Monday, 26 May 2014

99 Cahaya di Langit Eropa

"Sekarang ini anak-anak makin melupakan sejarah agama. Aku ingin suatu saat nanti, dari awal kedatangan di dunia ini seluruh dunia tahu tiada kebanggaan yang berarti kecuali menjadi muslim. Aku ingin mereka lahir sebagai muslim karena mereka memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, merasakan dan mencintai Islam, bukan karena paksaan orang lain. Dan aku ingin mereka tahu bahwa dalam setiap waktu dalam masa depan mereka, mereka akan menemui orang-orang yang berbeda dalam hal kepercayaan, bahasa dan bangsa. Aku akan mengajarkan pada mereka bahwa perbedaan  terjadi bukan karena Tuhan tidak bisa menjadikan kita tercipta sama. Menciptakan manusia homogen itu bukan perkara sulit untukNya. Itu semua terjadi justru karena Tuhan Maha Tahu, jika kita semua sama, tidak ada lagi keindahan hidup bagi manusia. Jadi nikmatilah perbedaan itu" ujar Fatma begitu mantap.

Berikut salah satu cuplikan cerita yang ada di buku novel 99 Cahaya di Langit Eropa. Buku itu memberi penjelasan yang hampir detail sejarah-sejarah Islam di Eropa ketika zamannya namun dikemas dalam suatu dialog percakapan. Karena terkadang, mindset orang-orang terutama pemuda akan malas jika membaca SEJARAH jadi sang pengarang, Hanum Salsabila memberikan kesan tersendiri dalam mengenal sejarah Islam dan memberikan insipirasi dalam melakukan suatu perjalanan travelling kemanapun itu. Agar travelling bukanlah hanya sekedar travelling tapi juga mengambil segala hikmah perjalanannya.

"Mezquita - Al Hambra - Hagia Shopia - Kahlenberg - Blue Mosque - Alcazaba - Masjid Paris - Louvre - Museum Kota Wina "
"Paris - Vienna - Cordoba - Granada - Istanbul - Constatinople"

Beberapa nama tempat dan kota yang bersejarah itu sering disebut dan diceritakan di dalam novel. Ketika pembahasan mengenai Andalusia yang dalam sejarah islam bahwa kita kalah dengan kaum non muslim ketika itu setelah kita berhasil menguasainya. Namun segala sejarah kekalahan itu bukan hanya untuk disesalkan saja tetapi juga sebagai pelajaran untuk kita bagaimana belajar dai kemenangan dan kekalahan kaum muslimin.

Dalam novel tersebut juga lebih menyuarakan agar kita menjadi seorang agen muslim yang baik. Dikisahkan dalam cerita, ada tokoh yang bernama Fatma sebagai teman Hanum yang mentraktir makan empat orang non muslim karena mereka telah menjelek-jelekan bangsa Turki. Jadi, agen muslim yang baik adalah mampu memberikan sesuatu hal dalam kebaikan meskipun sebenarnya kita merasa sakit hati jika agama kepercayaan kita sedang dilecehkan. Semoga itu bisa menginspirasi kita semua dan kemana pun kaki ini melangkah semoga senantiasa berada pada jalur islam yang diridohi Allah. Aamiin.


No comments:

Post a Comment