Saturday, 27 October 2012

Melirik Prospek Keguruan


Saat ini,  siswa SMA/SMK mempunyai banyak pilihan jurusan di perguruan tinggi sebagai jembatan cita–citanya jika ingin melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi. Jurusan keguruan mulai dilirik oleh orang tua dan siswa sebagai jurusan yang patut dipertimbangkan. Tidak lagi seperti dulu yang menjadikan bidang keguruan itu di nomor kesekian. Memilih jurusan keguruan karena memang tidak ada tempat atau tidak diterima di jurusan yang lebih bergengsi seperti kedokteran, teknik, ekonomi dan lainnya. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Padahal seharusnya siswa dan orang tua itu sadar, siapakah sosok yang berjasa di sekolah mulai dari TK hingga SMA/SMK. Apa penyebab jurusan keguruan kurang mendapat minat dan perhatian di kalangan masyarakat?
Karena kenyataannya saat itu, prospek pendapatan seorang pendidik masih rendah dibandingkan seorang pekerja kantoran. Hal itu yang menyebabkan orang tua ragu memasukkan anaknya di jurusan keguruan dengan biaya hidup yang kurang terjamin. Sehingga jika harus masuk ke bidang keguruan, itu pun kurang lebih dengan alasan, tidak mempunyai pilihan lain agar siswa dapat melanjutkan kuliah. Tidak hanya alih jenjang dari SMA ke universitas bidang keguruan saja yang dipandang sebelah mata, lulusan mahasiswa terbaik dari Indonesia jarang mengabdikan diri menjadi seorang profesor, master maupun doktor di sebuah unversitas/institut lagi-lagi dengan alasan pendapatan sebagai seorang pendidikan tergolong rendah jika dibandingkan bekerja di perusahaan multinasional.
Bagaimana jika profesi pendidik hanya digunakan sebagai ajang coba-coba? Apa yang terjadi jika menjadi seorang pendidikan masih terganjal karena keterpaksaan dan kurang menikmati profesi tersebut? Seperti apa anak didik yang dihasilkan? Bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depannya tanpa pendidik yang berkualitas?
Hal tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat dan pemerintah sama-sama harus menyadari bahwa pendidikan perlu di nomor satukan. Sekarang, pemerintah mulai sedikit membuka mata di bidang pendidikan meskipun masih dianak tirikan dengan bidang ekonomi maupun pariwisata. Jika masyarakat ingin agar calon generasi bangsa mendapat pendidikan yang layak, perlu pembenahan dari sisi seorang pendidik. Pembenahan selain dari segi pendapatan juga mental seorang pendidik.
 src img: http://info125.blogspot.com

Thursday, 25 October 2012

Atmosfer Hari Raya Kedua (Idul Adha)

Lingkungan memang mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan kita. Sehingga bersyukurlah kita jika berada di lingkungan yang baik, terkondisikan untuk hal-hal baik dsb. Sebagai seorang aktifis, terkadang akan sering bergabung, berkumpul dengan sesama rekan aktifis. Dan lingkungan itu sangatlah terkondisikan terlebih menyandang aktifisnya rohis. Bagaimana jika berada di lingkungan yang kurang mendukung aktifitas amalan2 sunnah maupun wajib? Apakah kita masih bisa mempertahankan keyakinan kita? Hanya kita sendiri yang bisa menjawab.. :) 

Berada di lingkungan yang mendukung saja, masih banyak godaan dari diri sendiri untuk tidak melaksanakan amalan2 wajib maupun sunnah. Jadi jangan penasaran untuk coba-coba ya.. ;)

10 Dzulhijjah yang dirayakan semua umat muslim sebagai hari raya idul adha, pemaknaannya tidak lepas dari lingkungan sekitar. Teman-teman aktifis rohis? Bukann.. Tetapi teman-teman kelas, ya ADT..

Kali ini ADT program bagi-bagi dalam rangka berqurban (lebih tepatnya latihan berqurban). Kenapa latihan berqurban? Karena untuk menyumbang hewan qurban itu 1 orang (mewakili keluarga) untuk 1 hewan kurban, bukan banyak orang untuk 1 hewan kurban itu sama saja dengan sedekah. Namun yang ditekankan adalah tidak ada penolakan besar-besaran di dalam satu kelas untuk bersedekah. 

