Tuesday, 9 October 2012

Keputusan Akhir Ada di Tangan Kita

Oleh Aliya Nurlela*)

Sehebat apapun motivasi dari luar, jika tak ada niat dari dalam diri sendiri untuk berubah, tak akan mengubah apapun. Orang lain hanya sebatas memberi saran, masukkan, dukungan termasuk kritikan. Akan tetapi semua akan kembali kepada kita. Seperti apa kita menyikapinya. Akankah disikapi secara bijak, lalu direnungkan dan dipraktikkan. Ataukah sebaliknya. Semua kembali pada diri kita. Sebab, keputusan terakhir ada di tangan kita.
Ada sebuah kisah terkenal, tentang seorang bapak dan anak yang menuntun keledai. Sang bapak ingin menunjukkan kepada si anak tentang bagaimana caranya menyikapi komentar orang lain. Berangkatlah mereka berdua, berjalan kaki dengan menuntun keledai. Saat melewati sekelompok orang, mereka berkomentar, “Aneh sekali, bawa keledai bukannya dinaiki. Koq malah dituntun berdua.”
Akhirnya, bapak tersebut menyuruh anaknya naik ke atas keledai dan bapaknya yang menuntun. Naiklah si anak. Saat melewati sekelompok orang lagi, mereka berkomentar, “Anak tidak tahu diri, orangtua disuruh menuntun keledai yang ia naiki. Harusnya bapaknya yang naik keledai.”
Lalu bapak tersebut menyuruh anaknya turun dan naiklah ia ke atas punggung keledai. Kali ini si anaklah yang menuntun. Lewatlah mereka di hadapan sekelompok orang. Mereka berkomentar juga, “Orangtua tak tahu malu, anak sendiri disuruh jalan kaki dan menuntun keledai. Harusnya mereka naik keledai berdua.”
Bapak tersebut mengikuti ucapan orang-orang yang berkomentar. Disuruhlah si anak naik keledai di belakangnya, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Ketika melewati sekelompok orang, mereka berkomentar lagi. “Ya ampun, keledai kecil dinaiki dua orang. Itu namanya penyiksaan terhadap binatang.” Demikianlah.
Dari kisah di atas, kita tahu bahwa yang namanya komentar atau pendapat terhadap apa yang kita kerjakan, akan selalu ada. Baik maupun buruk perbuatan kita selalu ada yang menilai, dan berpendapat dari sudut pandang masing-masing. Demikian pula, saat kita tak bersemangat, selalu ada orang-orang yang memberikan motivasi atau sumbangan saran. Komentar, pendapat, motivasi dari luar selalu ada mewarnai dalam perjalanan hidup kita. Kita akan mengambil pendapat-pendapat tersebut, atau mengabaikannya, itu terserah kita. Kitalah pemutus perkara atas masalah yang kita hadapi. Kitalah penentu keputusan akhir atas semua pendapat tersebut. Akan dibawa kemana hidup kita dan seperti apa, semua terserah pada diri sendiri. Sekali lagi keputusan akhir ada di tangan kita.
Jika bapak dan anak dalam kisah tersebut mengikuti setiap pendapat orang tanpa pernah menyaring setiap pendapat yang masuk, lalu menentukan sesuai keyakinan yang dipegangnya, maka selamanya akan berada dalam kebingungan. Semua pendapat seolah benar, tapi ketika dipraktikkan ternyata masih belum sesuai juga. Nah, lho? Harus memiliki ukuran baik buruk, lalu menyaring pendapat dan niat kuat melakukan. Jika sebelumnya salah, ada niat kuat mengubahnya untuk menjadi lebih baik.
Saya pun pernah menyengaja ‘menampung’ pendapat, untuk mengetahui sejauh mana pendapat orang lain terhadap niat yang akan saya lakukan.
Akhir-akhir ini, saya merasa tubuh semakin ‘berbobot.’ Ada gejala ‘membalon’, he-he-he. Rasanya tidak nyaman. Terutama saat mencari pakaian yang sesuai ukuran. Selalu tidak ada yang sesuai. Ujung-ujungnya harus menjahitnya ke tukang jahit. Padahal, hasilnya belum tentu memuaskan. Nah, apa yang harus saya lakukan? Apakah membiarkan tubuh semakin ‘lebar,’ atau diet?
