Tuesday, 21 May 2013

Prioritas

Jika dilempar pertanyaan tentang pengertian prioritas apa jawabanmu? Setiap dari kita memiliki jawaban yang berbeda sesuai kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Yang saya pahami sesuai dengan pengetahuan dasar saya adalah suatu pilihan untuk mendahulukan suatu hal yang penting dan mendesak dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam satu hari begitu banyak agenda atau kegiatan yang menghabiskan waktu 24 jam. Lalu dari berbagai kegiatan tersebut manakah yang paling banyak mengandung makna penting dan mendesak? Tentu kita sendiri yang bisa menilai.

Saya sendiri masih belajar mengimplementasikan makna prioritas itu dalam kehidupan sehari-hari yang *mulai* mengakrabi Tugas Akhir. Ah, sudah tinggal menghitung hari saja. 

Terkadang sebagian dari kita sangat mudah untuk melakukan suatu perencanaan bahwa ada satu hal atau beberapa yang harus diprioritaskan. Namun pada kenyataannya godaan-godaan kecil berdatangan untuk mengacaukan rencana prioritas sebelumnya sehingga kepentingan yang mendesak dan penting, posisinya tergantikan dengan hal yang lain.

Apapun yang menjadi prioritas untuk memilih suatu hal juga diiringi dengan niat dan komitmen. Karena waktu dalam sehari hanya diberi kesempatan 24 jam maka kita harus pintar untuk mengatur suatu prioritas. Dan seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk memilih suatu prioritas kebaikan?

Saya juga masih tahap pembelajaran menuju proses pemilihan dan pelaksanaan prioritas yang benar. Karena di dalam hidup kita juga tidak pernah mengetahui hal spontan apa yang akan terjadi keesokan harinya. Tanpa ada persiapan dan perencanaan yang matang, rusak semua bayangan yang menjadi prioritas utama untuk dipilih dan diselesaikan terlebih dahulu. Selamat belajar dan menjaga prioritas hidup!



Wednesday, 15 May 2013

Merindukan Embun

Merindukan embun? Ya, sepertinya aku merasakannya. Apakah hanya perasaanku saja semenjak hari itu dan hari terakhir agenda itu mendung mulai sering menyapa setiap pagi berikutnya. Dan hari-hari selanjutnya terasa berbeda semenjak tidak menyandang amanah itu. Tidak lagi menyempatkan diri untuk mengunjungi markas dengan tujuan dan maksud apapun. Terutama setelah jadwal 'melingkar' juga ganti menjadi pagi hingga dzuhur dan dilanjut langsung ke kampus untuk ke lab. Sangat merindukan berkumpul dengan orang-orang hebat yang istiqomah berjuang di jalan Allah selama kuliah. Berada bersama mereka merasakan semangat ruhani tersendiri. Benarlah jika beberapa lirik lagu Opick menyatakan, "Berkumpulah dengan orang soleh.. "
Karena lingkungan secara tidak langsung akan membentuk suatu kepribadian. Seburuk apapun lingkungan itu, pasti ada kumpulan minoritas yang saling menguatkan satu dengan yang lain terutama yang terikat, bertemu dan berpisah karena Allah SWT. 
Seperti yang difirmankan dalam Al Quran surat Al Anfal ayat 63 dengan terjemahan, "dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) [622]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana."
Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan dengan apa yang diperjuangkan semata untuk Allah SWT.
Ntah lupa, ini embun kapan:
“Barangkali kita harus selalu berkaca. Bukan untuk mengagumi diri sendiri, karena kita bukanlah Narcissus, yang mati tenggelam karena pesonanya sendiri. Bukan juga untuk menengok masa lalu. Karena pantulan cermin adalah diri kita saat ini. Hanya untuk melihat lebih dalam. Secantik apa perilaku kita, seindah apa senyum kita, dan setebal apa iman kita hari ini,” (Unknown)
Saat itulah bahwa mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika melihat cermin kemudian timbul bayangan yang rusak namun bukan bayang-bayang yang dibenahi tapi diri ini yang sedang mengaca padanya.

Saturday, 11 May 2013

Amanah itu ..

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat” (QS. An-Nisa: 58)
Kata “amanah” sering diartikan al wadi’ah/ titipan dan al wafa’/ kesetiaan. Sering pula kata amanah diartikan sebagai pelaksanaan tugas oleh seseorang.  Amanah dapat bermakna luas, ia menjangkau hal-hal yang bersifat materi maupun non materi. Tutur kata adalah amanah. Melaksanakan hak-hak Allah adalah amanah. Berbuat baik kepada sesama manusia adalah amanah. Hal ini terlihat jelas dari pesan penagakan hukum dengan adil sebagai bagian dari amanah.
Sesungguhnya sifat amanah itu adalah konsekuensi dari iman, dan sebaliknya sifat khiyanah adalah salah satu dari tanda kufur dan nifaq. Seperti yang pernah Rasulullah SAW ungkapkan dalam sabdanya:
“Tidak beriman seseorang yang tidak amanah, dan tidak beragama seseorang yang tidak bisa dipegang janjinya” (Musnad Imam Ahmad: 21/231)

Seseorang yang kehilangan sifat amanah dari hatinya maka ia akan menjadi pelanggan dusta dan khianat. Dan seseorang yang telah diidentikkan dengan dusta dan khiyanat maka ia telah berada dalam shaf/barisan orang-orang munafiq –na’udzubillahi min dzalik.

Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW menjadikan amanah sebagai salah satu tanda-tanda kiamat.
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-berkata: Rasulullah –shallallahu alaihi wasallama- bersabda: “Jika amanah sudah disia-siakan maka tunggulah datangnya kiamat”. Ada yang bertanya:”Bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu Wahai Rasulullah? Jawab Rasulullah: “Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang tidak ahlinya, maka tunggulah kiamat” (HR. Bukhari)

Amanah memiliki ruang lingkup dan jangkauan yang sangat luas, antara lain:
 
1. Amanatul-fithrah
Allah SWT telah menciptakah fitrah manusia ini lurus dan sejalan dengan sunnah-sunnah kauniyah. Fitrah manusia bersaksi tentang wujudullah dan ke-Esa-annya. Fitrah manusia meyakini adanya kehendak tunggal dan mutlaq, ialah kehendak Yang Maha Pencipta. Amanah ini sering disebut sebagai “al amanatul kubra/amanah besar” yang setiap muslim berkewajiban memelihara agar tidak terjadi penyimpangan dan penyelewengan.

2. Amanatut-taklif asy syar’iy
Amanah ini adalah kepatuhan kepada perintah-perintah Allah dan tunduk kepada aturan-Nya dengan total. Orang yang tidak menjaga amanah ini digolongkan kepada kelompok orang yang zhalimun linafsih/menzhalimi diri sendiri, jaahilun bihi/bodoh dengan dirinya sendiri. Dan orang yang tidak mengenali dirinya sendiri pastilah tidak akan mengenali Rabb/Penciptanya.

Cuplikan Terjemah Surat Al Muddassir

11.04.13

Itu tanggal kejadiannya tapi baru bisa mempostingnya sekarang. Tak apalah, tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu tapi jangan disalah artikan ya. Sekali lagi menyempatkan diri untuk hadir pada Majelis Jejak Nabi di Masjid Al Falah Surabaya sebulan sekali, temanya kali itu adalah terjemahan beberapa ayat surat Al Muddassir. 

 Let's check this each ayat:


يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
"Wahai orang yang berselimut!". 
Memiliki makna bahwa dakwah itu dilakukan terus menerus, dakwah hingga mati *hanya itu yang saya dengar karena saya datang terlambat, maaf*

قُمْ فَأَنذِرْ 
"Bangunlah, lalu berilah peringatan"
Diterjemahkan per kata   قُمْ
yang memiliki arti tegak, berdiri. Bahwa dakwah itu berkaitan dengan nilai-nilai. Prinsipnya bahwa kemenangan akan ada jika nilai-nilai Allah tetap bersama kita sedangkan kekalahan itu jika kesenangan akan meninggalkan nilai-nilai yang harus ditegakkan.
فَأَنذِرْ
Bahwa kita tetap memberi peringatan kepada manusia sebagai penyeru serta pelita yang bercahaya. Peringatan itu berbeda dengan kabar gembira. Karena peringatan bisa jadi sebagai ajakan penting sekaligus seruan. Peringatan itu juga memperingatkan diri sendiri secara serius. Maka perbaikilah diri sendiri dan ajaklah sesama.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
"Dan agungkanlah Tuhanmu" 
Bahwa peringatan agar kita mengagungkan Allah SWT. Takbir sebagai tanda bahwa manusia adalah makhluk lemah. Jangan sampai karena dakwah hingga menganggap diri ini besar. Tidak boleh seorang da'i atau penyeru kebaikan merasa dapat memberi hidayah karena hidayah itu datangnya dari Allah dan seorang penyeru hanya sebagai perantara saja.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
"Dan bersihkanlah pakaianmu"
Hendaknya kita memperbaiki tampilan agar tidak merendahkan ilmu yang dimiliki. Diibaratkan bahwa orang yang mencederai janji adalah orang yang suka mengotori pakaiannya sendiri. Dalam hal berpakaian itu memerhatikan antara patut atau tidak patut serta terpuji atau tercibir :) 


وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
"Dan tinggalkanlah segala perbuatan keji" 
Karena satu buah dosa dapat mengantarkan kepada dosa yang lain. Beberapa akibat dari dosa seperti noda kotor di wajah, kotornya hati, kesedihan, kelemahan badan, rusaknya akal sehat dan lainnya. Selain itu pernahkah kita memikirkan akibat dari dosa? Ya akan membuat Allah berpaling, merusak ukhuwah juga.
Salah satu contoh kisahnya di zaman Rasul adalah ketika perang Uhud terdapat kaum yang mundur tidak ikut berperang karena dosa menciutkan nyali untuk berjuang. *Berjuang ini bukan memiliki makna bahwa harus berperang. Itu zaman dulu, sekarang zaman modern yang harus diperangi adalah berbagai pemikiran yang menyimpang dari ajaran islam. Itu yang paling penting.*

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ
"Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak"
Bahwa kita harus sadar sesadar-sadarnya jika jalan dakwah itu pahalanya di akhirat tidak semata di dunia. Di dunia ini sebagai cicipan sedikit seperti sebuah berita gembira bagi orang mukmin penyeru kebaikan.


Sedikit rangkumannya, semoga bermanfaat terutama untuk diri sendiri. Kajian yang istimewa setiap bulannya tiap pekan kedua di Surabaya bersama Ust Salim A. Fillah. Buat yang penasaran, silahkan datang dan menikmati shalat isya di Masjid Al Falah sebelum majelis dimulai :)