Friday, 18 April 2014

Cinta Tanpa Definisi

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.

Euforia April 2014

Selamat Datang bulan April!

Ah seakan mengatakan selamat datang pada diriku sendiri. Bulan yang paling aku nantikan setiap tahun karena aku menyadari bahwa kesempatan hidupku semakin berkurang dan semakin bersyukur karena Allah memberi setiap kesempatan hidup hingga saat ini.

Tahun ini aku sudah membayangkan perbedaan euforia bulan April jika dibandingkan 4 tahun sebelumnya bersama ADT. Berbeda karena sudah melepaskan status mahasiswa dan di bulan April 2014 seakan membuka kedok siapa kita sesungguhnya (yang akan terdeteksi setiap 5 tahun sekali). Aku merasa sedikit terhibur karena ada yang memulai mengucapkan selamat kepadaku, berarti masih ada orang-orang yang mengingatku. Terima kasih Ibu, Bapak, Saudara-saudaraku, seorang teman yang jauh di sana dan tentunya ADT :')

Tapi kejadian itu juga menamparku bahwa aku bukan siapa-siapa untuk selalu diingat tentang segala hal pribadiku. Dan mengapa aku sibuk memikirkan berapa orang yang memberi ucapan selamat padaku dibandingkan memikirkan berapa banyak orang yang sudah aku bantu setiap hari, berapa banyak orang yang sudah aku repotkan dan aku sakiti hatinya secara sengaja maupun tidak sengaja setiap harinya. Aku juga jarang mengingat hal pribadi teman-teman lalu apakah aku pantas mengharapkan sesuatu hal yang lebih? Tentu saja tidak, karena itu sebanding dengan sikapku.

Semakin dewasa seharusnya semakin mendewasakan pikiranku juga bahwa aku harus mencapai target-target kebaikan lebih banyak dan lebih baik lagi. Target-target kehidupan yang lebih bermanfaat lagi bagi orang lain, bukan saatnya untuk hanya memikirkan diri sendiri atau kepentingan pribadi seperti sebagian anak ABG. Jika ditelusuri lagi setiap tingkah dan sikapku, aku menjadi malu sendiri karena masih belum bisa mencapai targetan kecil sehari-hari. Dan sungguh hari-hari di bulan April ini semakin membuatku untuk intropeksi diri terhadap segala hal yang telah aku lakukan sebelumnya maupun segala impian target yang terpampang di depan.