Baiklah, saya coba meminta pendapat dari orang-orang terdekat. Hitung-hitung survei sederhana. Pertama kali yang dimintai pendapat adalah seorang teman perempuan yang berbadan kurus. “Bagaimana pendapat Anda, jika saya diet?” tanya saya serius. Jawabnya, “Wah, tidak usah diet Mbak. Gemuk itu kelihatan segar dan berisi. Saya malah ingin gemuk.” Oh ya? Itu pendapat dari orang kurus (ssst… bukan langsing. Kurus dan langsing berbeda).
Baiklah, pendapat berikutnya. Ada yang menyarankan naik turun tangga belasan kali dalam sehari, angkat beban, lari pagi, kurangi makan, jangan makan gorengan, jangan minum yang manis-manis, termasuk jangan makan nasi di malam hari. Tak kurang-kurang ada yang menyodorkan resep minum jus sayur tanpa makan nasi selama seminggu. Pendapat mayoritas adalah, “Sudahlah, jangan diet. Gemuk itu pertanda sehat dan bahagia.” Hmm… benarkah? Bukankah gemuk itu artinya tidak ideal? Sesuatu yang tidak ideal, bukankah itu pertanda tidak sehat? He-he-he. Bertanya sendiri dan dijawab sendiri.
Nah, bagaimana pendapat suami? “Lebih baik tidak usah diet atau mengecilkan badan dengan cara apapun. Nanti kalau mudik ke rumah mertua, dianggap suaminya tidak merawat. Kok anaknya kurus…” Hi-hi-hi… ini versi menantu takut mertua.
Sudah terkumpul banyak pendapat. Ternyata beragam sekali. Jika semua pendapat itu diserap begitu saja tanpa disaring, lalu dipraktikkan satu persatu, maka tubuh kitalah yang menjadi percobaan. Kita pula yang merasakan akibatnya, apalagi jika menyerap cara diet para seleberitis yang terkesan ekstrem. Ada yang menempuhnya dengan cara sedot lemak, abdominoplasty, akupunktur dan lain-lain.
Demikian pula, saat harus mengambil pendapat tidak perlu diet. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya juga benar. Wah, jika dibiarkan tanpa upaya apapun tubuh saya bisa semakin mengembang, he-he-he. Dengan mencoba diet dan menerapkan salah satu pendapat orang lain saja, belum ada perubahan yang berarti. Saya ambil pendapat minum jus sayur herbal instan selama seminggu. Harus menahan lapar setiap hari dan mual saat meminumnya. Lalu hasilnya? Anggap saja, berat badan sebelum diet 70 kilogram. Nah setelah minum jus sayur, turun setengah kilogram. Jadi berat sekarang adalah 69,5 kilogram. Hanya setengah kilogram? Hmm… kalau dibulatkan, tetap saja 70 kilogram. Bukan begitu? Hi-hi-hi…. Itu artinya, belum ada perubahan berarti.
Di sinilah tugas kita menyaring dan menimbang, lalu mengukur baik-buruknya sesuai keyakinan yang kita pegang. Setelah itu pilih mana yang terbaik dan berniatlah yang kuat untuk melakukan.
Saya dengarkan pendapat ahli gizi yang menerapkan diet dengan memutar dua kalori yaitu karbohidrat dan protein yang harus dikontrol asupannya. Caranya dengan menerapkan makan empat kali sehari, dengan menu yang telah diatur. Melaparkan diri, sangat tidak dianjurkan dalam diet ini. Menurutnya, karbohidrat sangat dibutuhkan tubuh. Jika kekurangan karbohidrat maka tubuh akan lemas dan pusing.
Baiklah, saya ambil satu pendapat yaitu pendapat ahli gizi. Lalu berniat dipraktikkan. Mulailah praktik mengikuti tahapannya dan sebelas hari kemudian, 7 kilogram telah ‘melayang.’ Itu artinya ada perubahan meskipun lambat.
Nah, sahabat FAM, yang saya maksud dalam tulisan ini bukan berarti diterapkan dalam hal menurunkan berat badan saja, akan tetapi berlaku dalam segala hal. Bahwa sehebat apapun motivasi dari luar, jika diri kita tidak ada niat untuk berubah, maka tidak akan pernah berubah. Keputusan akhir ada di tangan kita!
*) Penulis adalah Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
http://famindonesia.blogspot.com/2012/10/keputusan-akhir-ada-di-tangan-kita.html

No comments:

Post a Comment