Tuesday, 31 December 2013

Pergiliran Siang dan Malam

"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan." [QS 31:29]

Begitulah kuasa Allah mempergilirkan siang dan malam. Menenggelamkan matahari untuk memperlihatkan bulan. Waktu berjalan setiap hari, tidak berhenti atau terulang kembali. Ketika mengingat di tanggal yang sama namun dengan tahun yang berbeda, aktivitas saya berbeda. Status saya pun telah berbeda. 

Bagaimana kabar iman saya di tanggal yang sama namun setahun yang lalu, dua tahun yang lalu. InsyaAllah, semoga Allah senantiasa meridhoi perubahan sikap saya untuk senantiasa memperbaiki diri sesuai dengan ajaran agama islam. Semoga Allah juga senantiasa memberikan kemudahan kepada orang-orang yang membantu saya untuk mendekati-Mu.

Tahun baru atau tidak, sudah sepantasnya setiap malam kita merenungkan apa saja aktivitas kita seharian. Bagaimana aktivitas kita ditambah amalan-amalan harian. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita masih dapat melihat matahari terbit maupun indahnya sinar rembulan. 

Kita mempunyai sejuta rencana tapi jika Allah tidak meridhoi satu pun rencana kita, apalah artinya.

Semangat memperbaiki diri! Semangat memantaskan diri di hadapan-Nya!


Friday, 27 December 2013

Merindukan Semburatnya

Lingkaran itu memang berbeda dari lingkaran hebat yang aku temui. 
Warna beragam sebagai ciri khas lingkaran itu.
Lingkaran dengan semburat warna.
Celupan tiap warna lingkaran itu indah.
Aku menikmati keberadaanku dalam lingkaran itu.
Pancaran energi tiap warna terkadang mempermainkan emosiku.
Kini warna-warna itu menyebar di belahan tempat lainnya.
Siap untuk membuat formasi lingkaran baru dengan warna khasnya.
Apakah pancaran energinya tetap sama?
Entahlah biarkan kilauannya yang akan menjawab.
Biarkan warna itu bersinar lebih terang.
Seterang manfaatnya untuk sekitar.
Sebesar kekuatannya bersinar dalam lingkaran baru.
Semburat warna  yang tidak padam meski dari kejauhan.
Dan hey aku tetap merindukan semburat warnanya.

Angkringan Surabaya, 26 Desember 2013

Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya

"Biasanya anak asli Surabaya sendiri nggak ngerti seluk beluk tempat-tempat di Surabaya.." XD

Lebih dari 20 tahun menghabiskan waktu hidup ini di Surabaya dan selama itu pula masih belum mengenal secara lengkap apa saja yang ada di Surabaya. Begitulah kira-kira yang biasa dialami anak Surabaya asli dengan tipe-tipe seperti saya. Kalo menurut bahasa murid-murid itu "terlalu sholih". 

Karena terlalu sholih, sampai tidak berniat untuk keliling di kota sendiri. Akibatnya sering nggak paham kalo ditanya tempat yang enak, alamat dan lain sebagainya ><

Saya punya tempat rekomendasi bagus apalagi untuk orang-orang yang hobi membaca buku atau sekedar ingin mencari tempat yang tenang untuk belajar atau berinternet. Bukan hanya di perpustakaan daerah atau perpustakaan provinsi yang ada di Surabaya saja. Karena tempat tersebut juga memiliki nilai sejarah dan fokus pada bidang-bidang ekonomi. 

Dimanakah itu? :)

Perpustakaan bank indonesia, dekat dengan kebun binatang surabaya. Gedung perpustakaan itu dulunya merupakan museum Mpu Tantular yang sekarang berpindah lokasi di daerah Sidoarjo. Perpustakaan tersebut tidak hanya menyimpan buku-buku bidang ekonomi saja tetapi ada buku anak-anak di dalam ruang baca khusus anak-anak dan ada juga komputer-komputer untuk sekedar surfing di dunia internet atau mungkin mengerjakan tugas. Jadi bisa sebagai tempat tujuan pembelajaran agar anak mempunyai hobi membaca di tempat yang bersejarah. Tempatnya sangat menyenangkan, cocok untuk yang hobi membaca di tempat yang menenangkan :)

Sudut Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya


Saturday, 7 December 2013

Jika Suatu Saat Nanti Kau Menjadi Ibu

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
Ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman. “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah.
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya.Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu.Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya,panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Monday, 2 December 2013

Observasi

Terhitung kira-kira dua minggu sejak tanggal 14 November 2013. Cerita baru dimulai sejak menjejakkan kaki sehari sebelumnya untuk interview, tes dan micro teaching. Alhamdulillah Allah memberi jalan di tempat itu, meskipun awalnya sempat pesimis karena hafalan Al Qur'an yang minimalis ><.

Selama dua minggu itu yang masih dibilang masa observasi harus benar-benar diseriusi. Karena partner saya ketika itu sempat tidak masuk beberapa hari. Jadi otomatis belajar sangat cepat untuk menyesuaikan dengan dunia anak-anak. Mengenai pendidikan anak pun, pengajar tidak hanya belajar mengenai bidang studi yang akan diajarkan saja tetapi juga psikologi anak, managemen anak, komunikasi anak dan lain sebagainya.

Beberapa hari masa penyesuaian, saya mencoba merekam secara cepat kebiasaan-kebiasaan anak-anak di sekolah. Mulai dari kurikulum pengajaran bagi jenjang kelas bawah (kelas 1 dan 2) yang secara tematik, sistem pembelajaran di kelas yang berbeda dengan sekolah pada umumnya, sistem reward atau punishment untuk anak-anak berupa bintang hingga beajar menyampaikan sedikit pengetahuan islam sesuai dengan kemampuan anak-anak dalam memahami bahwa islam itu agama yang mudah, menarik untuk diselami dan menyenangkan dalam melakukan hal-hal yang wajib maupun sunnah.

Masa-masa itu seakan saya juga dikader oleh anak-anak pada awal masuk. Saya belum paham tentang pengertian tanggung jawab pada anak, misalkan ketika mereka menumpahkan minuman, mereka harus bertanggung jawab membersihkan tumpahan minuman itu sendiri dengan cara mengepel. Ketika jadwal piket pun, mereka mengharuskan diri mereka untuk bersih-bersih kelas meskipun butuh diingatkan atau pancingan teman yang mempelopori membersihkan kelas terlebih dahulu. Dan yang paling parah dikader adalah ketika mereka "mengajari" saya apa yang seharusnya saya lakukan sesuai kebiasaan di SDIT Al Uswah. @.@

Antara gengsi, malu dan lain sebagainya tapi dilupakan saja karena saya meyakini belajar bisa diajarkan oleh siapa saja termasuk mereka, murid jenjang bawah. Setidaknya mereka cukup mengisi hari-hari saya untuk semakin merindukan mereka jika tidak bertemu. Kejadian tertukar nama pun masih sering saya alami hingga saat ini dan mencoba melakukan pendekatan ke masing-masing anak supaya hati kami saling terpaut. Saya masih merasa gagal jika di depan kelas belum berhasil mencuri perhatian mereka kecuali soal yang saya luncurkan untuk mereka kerjakan. Banting setir seorang teknik informatika yang berusaha mendalami dunia pendidikan anak-anak. Pembelajaran ini insyaAllah akan saya nikmati :)