Wednesday, 27 November 2013

Selamat Hari Guru Nasional!

Setiap orang bisa menjadi guru bagi orang lain dan insyaAllah setiap guru mempunyai hati yang mulia *berpikir positif*. Namun beliau-beliau yang menyandang status sebagai guru pengajar memang harus dihormati dan dihargai. Mereka sudah membagikan ilmu sebagai amal jariyah yang senantiasa mengalir jika sang anak didik tetap mengingat dan mengamalkan ilmu eksak maupun non eksak.

Beberapa tahun silam, pekerjaan sebagai guru merupakan pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Mungkin saat ini masih ada yang menganggap seperti itu. Memang jarang seseorang yang memiliki niat tulus untuk menjadi seorang guru dari awal *mungkin saya termasuk salah satunya T.T*. Tapi itu bukan menjadi suatu hambatan untuk melakukan proses menjadi seorang guru yang mengajarkan ilmu dengan hati dan pikiran yang sangat mulia.

Seorang yang ikhlas mendedikasikan ilmunya untuk orang lain insyaAllah juga akan diberi Allah balasan yang setimpal.Jika tidak di dunia, Allah akan menjamin di akhirat kelak insyaAllah.



Menjadi guru itu tidak mudah dan senantiasa dituntut untuk aktif, kreatif, terampil termasuk update. Disebabkan zaman yang sudah berubah, mengubah pola pikir anak dan juga orang tua. Orang tua yang memiliki anggapan bahwa jika anak di sekolahkan maka akan "aman". Padahal guru hanya fungsi penunjang sebab pondasi dan pengisi anak yang utama tetaplah orang tuanya.

Memiliki guru-guru yang menjadikan saya seperti ini, sangatlah patut untuk disyukuri. Hari ini pun, hati saya terenyuh mendengar celetukan murid kelas 2b ketika ditanya ingin menjadi apa, dengan polosnya menjawab, "Pengen jadi kayak Ustadzah *panggilan guru wanita di sekolah tempat saya mengajar*" T.T

Saya masih perlu belajar banyak, jika diberi kesempatan untuk mendalaminya lagi. Karena sebagai seorang guru tidak hanya mempelajari tentang bidang studi yang diajarkan saja tetapi juga mempelajari tentang psikologi anak, komunikasi aktif, manajemen kelas dan ilmu yang berkembang di tengah anak-anak saat ini.

Teringat juga kata-kata dosen ketika di semester 8. Dosen tersebut mengajar tidak hanya membahas tentang teori Sistem Informasi Geografis saja tetapi juga nasehat sebagai berikut "Menjadi pendidik itu menyenangkan bertemu dengan anak kecil atau anak yang masih muda dalam sekian tahun dengan orang yang berbeda sehingga merasa diri ini memiliki umur awet muda. Dan melihat anak didik yang jauh lebih sukses akan menjadi suatu kebanggaan jika kita masih tetap diingat."

Selamat hari guru nasional 25 November 2013. Tetaplah mengajar dan menginspirasi. 

Monday, 25 November 2013

Menjelang 2014

2014 masih satu bulan lagi sepertinya terlalu cepat jika ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan tahun depan 2014. Tapi gaungnya sudah terasa apalagi di televisi-televisi. Setiap stasiun televisi ditunggangi dengan suatu kelompok tertentu, pasti ada saja yang mengarahkan pada suatu kelompok. Jika sudah bersinggungan dengan kata pemilihan umum sepertinya ada beberapa pihak yang agak sensitif. *mungkin saya juga termasuk di pihak situ ><

Ya begitulah media di indonesia terutama media elektronik. Sehingga seringkali menggiring para pemirsa untuk mengonsumsi "iklan" layanan masyarakat dari mereka. Atau mencoba membuat opini yang secara tidak langsung mendukung kandidat dari suatu kelompok tersebut. Banyak trik yang sebenarnya sangat mudah untuk ditebak ke arah tujuan apa berita tersebut disiarkan.

Tidak hanya media elektronik sih, di jalan-jalan semakin banyak "iklan" dengan model yang berdasi terpampang sangat besar dan gagah. Cukup untuk menghiasi jalanan yang penuh lubang dan sering terkena banjir.

Namanya juga negara demokrasi yang memiliki slogan "Dari rakyat dan untuk rakyat". Itu merupakan hak setiap orang yang berkepentingan di dalamnya. Tinggal sikap kita yang menentukan Apakah kita menjadi pemirsa yang cerdas dalam melihat dan mencermati itu semua?

Friday, 1 November 2013

Bahagia itu Sederhana

Semua orang ingin merasakan selalu bahagia. Tapi kita sebagai manusia bukanlah siapa-siapa yang bisa seenaknya mengatur perasaan. Perasaan bahagia, cinta, sedih, kecewa dan lain sebagainya sering mengisi hari-hari kita. Semua itu datang dan pergi dengan segala keteraturan dari Allah SWT. Janganlah kita berpikir bahwa Allah semena-mena mempermainkan perasaan manusia. Karena memang Allah adalah pencipta kita dan segala sesuatu yang kita punya ini hanya titipan, termasuk perasaan kita. Yang intinya segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Allah yang Maha membolak-balikkan perasaan manusia. Karena segala sesuatu yang kita anggap baik belum tentu menjadi baik di hadapan Allah. Wallahu a'lam.

Hakikat bahagia dengan masih bersyukur atas segala yang kita rasakan saat ini merupakan hakikat bahagia yang sederhana. Kita boleh mempunyai target dalam bermimpi tetapi jangan sampai mimpi itu hanya sebatas berangan-angan. Bahagia yang sederhana itu ketika kita merasa berkecukupan. Cukup untuk berbelanja, cukup waktu untuk hobi kita, cukup waktu untuk bekerja dan berusaha serta cukup mencintai Allah dengan segala kerendahan kita sebagai manusia.

Bahagia itu sederhana, ketika kita akan mengusahakan permintaan orang tua dengan mengomunikasikan satu dengan yang lain melalui pertimbangan yang matang.

Bahagia itu sederhana, ketika melihat burung dan kupu-kupu terbang dari satu tempat ke tempat lain tanpa kita tahu pasti bagaimana perjuangan mereka untuk itu.

Bahagia itu sederhana, ketika melihat balita belajar berjalan tanpa lelah namun masih bisa tertawa disela tangis kesakitannya.

Bahagia itu sederhana, ketika tetap berjuang untuk segala kemungkinan masa depan yang masih sangat dirahasiakan oleh Allah.

Bahagia itu sederhana, ketika masih sanggup berbincang mesra dengan Sang Maha Pencipta setiap harinya.