi tindakan kebaikan. Tahun ini, saya masih banyak belajar di bulan puasa. Belajar melakukan ibadah puasa dengan tidak hanya menahan lapar dan haus tapi juga menahan mata, mulut serta telinga dari segala marabahaya yang menimbulkan berkurangnya makna dari ibadah puasa.

Setiap ramadhan yang saya lalui secara bertahap untuk semakin memperbaiki diri perlahan untuk mencapai ke-istiqomah-an melakukan di sebelas bulan berikutnya. Ramadhan kali ini jelas berbeda dengan ramadhan tahun lalu yang masih menyandang status mahasiswa tingkat akhir 8 semester. Suasana ramadhan saat ini berbeda setiap harinya dibanding ramadhan tahun lalu yang senantiasa terbayang Tugas Akhir dan kelulusan. Tidak terasa sudah memasuki setengah perjalanan ramadhan yang saya rasa memang berbeda jika dibandingkan dengan melalui hari-hari ramadhan tahun lalu.

Yang paling penting adalah menikmati setiap perjalanan ramadhan ini dengan target-target hebat semata karena Allah dan untuk memperbaiki diri ini secara umum. Ramadhan berkah, hidup penuh hikmah insya Allaah.. 

Saturday, 5 July 2014

Syukur Hari Ini

Allah mempergilirkan siang dan malam. Banyak kejadian silih berganti mengisi hari-hari ini. Kejadian menyenangkan, mengasyikan, menggembirakan hingga wajah ini tak lepas dari topeng kebahagiaan. Mulut yang tak hentinya tersenyum, mata yang senantiasa berbinar, pipi yang terkadang memerah hingga mimik wajah yang tidak bisa menyembunyikan rona bahagia. Apakah masih terbersit di hati untuk memuji asma-Nya di setiap detik kebahagiaan itu?

Sedangkan ketika terjadi suatu peristiwa yang membuat hati ini sedih, kecewa, marah hingga perilaku ini seolah menjadi cermin nyata kemuraman, sesering mungkin senantiasa mengadu, melapor dan mengeluhkan pada Allah Sang Pembolak-balik hati. Benarkah begitu?

Jika kita merasa hidup selalu datar-datar saja, mari tengok ke kanan, kiri, atas maupun bawah. Siapa saja yang ada di sekitar kita? Adakah manfaat kehadiran atau ketidak hadiran kita di tengah-tengah mereka?

Masih pantaskah kita mengeluh dengan segala nikmat yang telah Allah berikan setiap detik nafas kehidupan ini. Terkadang kita merasa bisa hidup tanpa bantuan orang lain karena telah menyelesaikan segala pekerjaan sendiri tanpa butuh kehadiran orang lain. Namun sudahkah melihat lebih dalam kerendahan diri ini yang butuh penilaian atas hasil kerja yang kita lakukan. 

Syukur hari ini ketika masih ada orang di sekitar kita yang memberi masukan dan kritik membangun bukan menjatuhkan. Syukur hari ini ketika masih ada orang-orang saling memaafkan, saling mengingatkan kebaikan berada di lingkaran kehidupan kita. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari kata syukur sehingga menjadikan diri ini untuk selalu ingat bahwa tanpa Allah SWT, kita bukanlah manusia yang berharga.

Hingga orang-orang di sekitar kita yang telah mengisi interaksi hari-hari ini tiba-tiba meninggalkan kita, apa yang kita rasakan? Sebaik atau seburuk apapun sikap mereka pasti kita akan merasa kehilangan secara tidak langsung dan setiap kejadian itu akan menghasilkan nilai hidup tersendiri tentang syukur berinteraksi dengan orang-orang di sekiling kita setiap harinya.