Tuesday, 17 June 2014

Pelajaran Ketiga: Kelas 3

Masing-masing dari kita mempunyai orang yang berjasa dalam hidup. Jika ditanya siapa orang itu, setiap orang pasti memiliki jawaban yang berbeda. Tentu saja, karena kebiasaan kehidupan kita juga tidak sama. Tentang siapa orang yang dekat dengan kita setiap hari, tentang bagaimana keseharian kita, bagaimana peran orang di sekitar kita membangun jati diri kita.

Jika kita yang sudah memasuki usia dua puluhan tahun atau tiga puluhan tahun, sudah memiliki anak atau sedang menyusun rencana pernikahan maka kita pun harus siap untuk menjadi ayah atau ibu bagi anak-anak. Kata ayah atau ibu bukan hanya sekedar panggilan saja tapi kita harus menjiwai bagaimana menjadi seorang ibu atau ayah bagi anak-anak kita (nantinya). 

Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:
  • Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
  • Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
  • Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.
Ketika saya diberi jadwal observasi ke beberapa jenjang kelas, saya mulai memperhatikan bagaimana manajemen kelas di masing-masing jenjang. Jenjang kelas 3 memiliki pengondisian kelas yang berbeda ketika mereka di kelas 2 atau malah di kelas 1. Rata-rata umur siswa kelas 3 adalah 8 tahun dan merujuk kepada pengelompokan umur di atas bahwa ketika umur 8-14 tahun saatnya memperlakukan anak sebagai tawanan dalam artian menjaga perilaku mereka dengan kedisiplinan dan tanggung jawab. Penekanan untuk memberi arahan kepada mereka siswa kelas 3 harus sedikit kuat / tegas supaya mereka juga tidak bertindak semena-mena di umur-umur berikutnya. Nalar pemikiran mereka sudah jalan dan sesungguhnya jika diarahkan secara tepat, mereka sudah bisa membedakan mana sikap yang baik dan buruk.

Mereka yang sudah mulai paham istilah-istilah kata, mereka yang harus tuntas perkalian, mereka yang harus belajar tanggung jawab sesungguhnya, mereka yang harus banyak belajar tentang kejujuran, Mereka yang sudah menguasai musyawarah. Mereka yang seharusnya sudah paham tentang sholih mendengar dan santun berbicara. Semua itu tidaklah mudah tanpa adanya contoh dari guru masing-masing dan tentu saja pendampingan orang tua di rumah. Jika keduanya berjalan bekerja sama beriringan tidak akan sia-sia hasil dari memperlakukan anak sebagai tawanan.

Saya senang bisa berinteraksi serta belajar banyak hal dari anak kelas 3. Alhamdulillah bisa melihat hasil dari melatih anak kelas 3 untuk bernyanyi di acara Welcome Parent walau dengan sedikit kekhawatiran, anak-anak sudah menampilkan yang terbaik dan mau berlatih dengan maksimal meskipun dengan sedikit paksaan yang tidak berart :v

Monday, 16 June 2014

Andaikan Aku Punya Sayap

Satu .. satu ..
Daun - daun ..
Berguguran tinggalkan tangkainya ..

Satu .. satu ..
Burung kecil ..
Beterbangan tinggalkan sarangnya ..
Jauh jauh tinggi ke langit yang biru ..

Andaikan aku punya sayap, ku kan terbang jauh
Mengelilingi angkasa
Kan kuajak ayah bundaku
Terbang bersamaku, melihat indahnya dunia


Lagu anak-anak yang cukup fenomenal di zaman saya ketika itu (berasa tua sekali ya), mulai dipopulerkan oleh beberapa artis cilik dari ajang menyanyi di televisi swasta. Lagu-lagu seperti ini memang pantas mewarnai auditori anak-anak dibandingkan lagu-lagu dewasa --"

Saya berhasil melatih mereka (anak-anak kelas 3 sejumlah 13) untuk menyanyikan lagu ini :D
Teman-temannya yang lain pun menyukai lagu dengan lirik sederhana, mudah dihafalkan dan easy for listening

Saturday, 7 June 2014

Tanpa Status

Hingga detik ini pun, alhamdulillah dengan seizin Allah masih dapat menikmati takdir untuk menulis seperti malam ini. Suara makhluk-makhluk kecil penjaga malam masih saling bersahutan satu dengan yang lain, menambah ketenangan malam ini.

Suasana malam ini sama seperti suasana kemarin malam. Tidak berbeda dengan suasana malam di bulan kemarin ataupun tahun lalu. Hanya saja perjalanan waktu yang menjadikan setiap cerita di penghujung malam menjadi berbeda.

Suasana hati malam-malam ini pun sudah berada pada tingkat yang berbeda. Statusnya sudah mulai siaga. Siaga apa? Siaga menghadapi tantangan masa depan, siaga bekerja, siaga kuliah lagi dan siaga menikah *eh.
Jadi beginilah rasanya menjadi seorang warga negara Indonesia yang tanpa status pekerjaan. Pelajar / mahasiswa bukan, pekerja juga bukan. Semoga bisa segera mengakhiri masa-masa tanpa status yang jelas. Segera menjadi manfaat untuk orang lain, bukan wisudawan yang masih menikmati masa kejayaan ketika mahasiswa.

30.09.2013

**repost. Ini ceritanya lagi bersih-bersih blog yang zaman dahulu kala ketika beberapa hari setelah kelulusan dan alhamdulillah saya memiliki sedikit kesibukan dalam keseharian saya saat ini pasca dua bulan wisuda di PENS - ITS.