Wednesday, 17 August 2011

^Jalan Cinta para Pejuang^


“Hari – hari kita pada umumnya memprioritaskan emosi yang dominan cinta dalam jiwa. Jika kita ingin mengubah segala sesuatu dalam jiwa, tentu diawali dengan mengubah cinta, jiwa dan dunia.”
-       Salim A. Fillah –

Mencintai mempunyai arti yang luas, apakah selalu mengorbankan jiwa dan raga demi orang yang dicintai dengan menghilangkan akal sehat? Tentu saja tidak.
Dalam cinta ada saat menikmati kesusahan, kegelisahan dan kesedihan. Jiwa ini seperti cermin, jika kita diberi rangsangan untuk tersenyum pasti perasaan kita bahagia. Jika kita ingin bahagia awali agar hati dan jiwa kita untuk selalu tersenyum membahagiakan diri sendiri dan orang lain.
Sudah saatnya kita menaklukan emosi serta menaklukan hawa nafsu. Terkadang kita mencintai seseorang dengan menggantungkan kebahagiaan untuk selalu bersamanya. Namun di saat dia tidak memberi kesempatan pada kita, itu menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena mencintai ataupun karena cinta itu sendiri tapi karena kita salah meletakkan kebahagiaan cinta itu dalam arti kebersamaan. Jalan cinta yang harus diperjuangkan adalah pergulatan jiwa untuk menaklukan cinta serta komitmen dalam menapaki jalan kesetiaan dan pengorbanan.
Kata ‘menaklukan’ sangatlah hebat, kita harus mengenali apa yang akan kita taklukan. Setelah mengenali, barulah kita paham apa saja yang dibutuhkan dalam menaklukan tujuan kita itu. Selain kebutuhan secara jasmani, kebutuhan spiritual sangat dibutuhkan dalam menapaki perjalanan untuk mencapai tujuan. Kita boleh saja percaya adanya keajaiban tapi jangan bergantung pada keajaiban karena ada yang lebih memegang kendali agar keajaiban itu terjadi yaitu Allah SWT.
Dengan apa kita menaklukan dan menghadapi musuh dunia? Tentu saja dengan cinta. Karena kita belajar apa itu cinta  dari segala sesuatu yang ada di bumi.
Tujuan yang jelas tentang apa yang ingin kita taklukkan sangatlah penting, dengan begitu kita akan tetap mempunyai arahan yang pasti meskipun beragam pilihan jalan menghadang perjalanan kita. Namun janganlah kita dikalahkan oleh hawa nafsu dengan menghalalkan segala cara, karena Allah akan memberi kemudahan atas visi kita sekecil apapun itu.
Jika tujuan pertama telah tercapai, janganlah kita merasa puas berhenti di pemberhentian awal. Masih ada pemberhentian yang belum kita capai dan semua itu dibutuhkan kesabaran serta tekad untuk meneruskan. Karena terkadang kemampuan untuk menunda lebih besar dari pada kemampuan kita untuk meraih cita – cita kita. Dan kita berlatih untuk taat meski kondisi – kondisi yang kita lalui tidaklah mudah.
Dengan cinta di koridor yang benar, akan kita nikmati perjalanan mencapai cita dan harapan Ilahi.
“Ya Allah letakkanlah dunia dalam genggamanku jangan letakkan dalam hatiku..” 

No comments:

Post a Comment