Tuesday, 9 October 2012

Keputusan Akhir Ada di Tangan Kita

Oleh Aliya Nurlela*)

Sehebat apapun motivasi dari luar, jika tak ada niat dari dalam diri sendiri untuk berubah, tak akan mengubah apapun. Orang lain hanya sebatas memberi saran, masukkan, dukungan termasuk kritikan. Akan tetapi semua akan kembali kepada kita. Seperti apa kita menyikapinya. Akankah disikapi secara bijak, lalu direnungkan dan dipraktikkan. Ataukah sebaliknya. Semua kembali pada diri kita. Sebab, keputusan terakhir ada di tangan kita.
Ada sebuah kisah terkenal, tentang seorang bapak dan anak yang menuntun keledai. Sang bapak ingin menunjukkan kepada si anak tentang bagaimana caranya menyikapi komentar orang lain. Berangkatlah mereka berdua, berjalan kaki dengan menuntun keledai. Saat melewati sekelompok orang, mereka berkomentar, “Aneh sekali, bawa keledai bukannya dinaiki. Koq malah dituntun berdua.”
Akhirnya, bapak tersebut menyuruh anaknya naik ke atas keledai dan bapaknya yang menuntun. Naiklah si anak. Saat melewati sekelompok orang lagi, mereka berkomentar, “Anak tidak tahu diri, orangtua disuruh menuntun keledai yang ia naiki. Harusnya bapaknya yang naik keledai.”
Lalu bapak tersebut menyuruh anaknya turun dan naiklah ia ke atas punggung keledai. Kali ini si anaklah yang menuntun. Lewatlah mereka di hadapan sekelompok orang. Mereka berkomentar juga, “Orangtua tak tahu malu, anak sendiri disuruh jalan kaki dan menuntun keledai. Harusnya mereka naik keledai berdua.”
Bapak tersebut mengikuti ucapan orang-orang yang berkomentar. Disuruhlah si anak naik keledai di belakangnya, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Ketika melewati sekelompok orang, mereka berkomentar lagi. “Ya ampun, keledai kecil dinaiki dua orang. Itu namanya penyiksaan terhadap binatang.” Demikianlah.

Sunday, 7 October 2012

Learning by doing

Final Project ~
In the 5th of the week after holiday. What the percent of progress do you have?

Keywords: Nutrient, Kidney, Android..

Bismillah..
When my study not only learn academic but also learn something special..
Love media, love healthy and..  love android? :D
But i must on going 107!!

QS. Muhammad:7
QS. At-Taubah: 105

Dan Bersamalah, Di Sini

malam berlalu,
tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
kepada mereka
yang wajahnya mengingatkanku akan surga
wahai fajar terbitlah segera,
agar sempat kukatakan pada mereka
"aku mencintai kalian karena Allah."
- 'Umar ibn Al-Khaththab -

Dalam dekapan ukhuwah, yang gersang menjadi subur ataupun yang subur menjadi hancur, hilang tak berbekas. Mewaspadai setiap dekapan ukhuwah yang saling menjatuhkan satu dengann yang lain. Karena mengingatkan dalam kebaikan dan kemungkaran itu penting!

Selamat menyibukkan diri dalam kesibukan masing-masing. Silahkan bekerja, kuliah, amanah sosial, tugas akhir dan tetapkan tujuan hanya untuk Allah SWT..

Wednesday, 3 October 2012

Benarkah Tradisi Tahunan?

Pemuda itu rentang umurnya mulai berapa sampai berapa? Jadi pemuda itu jika diciptakan sempurna, fisiknya insyaAllah masih kuat, umurnya muda, pemikirannya masih terbuka. Apa kabarnya pemuda Surabaya, pemuda Indonesia. Pemuda yang diharapkan menjadi aktor perubahan bangsa. Apa kabar untukku dan untukmu yang merasa muda?

Sibuk belajar, sibuk memperbaiki diri, sibuk mengikuti berbagai kegiatan sosial, sibuk bermain atau ... sibuk mencari kesalahan hingga terjadi perlawanan. Perlawanan yang terjadi antar sekolah berdekatan sangat ramai diblow up media massa. Belum tahu alasan pasti mengapa tindakan tawuran itu tetap berlanjut dari tahun ke tahun..

Menjadi introspeksi bersama bahwa sistem pembelajaran di rumah yang dilakukan oleh orang tua sangat jauh lebih penting. Karena orang tua menjadi teladan pertama bagi anak. Sehingga jika hanya mengandalkan pihak sekolah, itu tidak adil, tidak seimbang dan orang tua terkesan lepas tanggung jawab.

Pendidikan pertama yang harus ditanamkan kepada seorang anak adalah pendidikan agama, tanpa pondasi agama yang kuat seorang anak tidak mempunyai pegangan yang kuat dalam bertingkah laku. Karena dengan landasan ibadah, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala dari sah atau tidaknya shalat tapi esensi dari shalat yang dilakukannya.

Membahas masalah pemuda, tidak akan pernah ada habisnya. Tinggal action yang berani ambil resiko, postif, tidak menyalahi syari'at islam insyaAllah akan menghasilkan pemimpin hebat.

Pengen keren, pengen dibilang gaul yang tidak membahayakan. Ikut aja ROHIS, tinggal digali semua potensi yang kita punya dan kembangkan. Karena Allah pasti memberikan kita suatu ruang gerak dengan batasan yang tidak menyulitkan, jika kita memahaminya.

Wallahu'alam..